Clock

Perempuan dan Nilai Tawarnya


oleh: Ami Oktayusva

  Kebanyakan perempuan seringkali mengeluhkan "sedikit baju" atau "tidak punya baju" saat hendak bepergian. Pada kenyataannya, baju yang dimilikinya di lemari sudah sangat banyak bahkan overload. Memang perempuan berbeda dengan laki-laki dalam konteks ini, pakaian yang digunakan di saat ke pesta itu berbeda dengan pakaian untuk jalan-jalan, pakaian yang digunakan untuk nongkrong pun beda lagi. Hal tersebut diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat di foto atau postingan menggunakan baju yang sama.

     Berangkat dari penjelasan fenomena di atas, kira-kira faktor apa yang menyebabkan kebanyakan perempuan merasa "tidak punya baju?", apa yang sebenarnya ingin dia tampilkan ke publik dari itu semua? Apa mungkin pernyataan "tidak punya baju" tersebut disebabkan kelebihan baju? Seperti kebingungannya seseorang ketika berada di depan lemari lalu tidak tahu baju mana yang ingin dikenakan saat bepergian?

    Kita akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas dengan cara masuk ke dalam alam bawah sadar seseorang, menggali motif paling mendasar dari tindakan seseorang. Kita akan mendapati bahwa setiap orang tentu ingin dirinya dianggap ada, karena itu akhirnya seseorang berusaha menampilkan atau menawarkan dirinya kepada orang lain sebagai pribadi yang menarik. 

    Tidak ada persoalan dengan itu! Dari fenomena di atas kita dapat mengetahui bahwa pilihan baju dianggap oleh kebanyakan orang sebagai daya tawar, daya tarik dengan tujuan agar dirinya dinilai sebagai pribadi yang menarik.

      Berbicara soal menampilkan diri, atau menawarkan diri sama sekali tidak berkonotasi negatif, ini memang sifat dasar dari manusia, yaitu keinginan untuk mengekspresikan eksistensi diri. Namun, ketika menyangkut "daya tawar", kita harus menyadari bahwa sesuatu yang ditawarkan itu haruslah memiliki dua kriteria, Pertama, harus memiliki kualitas tinggi, artinya tidak banyak orang yang mampu menawarkan itu. Jika sesuatu itu sudah banyak ditawarkan oleh orang lain maka nilainya tentu rendah. Permata dengan kerikil, sama-sama dikategorikan sebagai batu, namun permata jauh berharga daripada kerikil dikarenakan dianya memiliki kualitas tinggi, sehingga nilainya pun tinggi. Kedua, tahan lama. Maksudnya, sesuatu yang hendak ditawarkan itu bukanlah sesuatu yang cepat pudar, cepat hilang dan sebagainya.

Ketika seorang perempuan menampilkan atau menawarkan dirinya sebagai sosok yang cantik, sosok yang memiliki tubuh sempurna maka sejauh mana itu memenuhi dua kriteria di atas. Bukankah jika kita menawarkan itu orang lain pun juga banyak menawarkan hal yang sama? Dan jika kita jujur, banyak orang lain yang lebih cantik dan memiliki tubuh yang sempurna ketimbang kita. Artinya, jika kecantikan yang kita tawarkan berarti tawaran ini tidak memenuhi kriteria pertama. Selanjutnya, jika seorang perempuan menampilkan dirinya atau menawarkan dirinya sebagai individu yang memiliki banyak pakaian, barang-barang mahal dan sebagainya, maka sejauh mana itu semua dapat memenuhi dua kriteria yang disebutkan di atas. Bukankah pakaian dan barang-barang mahal itu tidak dapat bertahan lama? Jangankan pakaian, kecantikan pun tidak bertahan lama. Jika tawaran kita hanya kecantikan, maka siap-siap tergantikan oleh orang yang lebih cantik.

Daripada menyoalkan penampilan, lebih baik...

    Menurut penulis, untuk memenuhi dua kriteria di atas, maka kita dapat menawarkan dua hal yaitu: karakter dan kemandirian ekonomi. Karakter merupakan sesuatu yang jarang ditawarkan orang lain, sehingga dianya tentu memiliki nilai tinggi. Karakter yang dimaksud tentu yang memuat keluhuran budi seperti tanggung jawab, jujur, dan sebagainya, Selain berkualitas tinggi, karakter juga tidak lekang oleh masa, sebagaimana seutas pepatah mengatakan "budi dibawa mati", dianya kekal. Selanjutnya ialah kemandirian ekonomi. Mengapa ini penting? Karena jika kita lihat dalam konteks berkeluarga, seorang perempuan sangat butuh kemandirian tersebut, salah satu tujuannya ialah untuk manajemen risiko. Kita tidak tau bagaimana seseorang di masa yang akan datang. 

    Seorang perempuan yang kelak menjadi istri dan ibu. bagi anak-anak, jika tidak memiliki  kemandirian ekonomi maka akan menimbulkan persoalan jika, suami meninggal dunia atau ditinggal cerai. Nah, jika kita sebagai perempuan hanya berharap kepada suami, dengan kata lain tidak memiliki kemandirian ekonomi, tentulah persoalan yang disebut di atas akan menjadi beban yang sangat luar biasa. Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu, bagaimana nasib anak-anak kemudian hari, pendidikan bahkan sampai kesehatan, tentu ini sangat menyita energi untuk diselesaikan jika tidak sedini mungkin diantisipasi. Kemandirian ekonomi dapat menjadi daya tawar tersendiri karena dianya bertahan lama.

     Jika seorang perempuan mandiri dalam konteks ini, maka apapun kemungkinan yang akan terjadi di masa depan akan mudah untuk dilalui. Kembali ke persoalan awal tadi, jika kita ingin hadir dengan daya tawar yang tinggi, maka karakter dan kemandirian ekonomi dapat menjadi pilihan untuk menjadi nilai eksistensi kita. Tidak usah terlalu pusing dengan baju, apalagi dengan barang-barang mahal lainnya, toh itu juga banyak ditawarkan orang lain. Orang-orang pun tidak mengingat sesuatu yang "lumrah didapati tapi orang-orang akan mengingat sesuatu yang berbeda dan jarang ditemui. "


Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira

Download melalui link berikut









Link 1




Link  2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan