Psikologi Komunikasi yang Diterapkan Oleh Rasulullah SAW



Oleh: Wahyu Khairul Ichsan 

     Psikologi komunikasi secara umum diartikan sebagai ilmu tentang kejiwaan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Setiap orang akan berbeda cara berkomunikasi sesuai dengan kejiwaan yang dimilikinya. Salah satu pakar psikologi, George A Miller mendefenisikan psikologi komunikasi sebagai Ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan sikap seseorang melalui komunikasi.
  Nabi Muhammad adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia sepanjang abad kehidupan manusia, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pengikut di seluruh belahan dunia mana pun. Tentunya ada berbagai hal yang bisa dilihat dari seorang Nabi mulia tersebut, yang diantaranya adalah bagaimana komunikasi beliau dalam berdakwah sehingga menjadi tokoh yang berpengaruh besar terhadap umat manusia.

   Michael Hart seorang astro-fisikawan Yahudi-Amerika menulis buku yang berjudul 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, ia menempatkan Nabi Muhammad SAW di posisi nomor 1, Isac Newton nomor 2 dan Yesus Kristus diposisi 3. Bagi Hart, seratus orang yang dipilihnya bukanlah orang-orang yang paling pintar, kuat, dan hebat, tetapi paling memengaruhi dan mengubah sejarah. Hal tersebut sangat mustahil terjadi tanpa adanya komunikasi yang terjadi, baik itu komunikasi secara verbal maupun non verbal.

    Bagi umat Islam, Muhammad dianggap sebagai orang yang membawa pesan dari langit (Tuhan) tentunya juga memiliki berbagai macam faktor dalam pembentuk kejiwaannya, baik dari faktor pengalaman hidup seperti halnya manusia biasa pada umumnya sehingga ia mampu memahami setiap psikologi orang yang bertemu dan berbicara dengan beliau. 

    Dalam kesuksesan dakwah Nabi Muhammad ada komunikasi yang sangat matang sehingga begitu mudah diterima oleh umat, komunikasi itu berjalan dengan sukses karena Nabi memahami setiap psikologi sahabat atau orang orang yang pernah bertemu langsung dengan beliau. Dalam beberapa hadist ditemukan bahwa Nabi Muhammad menyampaikan nasehat atau solusi permasalahan itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Nabi Muhammad pernah ditanya tentang suatu hal oleh beberapa orang. namun jawaban Nabi berbeda-beda meskipun yang ditanya tentang permasalahan yang sama oleh orang tersebut.

    Dalam kisah yang lain diceritakan bahwa ketika ada sahabat yang berdebat tentang suatu permasalahan. Nabi tidak pernah langsung mengatakan si A benar dan si B salah dalam sebuah forum. Akan tetapi sesudah perdebatan, Nabi memanggil sahabat yang berdebat satu persatu dengan waktu yang berbeda, kemudian Nabi memuji dan kemudian baru memberikan pemahaman yang benar dengan bahasa yang lemah lembut. 

  Apabila dalam komunikasi kita langsung menyalahkan dan membenarkan seseorang maka akan menimbulkan perasaan tidak enak pada orang yang disalahkan. Itu juga merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan cara memahami psikologi komunikasi terdahulu yang diajarkan Nabi Muhammad. 

    Dalam Al Qur'an terdapat beberapa istilah yang menjadi prinsip dalam komunikasi, diantaranya yaitu: Qaulan Sadidan (berkata benar), Qaulan balighan artinya komunikator dalam berkomunikasi menyesuaikan diri, Qaulan Mansuran artinya berbicara dengan kata-kata yang baik. Qaulan ma'rufan (berbicara jujur). Istilah-istilah tersebut Nabi Muhammad contohkan dalam kehidupan sehari-hari kepada sahabat-sahabatnya yang beragama Islam maupun non muslim.

     Jika kita melihat dari kisah-kisah atau hadis- hadis Nabi, sangat sedikit kita temukan gambaran tentang Nabi bermuka masam atau marah, karena secara psikologi itu juga merupakan faktor berhasilnya dalam mempengaruhi kejiwaan manusia. Faktor perhatian dalam konsep psikologi komunikasi berpengaruh besar, di dalamnya disebutkan hal-hal yang menarik perhatian seseorang, mulai dari gerakan tubuh, penggunaan diksi, kebaruan, penampilan dan pengulangan Semua hal itu kita dapatkan dari psikologi Nabi Muhammad SAW.

   Dalam hal penampilan di hadis dikatakan bahwa Nabi berpakaian rapi, dan bersih, kemudian cara beliau berbicara ketika duduk dan berdiri badannya ditegakkan, menggunakan bahasa yang lemah lembut secara psikologi, hal-hal tersebut juga memberikan pengaruh terhadap psikologi lawan bicaranya. Pesan komunikasi yang dirancang dengan baik akan dapat menimbulkan efek kepada komunikan yang berupa efek kognitif, efek afektif dan efek behavioral, ketika efek itu bekerja maka akan membentuk psikologi lawan berbicara yang lebih akrab dengan kita. Itulah yang Nabi terapkan dalam komunikasinya, hal itu bisa dilihat dari hadis-hadis atau kisah-kisah beliau, itulah sebab mengapa terdapat hadis yang berbeda-beda namun dengan permasalah atau substansi yang sama, karena Nabi mengetahui psikologi lawan bicara dari berbagai aspek mulai dari gerak tubuh, raut muka dan cara berbicara.

    Komunikasi Nabi Muhammad SAW menggunakan bahasa verbal dan non-verbal yang selalu sesuaikan dengan bahasa umatnya, baik komunikasi dengan para istri, para sahabat dalam berbagai kalangan, para remaja dan bahkan anak-anak Komunikasi yang beliau lakukan bersifat persuasif dengan menggunakan data fakta psikolgis maupun sosiologis sasaran komunikasinya, sehingga ajaran Islam menjadi salih likulli zaman wa makan (sesuai dengan setiap zaman dan tempat) tidak hanya menjadi cerita dan kenangan saja. 

   Selain itu proses komunikasi Nabi Muhammad SAW selalu diimbangi dengan tauladan akhlak yang mulia, sehingga membuat terkesan dan mempesona semua orang

   Maka dapat disimpulkan Rasulullah SAW adalah komunikator yang hebat, setiap pesan yang disampaikan pasti berkesan di hati para sahabat, bahkan di hati kaum Kristiani dan Yahudi yang memusuhinya. Dikarenakan aspek-aspek psikologi lainya seperti empati, simpati, Nabi hadirkan dengan baik dalam setiap kemunikasi yang ia lakukan. Hampir semua hadis disampaikan dengan memperhatikan konteksnya atau psikologi komunikan.

     Pada intinya, psikologi komunikasi harus memperhatikan aspek kejiwaan dalam kehidupan sehari-hari. Aspek kejiwaan yang penting diperhatikan adalah persoalan perasaan, mood, motivasi dan perlakuan, dan sikap yang saling mempengaruhi antar sesama manusia, tidak peduli agama apa pun, karena Nabi memperlakukan semua manusia itu sama. []


Baca artikel menarik lainnya di Buletin INTIinspira
Download melalui link berikut
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan