Melihat Sisi Kemerdekaan dari Pembaca Buku

INTIinspira - Setiap kali memperingati kemerdekaan, yang lebih ditonjolkan adalah peran militer, pejuang, dan penentang Belanda yang turun langsung menghadang pasukan Sekutu, atau kisah pasukan yang melawan Belanda.

Kemerdekaan pun direduksi hanya menjadi peran militer. Kita sering mendengar nama Jenderal Sudirman lebih diagungkan dibanding peran diplomat seperti Sutan Sjahrir, atau peran pemikir bangsa seperti Soekarno dan Hatta. Bahkan sempat diredupkan begitu saja peran perancang gagasan kemerdekaan, yaitu Tan Malaka.

Situasi ini tidak terjadi tanpa sebab. Saat Soeharto naik menjadi Presiden kedua, ia yang memiliki latar belakang militer memang lebih menomorsatukan peran militer dibanding peran pemikir. 

Bahkan dengan sengaja Soeharto melakukan upaya De-Soekarnoisasi untuk menghilangkan pengaruh Soekarno dari setiap lini.

Pada setiap peringatan kemerdekaan, kisah perlawanan oleh militer lebih dibesar-besarkan dibanding kisah para pemikir bangsa yang merumuskan pikiran dan ideologi bangsa.

Padahal, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka punya peran besar dalam kemerdekaan. Tempo menuliskan masing-masing tokoh ini dalam buku Bapak Republik Indonesia, yang membahas biografi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. 

Keempat orang ini pantas diberi julukan Bapak Republik Indonesia karena karya dan pemikiran yang telah mereka berikan. Namun ada satu hal menarik dari keempat tokoh ini: mereka adalah pembaca yang tekun.

Soekarno, sebagai Presiden pertama, sudah membaca buku sejak muda, bahkan buku-buku dari Belanda dan luar negeri. Kemampuan Soekarno menguasai bahasa asing membuatnya bisa membaca banyak sekali buku.

Dalam membaca, Soekarno biasa mencoret dan memberi catatan atas apa yang dibacanya. Bahkan ada cerita, saat di penjara, Soekarno meminta istrinya menyelundupkan buku agar ia bisa terus membaca.

Tak kalah menariknya adalah Hatta, Wakil Presiden pertama. Buku bahkan dianggapnya sebagai istri pertama. Ketika diasingkan ke Banda Neira, Hatta sampai harus membawa 16 peti berisi buku.

Kesehariannya tak pernah bisa lepas dari buku. Ia bahkan pernah menuliskan surat kepada T.A. Murad saat menjalani hukuman di Penjara Glodok, Batavia, 1934: "Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku."

Jika Soekarno dikenal dengan sebutan Bung Besar, Sutan Sjahrir dikenal dengan sebutan Bung Kecil. Sjahrir punya peran besar di meja perundingan sebagai diplomat, dan ini pun berkat bacaan mumpuni yang telah dimilikinya. 

Sutan Sjahrir telah membaca buku-buku dari luar negeri, memahami perpolitikan dunia, dan menguasai bahasa asing—itulah sebabnya ia diutus sebagai diplomat.

Nama terakhir adalah Tan Malaka, yang mungkin kini ramai diperbincangkan. Namun pada masa Orde Baru, namanya sama sekali tak dibicarakan karena Tan Malaka dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia. 

Cap itulah yang membuat orang takut membicarakannya. Padahal Tan Malaka punya peran besar bagi negeri ini. 

Dalam pelariannya sebagai orang yang paling dicari Belanda, Tan Malaka tak pernah berhenti membaca buku, bahkan menghafalkan buku-buku yang telah ia baca. 

Ada kutipan menarik dari Tan Malaka dalam buku Madilog: "Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu, dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi."

Keempat tokoh ini tidak hanya membaca buku, tapi juga melahirkan ide-ide brilian soal kebangsaan.

Soekarno menuliskan buku Di Bawah Bendera Revolusi, Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia (1947), Indonesia Menggugat (1930), dan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926).

Hatta menerbitkan buku Alam Pikiran Yunani (1941), Demokrasi Kita (1960), dan Ekonomi Terpimpin (1967).

Sutan Sjahrir menulis buku Perjuangan Kita (1945) dan Renungan dan Perjuangan.

Tan Malaka menulis buku seperti Aksi Massa (1926), Menuju Republik Indonesia (1925), Madilog (1943), Gerpolek (1948), dan Dari Penjara ke Penjara.

Sayangnya, selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, buku-buku tersebut tak dipelajari di sekolah dan diabaikan begitu saja—bahkan ada yang menjadi bacaan terlarang.

Padahal gagasan di dalamnya memuat banyak sekali pemikiran dan rancangan dari para Bapak Republik Indonesia tentang mau seperti apa Indonesia dibangun. Bukan dengan cara-cara militer yang selalu diandalkan oleh Soeharto, dan barangkali masih bercokol hingga kini.


Penulis: Romario (Dosen IAIN Langsa
Ilustrasi: Vintage Study and Unity Collage/dibuat dengan AI
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan