Makna Kebahagian dari Filsuf Berkumis Tebal

INTIinspira - “Apa yang tidak membunuhmu, akan membuatmu menjadi lebih kuat” begitulah kata Nietzsche seorang filsuf yang mengguncangkan pemikiran Eropa pada masanya.

Apa hubungannya kalimat ini dengan kebahagiaan? Seringkali kebahagiaan dikaitkan dengan perasaan tenang, nyaman, tak ada keributan, dan ketentraman.

Nietzsche menolak definisi itu, baginya Kebahagian adalah kemampuan kita untuk melewati segala penderitaan, menghadapi segala rintangan, dan upaya memecahkan segala masalah kehidupan.

Selama hidup, tidak pernah keadaan dan situasi baik-baik saja, selalu ada masalah yang datang, entah itu dari diri sendiri, dari orang lain, bahkan peristiwa tertentu.

Dari berbagai masalah itulah kita tumbuh dan berupaya menyelesaikan, setiap orang saya yakin punya masalah masing-masing yang tengah dihadapi, tapi kemampuannya untuk menghadapi masalah itulah yang menentukan bagaimana mewujudkan kebahagian.

Seorang raja pernah diperlihatkan dua lukisan yang berbeda, lukisan pertama menggambarkan keindahan alam, langit yang cerah, danau yang tenang, burung yang terbang, lalu di lukisan kedua menggambarkan tanah kering, pohong mati, dan awan yang gelap. 

Manakah yang dipilih raja menggambarkan kebahagiaan, ia pun memilih lukisan kedua. 

Karena dalam hidup ini seringkali masalah datang bertubi-tubi menghantam, kerumitan kian menyeruak, dan kita harus melawan semua itu hingga terwujudnya kebahagiaan.

Seorang yang bahagia bukanlah mereka yang bermental budak, tapi bermental tuan.

Orang yang bermental budak akan menggambarkan dirinya rendah, tidak berdaya, mengikuti semua yang ada.

Tapi orang yang bermental tuan mampu menghadapi segala rintangan yang ada, terus berjuang dalam menghadapi segala rintangan, hingga terwujudlah Übermensch seorang manusia super.

Seseorang yang pernah mengalami kehilangan orang tercinta dan mampu bertahan adalah orang yang lebih kuat dibanding yang tidak merasakan, karena tahu perasaan-perasaan itu datang untuk membuat hidup terasa putus asa, tak ada artinya, dan hampa.

Tapi jika kita melewati situasi ini, dan tidak terbunuh seperti kata Nietzsche, maka kita menjadi orang yang lebih kuat. Seperti film aksi yang menampilkan pahlawan yang selamat dari segala pembunuhan oleh musuh-musuhnya, tapi justru membuatnya tambah kuat.

Seorang atlet yang tampil di lapangan bahkan menjadi juara, adalah orang yang mengalami penderitaan demi penderitaan, hingga tubuhnya mengalami kesakitan dan kelelahan.

Seorang penulis sukses, adalah mereka yang bertungkus lumus menghabiskan waktu, membaca, memikirkan, menuliskan, mengedit, hingga membuat pusing kepala.

Segalanya adalah tentang perjuangan, apa yang kita saksikan terhadap keberhasilan seseorang, bukanlah proses mudah, tapi ada proses panjang melewati penderitaan.

Orang-orang yang lemah pada kehidupan seringkali jatuh pada jurang keputusasaan, mereka lari pada dunia yang meninabobokan dirinya dengan memilih hilang kesadaran, atau yang paling mengerikan mereka jatuh pada tindakan mengakhiri hidup yang merasa bahwa hidup tak ada artinya lagi. Seolah api kehidupan sudah padam pada dirinya.

Sebagian orang lagi pasrah dengan mengatakan ”berat jadi WNI” dan merasa tak berdaya apa-apa. Kita harusnya menjadi orang-orang kuat yang melawan segala keputusasaan, segala kepasrahan, dan ketidakberdayaan.

Jika boleh meminjam frasa Nietzsche, “Aku adalah dinamit”, ya kita harus menjadi ledakan yang membangkitkan semangat akan harapan. Bukanya pasrah akan kehidupan.

Soal takdir, Nietzsche punya konsep menarik yang dia sebut Amor Fati yang artinya mencintai hidup, memeluk segala hal yang ada dalam kehidupan.

Kita akan mengatakan “Ya” pada kehidupan, tidak berusaha menolaknya, berandai-andai, atau membayang-bayangkan. Ketika penderitaan, masalah, kesulitan datang berulang-ulang sanggupkah kita mengatakan “Ya” pada kehidupan, itulah yang diharapkan dari Amor Fati.

Jadi, kebahagian adalah sebuah penderitaan yang kita lewati terus menerus, dan mampu kita hadapi tanpa henti. Kita harus berjuang menghadapi segala kekecewaan, penderitaan, kehilangan, kegagalan, keputusasaan, dan ketika kita bisa melewatinya maka akan membuat kita jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Ketika kuliah kita menghadapi berbagai tugas yang tanpa henti menimpa hingga selesai kuliah, dan ketika selesai kuliah kita dihadapkan tanpa henti soal peluang kerja yang semakin susah, sesudah kerja kita akan dihadapkan pada pilihan pasangan untuk menikah, sesudah menikah ternyata tak semudah yang kita bayangkan, ada biaya anak, kebutuhan sehari-hari, kadang ribut dengan pasangan, dan ketika anak tumbuh besar kita dihadapkan dengan masalah bagaimana mendidik anak.

Maka dalam hal ini kita harus katakan “Ya” pada kehidupan, justru segala masalah yang datang bukanlah tanda pelemah, ia membuat kita lebih kuat dan lebih kuat untuk menghadapi segala rintangan yang terjadi. Barangkali itulah kebahagiaan.


Penulis: Romario (Dosen di IAIN Langsa)
Foto: Embrace the light and transformation/dibuat dengan AI

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan