Dari Ki Hadjar ke Kung Fu Panda, Apa yang Membuatku Tertarik?

INTIinspira - Beberapa hari ini aku sedang membaca buku Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan—satu dari dua bukunya, yang satu lagi bicara soal kebudayaan. Aku berniat menyelesaikan dulu buku pertama baru lanjut ke buku kedua.

Kalau kamu tanya mengapa aku membaca buku ini, ya jelas karena aku sarjana pendidikan dan bergelut dengan dunia pendidikan. Kita tau bahwa Ki Hadjar Dewantara itu Bapak Pendidikan Nasional, yang telah meletakkan fondasi bagi arah pendidikan nasional, sekaligus tujuan dan bagaimana seharusnya pendidikan itu dijalankan.

Buku ini menurutku tidak terlalu tebal, tidak sampai ribuan halaman. Namun, untuk kebutuhan tulisan ini aku hanya akan mengambil satu bagian saja yaitu tentang bagaimana seorang guru memaknai dirinya dan anak didiknya.[1]

Ki Hadjar mengilustrasikan hubungan guru dan murid seperti pak tani dan tanamannya.

Kalau pak tani menanam padi, dia tahu kalau tugasnya bukan mengubah padi menjadi jagung, atau apa pun selain padi. Tugasnya cuma merawat: memupuk, menyiram, menjaga dari hama, memastikan padi itu tumbuh sebagaimana kodratnya—setinggi mungkin, sesehat mungkin, semaksimal yang bisa dicapai oleh sebatang padi.

Pak tani itu tidak pernah berharap padinya berbuah jagung. Dia tidak kecewa karena padi bukan jagung. Justru harapan semacam itu adalah tanda bahwa dia sudah melawan kodrat.

Setelah membaca ini aku lalu teringat kalimat yang sering kubaca di buku-buku lain: "ajarkan sesuai bakat anak", "jangan paksa semua orang jadi sama". Walau begitu, ada yang khas dari cara Ki Hadjar menyampaikan pemikirannya.

Dia tidak bicara soal bakat sebagai keunikan yang perlu "ditemukan"—dia bicara soal kodrat, sesuatu yang sudah ada, yang tugas guru bukan menciptakan atau mengubahnya, melainkan menyingkirkan apa yang menghalanginya tumbuh.

Bedanya begini: guru bukan pematung yang membentuk murid jadi bentuk tertentu. Guru itu lebih dekat ke tukang kebun yang menyingkirkan hama, memberi cukup air, lalu percaya proses.

Yang menarik, ilustrasi ini juga menyimpan semacam kerendahan hati bagi guru. Karena kalau guru menyadari dia hanya merawat, bukan mencetak, maka kegagalan murid untuk "jadi seperti yang guru mau" bukan berarti murid itu gagal—bisa jadi gurunya yang salah menaruh harapan.

Setelah sejenak berusaha memahami ilustrasi itu, ingatanku tiba-tiba melompat ke sebuah adegan animasi Kung Fu Panda 3—yang anehnya, sampai pada kesimpulan yang sama lewat jalan yang sama sekali berbeda.

Adegan itu begini, tak lama sesudah Po si Panda pulang ke desa leluhurnya, datanglah Kai, pendekar jahat yang ingin mengambil chi dari semua pendekar kung fu, termasuk Po sendiri.

Mengetahui Kai menuju desanya, Po langsung tahu kalau dia tidak akan bisa mengalahkan Kai sendirian, jadi dia berpikir untuk melatih para panda di desa itu untuk menjadi pendekar kung fu seperti dirinya.

Dan, setelah usaha yang melelahkan itu dijalankan, hasilnya gagal. Benar-benar gagal total. Para panda itu tidak bisa memukul, tidak bisa bergerak seperti yang Po ajarkan.

Hampir saja Po putus asa, sampailah suatu ketika—entah bagaimana—dia dapat semacam ilham. Dia berpikir untuk tidak lagi mencoba membuat panda-panda itu jadi seperti dirinya, melainkan melatih mereka sesuai kemampuan yang sudah mereka punya.

Dia bertanya: apa yang bisa kalian lakukan? Ternyata jawabannya ada di depan mata.

Ada panda yang jago berguling, maka Po melatih gulingan itu jadi teknik melawan. Ada yang jago menari, jago memasak, jago memainkan alat musik—semua itu diarahkan Po supaya jadi cara melawan Kai.

Kali ini, bukan lagi meniru gaya Po, tapi dengan mengasah kemampuan yang sudah mereka miliki sejak awal.

Menurutku, ini persis sama dengan apa yang dikatakan Ki Hadjar lewat metafora padi dan jagung. Po, tanpa mengutip Ki Hadjar tentu saja, sampai pada kesadaran bahwa memaksakan bentuk yang sama pada semua orang bukan hanya tidak efektif, tapi juga melawan kodrat yang secara alami sudah ada pada tiap orang.

Kalau Ki Hadjar memberi kerangka berpikirnya dan Po memberi ilustrasi bagaimana kerangka itu bekerja saat situasi membutuhkan, pertanyaan berikutnya begini: Bisakah ini dipraktikkan dalam pembelajaran? Di sini ingatanku berlari ke satu babak dari buku lain yang pernah kubaca.

Ingatan itu ialah cerita di buku Totto-chan, tentang sekolah bernama Tomoe Gakuen. Jadi, setiap pagi di kelas, guru menuliskan beberapa soal atau tugas di papan tulis, lalu murid dibiarkan memilih sendiri mana yang ingin mereka kerjakan lebih dulu.

Tidak ada jam pelajaran yang kaku di sekolah Tomoe ini, tidak ada urutan mata pelajaran yang dipatok jam demi jam seperti sekolah kebanyakan.

Murid yang hari itu ingin menulis, ya menulis dulu. Yang ingin berhitung, berhitung dulu. Semua tugas akhirnya selesai di hari itu juga, tapi dengan urutan yang ditentukan murid sendiri, sesuai dengan apa yang sedang menarik minat mereka.

Kalau dilihat sepintas, ini cuma seperti kebebasan memilih bagi murid—hal yang sering kali dianggap remeh, atau bahkan dianggap tidak disiplin oleh sementara orang. Tapi kalau disandingkan dengan dua cerita sebelumnya, ada yang menarik dari praktik ini.

Guru di sekolah Totto-chan tidak menentukan bahwa semua murid harus belajar berhitung jam delapan pagi karena itu jam paling produktif menurut teori tertentu.

Guru di situ menjalankan falsafah bahwa tiap murid, seperti padi yang tahu kapan dia butuh air, punya semacam insting sendiri tentang kapan dia siap menyerap pelajaran tertentu.

Tugas guru pertama-tama bukan mengatur jadwal itu dari luar, tapi menyediakan "ladang"—dalam contoh tadi itu papan tulis yang berisi pilihan tugas—dan membiarkan tiap murid menemukan urutan yang cocok dengan kodratnya sendiri hari itu.

Ketiga hal tadi mulai tampak di sini—filsafat pendidikan Ki Hadjar, adegan animasi Kung Fu Panda, dan detail dari sekolah nyata di Jepang—ternyata punya benang merah.

Ki Hadjar memberi kerangka berpikirnya: guru merawat kodrat, bukan mencetak bentuk.

Po memberi ilustrasi bagaimana kerangka itu bekerja saat dipraktikkan dalam situasi tertentu: melihat apa yang sudah dimiliki tiap orang, lalu menajamkannya.

Dan sekolah Tomoe memberi contoh konkret bagaimana ini bisa diwujudkan dalam praktik lembaga pendidikan.

Dari ketiga hal itu, nampaklah bahwa, mendidik—entah itu sebagai guru di kelas, orang tua di rumah, atau siapa pun yang sedang membimbing orang lain—haruslah melepas keinginan untuk membuat orang lain jadi seperti yang kita bayangkan, dan sebagai gantinya, berusaha lebih peka melihat apa yang sudah ada pada mereka, lalu membantu itu tumbuh. 

Ya, harus diakui bahwa praktik semacam ini butuh proses, karena sering kali, kita—sebagai pendidik dalam arti luas—lebih nyaman kalau semua orang di sekitar kita bisa dipahami dengan satu cara yang sama. Akan tetapi, seperti kata Ki Hadjar, padi tidak akan pernah berbuah jagung. Dan memang tidak seharusnya begitu[]

Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Foto: Golden Harvest Companions/dibuat dengan AI

[1] Bagian ini dapat ditelusuri lebih jauh dalam buku: Ki Hadjar Dewantara, Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Buku I (Pendidikan) (Yogyakarta: UST-Press bekerjasama dengan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, tt), hlm. 21.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan