Kalau Semua Diukur dengan Angka, Kapan Kita Sempat Merasa?
INTIinspira - Aku sudah membaca buku Pangeran Cilik berkali-kali. Awalnya lewat PDF, lalu kuulangi lagi beberapa kali, sampai akhirnya beberapa hari lalu—karena kebetulan sedang ada diskon—kuputuskan untuk membeli buku cetaknya sendiri.
Aku sudah hafal cerita yang disajikan dalam buku ini. Tapi entah bagaimana, buku setipis ini rasanya tidak pernah terasa kering saat kubaca ulang.
Bagiku, buku ini lebih seperti batu asah, alat yang terus bisa kupakai untuk mengecek ulang cara berpikirku sendiri, terutama cara berpikir orang dewasa.
Salah satu bagian yang membuatku terkejut sejak awal adalah soal rumah bata merah.
Ceritanya begini: kalau kau bilang ke orang dewasa, "Aku baru lihat rumah bagus, temboknya bata merah muda, ada bunga di jendela, dan merpati hinggap di atapnya," mereka akan bingung dan tidak tertarik. Tapi kalau kau bilang, "Rumah itu harganya satu milyar," barulah mereka langsung berseru, "Wah, indah sekali!"
Yang membuatku terkejut bukan ceritanya sendiri, tapi cara menyampaikannya. Kritik yang sebenarnya cukup tajam ini dibungkus dengan nada yang begitu polos, seperti dituturkan anak kecil yang sedang bercerita.
Tapi begitu direnungkan, jelas ini menunjukkan sesuatu yang serius: orang dewasa sering tidak percaya pada apa yang mereka lihat sendiri. Mereka baru yakin sesuatu itu bagus kalau sudah ada angkanya.
Dan begitu kau sadar soal ini, kau akan mulai melihat pola yang sama di banyak tempat lain.
Bukan Hanya Soal Rumah
Saint-Exupéry, si penulis buku ini, tidak berhenti di rumah bata merah saja. Ia juga menunjukkan bagaimana orang dewasa berkenalan dengan orang lain.Kalau kau bercerita, "Aku baru dapat teman baru, dia suka menggambar dan suka duduk sendirian mendengar suara angin," orang dewasa tidak akan bertanya lebih jauh. Tapi kalau kau bilang, "Umurnya segini, gajinya segini, berat badannya segini," barulah mereka merasa sudah cukup mengenal orang itu.
Aneh, kalau dipikir-pikir. Angka umur, gaji, atau berat badan tidak pernah benar-benar menjelaskan siapa seseorang. Tapi entah kenapa, angka-angka itu terasa lebih meyakinkan bagi orang dewasa ketimbang cerita tentang apa yang disukai orang itu, apa yang membuatnya tertawa, atau apa yang membuatnya sedih.
Pola yang Sama, Baju yang Berbeda
Kalau kita tengok sekeliling hari ini, pola yang sama masih terus berulang, hanya berganti baju.Di media sosial, sebuah foto matahari terbenam yang sebenarnya indah akan terasa "berhasil" bukan karena keindahannya, tapi karena berapa banyak orang yang menekan tombol suka.
Kita bahkan kadang bertanya ke diri sendiri, "Ini bagus tidak, ya?" sambil menunggu angka di layar naik dulu sebelum berani percaya pada penilaian sendiri.
Di dunia pendidikan juga begitu. Anak pulang sekolah, dan pertanyaan yang lebih sering muncul bukan "tadi belajar apa yang bikin kamu penasaran?" tapi "dapat nilai berapa tadi ulangannya?" Padahal rasa ingin tahu anak jauh lebih penting untuk tumbuh dibanding angka yang tertulis di kertas ulangan.
Begitu juga soal pekerjaan. Kalau ada yang bertanya, "Kerjaanmu menyenangkan tidak?" jawabannya sering kalah saing dibanding pertanyaan, "Gajimu berapa sekarang?" Padahal dua hal itu jelas berbeda. Pekerjaan yang menyenangkan belum tentu bergaji besar, dan pekerjaan bergaji besar belum tentu menyenangkan. Tapi angka gaji tetap jadi ukuran utama untuk menilai apakah pekerjaan seseorang "berhasil" atau tidak.
Bahkan urusan tubuh sendiri pun kena pola ini. Alih-alih bertanya, "Badanku terasa nyaman tidak hari ini? Terasa segar tidak?" banyak dari kita malah lebih dulu menimbang badan, dan membiarkan angka di timbangan menentukan apakah hari itu "baik" atau "buruk".
Namun Bukan Berarti Angka Itu Jahat
Tapi ada yang menarik kalau dibaca lebih teliti. Pangeran Cilik sendiri, tokoh yang paling kita percaya kepolosannya di buku ini, sebenarnya juga suka menghitung. Ia menghitung berapa kali matahari terbenam yang ia saksikan dalam sehari di planetnya sendiri, 44 kali, saat ia sedang sedih. Ia juga suka menghitung bintang-bintang.Jadi buku ini sebenarnya tidak sedang bilang bahwa angka itu sepenuhnya buruk. Yang dikritik adalah ketika angka menggantikan rasa, bukan melayani rasa.
Pangeran Cilik menghitung matahari terbenam karena ia sedang merasakan sesuatu, dan angka itu jadi cara untuk menyampaikan perasaannya. Beda dengan orang dewasa yang menanyakan harga rumah bukan karena ingin tahu perasaan apa yang muncul dari rumah itu, tapi karena angka itu sendiri yang jadi tujuan akhirnya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan pada angka, tapi pada apa yang kita jadikan sandaran untuk percaya bahwa sesuatu itu berharga. Kalau kita hanya percaya pada sesuatu setelah ada angkanya, lama-lama kita akan lupa cara mempercayai apa yang kita lihat dan rasakan sendiri.
Belajar Melihat Ulang
Barangkali inilah alasan mengapa buku ini kubaca berkali-kali. Setiap kali membaca ulang, aku diingatkan lagi untuk memperhatikan cara menilai sesuatu. Apakah aku benar-benar melihat sesuatu apa adanya, atau aku sesungguhnya menunggu angka dulu sebelum berani bilang itu bagus?Buku setipis ini, yang ditulis dengan bahasa sederhana seolah untuk anak-anak, ternyata menyimpan pertanyaan yang sama sekali tidak sederhana. Dan mungkin itu sebabnya ia terus layak kubaca ulang—untuk terus mengasah cara melihat dunia.[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Foto: Dok. untuk INTIinspira


