Kenapa Mencari Kebahagiaan Justru Membuat Kita Tidak Bahagia
INTIinspira - Aku baru selesai baca Siddhartha bukunya Herman Hesse, versi terjemahan Gramedia.
Ada satu percakapan antara Siddhartha dan Govinda, sahabatnya, soal pencarian.
Kira-kira begini kalimatnya: ketika kita mencari sesuatu, seluruh kesadaran kita fokus ke situ. Yang lain jadi tidak kelihatan. Padahal bisa jadi ada hal yang lebih berharga di depan mata, tapi kita tidak melihatnya. Sibuk sendiri.
Aku lanjut baca setelah itu, tapi pikiranku terus dihantui percakapan tadi. Aku lalu menutup buku, merokok, dan entah bagaimana daya tarik dari percakapan itu memaksaku tak bisa berhenti berpikir.
Siddhartha bilang ini setelah dia meninggalkan jalan asketisme, dan setelah dia menolak ikut ajaran Gotama sang Buddha. Padahal dia sendiri mengakui Gotama sudah mencapai pencerahan sejati.
Yang menarik, dia tidak menolak karena ajaran itu salah. Dia menolak karena melihat ada beda mendasar antara mencari dan menemukan.
Mencari itu berarti kita sudah punya gambaran duluan. Sudah punya definisi soal apa yang kita cari. Begitu ada definisi, kita otomatis mengukur segala sesuatu berdasarkan itu. Cocok atau tidak. Sesuai kriteria atau tidak.
Masalahnya, kalau yang benar-benar berharga itu bentuknya beda dari bayangan kita, kita malah menolaknya. Karena tidak sesuai kriteria yang sudah kita pasang duluan. Walau, bisa jadi, itu lebih berharga.
Ini kelihatan jelas pada kasus orang yang mencari guru spiritual. Dia sudah punya bayangan sendiri soal guru itu harus seperti apa. Cara bicaranya, penampilannya, caranya mengajar. Begitu ketemu orang yang tidak cocok dengan bayangan itu, langsung ditolak, dianggap bukan guru sejati.
Padahal bisa jadi orang yang ditolak itu justru punya sesuatu yang lebih dalam dari yang dia cari. Cuma karena tampilan yang tidak sesuai definisi di kepala, dia jadi tidak kelihatan sama sekali.
Nah, berbeda dengan mencari, menemukan itu berbeda. Itu keadaan pikiran yang terbuka, tidak terikat pada satu definisi. Bukan berarti tanpa arah, tetapi tidak menutup diri dari berbagai kemungkinan lain.
Siddhartha akhirnya, menurut Herman Hesse—belajar bukan dari guru atau ajaran—tapi dari mengamati sungai. Mendengarkan hidup itu sendiri, tanpa filter "aku sedang mencari apa."
Jangan salah paham, ini bukan berarti berhenti berjuang atau tidak boleh punya cita-cita. Yang jadi soal adalah kualitas kehadiran kita terhadap hidup.
Orang yang mencari kebahagiaan biasanya sudah punya bayangan soal bahagia itu bentuknya seperti apa. Punya ini, jadi itu, dihargai oleh rakyat jelata, atau lainnya. Bayangan itu yang justru menghalangi kita melihat bentuk kebahagiaan lain yang sudah ada di depan kita, tapi tidak sesuai dengan yang kita bayangkan.
Aku pernah mengalami ini. Sesuatu yang kuharapkan, begitu didapat, ternyata tidak memunculkan kebahagiaan. Malah yang tidak kuharapkan sama sekali, di situ kebahagiaan muncul.
Dulu aku juga dengar Romo Magnis Suseno yang saat itu mengutip seorang filsuf, aku lupa namanya, kira-kira kalimatnya begini: tidak pernah bahagia orang yang mencari kebahagiaan.
Nah, pola ini kelihatan di mana-mana kalau diperhatikan.
Mahasiswa mengejar IPK tinggi. Membayangkan begitu nilai A keluar, akan lega dan bangga. Nilai keluar, senangnya cuma semalam. Besoknya sudah mikir tugas berikutnya.
Yang mengejar gelar sarjana membayangkan setelah lulus hidup akan lebih jelas. Begitu lulus, muncul kecemasan baru. Kerja di mana, gimana caranya.
Yang jadi ketua organisasi berharap itu akan bikin dirinya merasa berarti. Begitu jadi ketua, yang terasa bebannya, bukan seperti yang dia bayangkan.
Anak muda menabung, berharap kalau sudah punya uang segini akan tenang. Begitu tercapai, angka itu terasa belum cukup. Lalu menetapkan angka baru yang lebih tinggi.
Beli barang yang diincar lama, membayangkan itu akan memberi kepuasan. Begitu dapat, senangnya seminggu. Lalu muncul incaran baru.
Mengejar validasi di media sosial, tiap pencapaian like & comment baru terasa memuaskan sebentar, lalu kembali ke rasa kurang yang sama.
Ada juga yang berharap dengan menikah, rasa kesepian yang dulu dirasakan waktu lajang akan otomatis hilang. Padahal kalau sumbernya dari dalam diri, itu tetap ada meski sudah berdua.
Pasangan baru menikah membayangkan setelah menikah hidup akan tenang, karena sudah selesai mencari pasangan. Ternyata pernikahan justru menimbulkan pencarian lainnya. Mencari kecocokan sehari-hari, mencari cara bicara yang tidak menyakiti. Berharap kebahagiaan datang dari rumah sendiri, momongan, karier stabil. Begitu satu tercapai, senangnya sebentar. Lalu ada standar baru yang harus dicapai supaya baru bahagia.
Yang berulang di semua contoh itu begini: objeknya ganti-ganti, tapi jarak antara aku-yang-sekarang dan aku-yang-akan-bahagia-nanti itu tidak pernah hilang. Selama masih dalam mode mencari, jarak itu selalu ada. Apa pun objeknya.
Aku sendiri masih meraba-raba soal ini. Susah untuk benar-benar berhenti mencari, karena hidup memang butuh arah dan tujuan. Tapi mungkin yang bisa dicoba bukan berhenti berjuang, tapi sedikit melonggarkan definisi soal apa yang dianggap berharga atau bahagia itu. Biar ada ruang untuk melihat yang sudah ada di depan mata, yang mungkin selama ini terlewat karena sibuk mencocokkan dengan gambaran di kepala.
Siddhartha butuh waktu lama dan banyak kegagalan untuk sampai pada titik itu. Apakah aku juga akan seperti itu?[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)
Foto: Serene riverside at sunrise/dibuat dengan AI


