Tak Ada Kata Terlambat Belajar: Catatan dari Kelas Bahasa Indonesia

INTIinspira - Saya berasal dari Sumatra Utara dan menetap di Aceh Barat setelah menikah dengan seorang pria asal Aceh. Sejak remaja, saya bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keinginan itu belum dapat terwujud karena berbagai keterbatasan, terutama kurangnya dukungan dari keluarga.

Setelah menikah, fokus kehidupan saya pun berubah. Saya menjalani peran sebagai istri, mengurus keluarga, dan bekerja sebagai petugas pendataan Keluarga Berencana (KB) di desa tempat tinggal. Meski begitu, keinginan untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah benar-benar hilang—cita-cita itu tetap tersimpan dalam hati, menunggu kesempatan yang tepat.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika saya diterima sebagai guru honorer di TK Darul Hikmah. Pengalaman mengajar anak-anak usia dini membuat saya semakin menyadari pentingnya pendidikan dan pengembangan kompetensi diri. 

Dukungan dari suami serta saran dari pihak sekolah menjadi motivasi besar untuk kembali melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda. Dengan penuh semangat, saya mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di STAI Darul Hikmah pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), meski saat itu usia saya sudah menginjak 32 tahun.

Awalnya saya merasa ragu karena telah lama meninggalkan dunia pendidikan formal. Saya khawatir akan kesulitan mengikuti perkuliahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik. Namun, saya berusaha meyakinkan diri bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar. 

Berkat tekad yang kuat dan dukungan keluarga, saya dapat beradaptasi dengan baik dan berhasil menyelesaikan Semester I dengan hasil yang memuaskan.

Memasuki Semester II, saya mulai mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia. Pada pertemuan pertama dan kedua, perkuliahan dilaksanakan secara daring melalui Zoom. Namun, saya mengalami beberapa kendala yang cukup menghambat proses belajar.

Pada pertemuan pertama, di daerah tempat saya tinggal terjadi pemadaman listrik yang menyebabkan jaringan internet tidak stabil. Akibatnya, saya terlambat bergabung ke ruang Zoom dan hanya dapat mengikuti perkuliahan ketika kegiatan hampir selesai. 

Pada pertemuan kedua, saya menghadapi kendala yang berbeda. Setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga yang melelahkan, saya tanpa sengaja tertidur sehingga tidak dapat mengikuti perkuliahan sama sekali. Saya merasa kecewa karena kehilangan kesempatan untuk menyimak materi yang disampaikan dosen.

Meski begitu, saya tidak menyerah. Saya berusaha mencari informasi tentang materi yang telah dipelajari dengan bertanya kepada teman-teman sekelas. Dari mereka, saya mengetahui bahwa dosen Bahasa Indonesia memberikan tugas yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari mahasiswa.

Setelah masa libur berakhir, saya kembali menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga, guru TK, sekaligus mahasiswa. Ketiga peran itu menuntut saya untuk pandai membagi waktu. 

Di tengah kesibukan tersebut, tugas dari dosen Bahasa Indonesia terus membayangi pikiran saya. Dalam hati, saya sempat bergumam, "Bagaimana ini, perkuliahan baru dimulai, tetapi sudah ada tugas yang harus diselesaikan?"

Setiap pagi saat mengajar di TK, saya sering melihat dosen Bahasa Indonesia melintas di depan kelas. Dari raut wajahnya yang tegas dan pembawaannya yang disiplin, saya merasa gugup dan sedikit takut. 

Perasaan itu semakin membebani, apalagi tugas yang diberikan belum juga selesai saya kerjakan. Setelah pulang mengajar, saya segera melanjutkan pengerjaan tugas tersebut. 

Awalnya saya bingung karena keseharian saya hampir selalu sama—mengurus keluarga, bekerja, dan belajar. Butuh usaha keras untuk menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan yang menarik. Namun akhirnya, tugas tersebut berhasil saya selesaikan tepat waktu.

Sebelum mengikuti perkuliahan tatap muka, saya sudah beberapa kali melihat dosen Bahasa Indonesia dari kejauhan dan membayangkan beliau sebagai sosok yang tegas dan cuek. Namun, pandangan itu berubah ketika perkuliahan tatap muka pada pertemuan ketiga berlangsung.

Saya datang ke kampus dengan perasaan gugup dan penuh kekhawatiran, takut tidak mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Akan tetapi, seiring berjalannya perkuliahan, saya mulai menyadari bahwa dosen Bahasa Indonesia bukan cuma sosok yang tegas, tetapi juga sangat peduli terhadap perkembangan mahasiswanya.

Pada pertemuan itu, dosen membahas sebuah berita tentang rendahnya kemampuan literasi peserta didik di Indonesia. Pembahasan tersebut membuat saya banyak merenung. 

Sebagai guru TK, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kebiasaan membaca dan belajar kepada anak-anak sejak usia dini. Materi ini semakin memotivasi saya untuk menjadi pendidik yang lebih baik bagi peserta didik saya.

Pada pertemuan keempat dan kelima, kami mempelajari berbagai materi penting seperti struktur teks, kalimat efektif, artikel, serta Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). 

Materi-materi tersebut sangat bermanfaat bagi saya, terutama dalam meningkatkan kemampuan menulis. Saya mulai memahami bahwa tulisan yang baik tidak hanya memiliki isi yang menarik, tetapi juga harus disusun secara sistematis, menggunakan bahasa yang tepat, dan mengikuti kaidah kebahasaan yang benar.

Pada pertemuan keenam, kami mempelajari teknik membaca efektif serta persiapan penulisan artikel dan resensi. Materi membaca efektif menjadi yang paling berkesan bagi saya. 

Saya memperoleh pemahaman bahwa membaca efektif adalah kemampuan membaca dengan cepat, tepat, dan mampu memahami isi bacaan secara menyeluruh — keterampilan yang sangat membantu saya dalam memanfaatkan waktu belajar secara lebih efisien.

Tak kalah berkesan adalah materi penulisan resensi. Sebelumnya, saya sama sekali belum memahami apa itu resensi dan bagaimana cara menyusunnya. Dosen menjelaskan materi tersebut secara sistematis, mulai dari pengertian, struktur, hingga langkah-langkah penyusunannya. 

Penjelasan yang bertahap itu membuat saya lebih mudah memahami prosesnya. Dari pembelajaran ini, saya memperoleh keterampilan baru yang bermanfaat dalam mengulas dan menilai suatu karya secara objektif dan terstruktur.

Sebagai mahasiswa yang telah lama meninggalkan bangku pendidikan, saya tentu mengalami berbagai kesulitan dalam memahami materi. Namun, saya tidak pernah merasa malu untuk bertanya. 

Setiap kali ada hal yang belum saya pahami, saya selalu berusaha meminta penjelasan kepada dosen, baik saat perkuliahan berlangsung maupun melalui WhatsApp. Kabar bagusnya, beliau selalu memberikan bimbingan, arahan, dan respons yang baik sehingga saya merasa semakin percaya diri dalam belajar.

Melalui mata kuliah Bahasa Indonesia, saya memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru — mulai dari pentingnya literasi, cara menyusun tulisan, teknik membaca efektif, penulisan resensi, hingga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Mata kuliah ini di samping membuat kemampuan akademik saya meningkat, juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk terus berkembang sebagai mahasiswa sekaligus pendidik.

Perjalanan kuliah sambil bekerja dan mengurus keluarga memang tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus saya hadapi, mulai dari keterbatasan waktu, kelelahan fisik, hingga kesulitan mengikuti perkembangan teknologi dan materi perkuliahan. 

Namun, saya percaya bahwa setiap perjuangan akan memberikan hasil yang berharga, dan tidak ada kata terlambat untuk belajar dan meraih cita-cita. Oleh karena itu, saya akan terus berusaha menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya. Semoga ilmu yang saya peroleh dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta dunia pendidikan anak usia dini. 

Dan semoga perjalanan ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dapat terus hidup, meskipun usia bertambah dan tanggung jawab semakin banyak.

Penulis: Ayu Mentari (Guru TK Darul Hikmah sekaligus petugas pendataan Keluarga Berencana (KB). Ia juga merupakan mahasiswa Program Studi PIAUD STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Di tengah berbagai peran yang dijalani, Ayu tetap bersemangat mengembangkan diri dan berkomitmen menjadi pendidik yang lebih baik. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail: ayumentari924@gmail.com)

Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan