Awalnya Cuma Ngelirik, dan Akhirnya Tertarik

INTIinspira - Semester I telah usai, dan kini aku memasuki semester II. Tiga bulan yang lalu, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, semua pertemuan mata kuliah diadakan melalui Zoom, termasuk mata kuliah Bahasa Indonesia.

Pada pertemuan pertama, aku terlambat masuk. Bukan terlambat sih, lebih tepatnya saat aku masuk, jam mata kuliah Bahasa Indonesia hampir berakhir. Waktu itu, karena aku keasyikan membantu ibu memasak di dapur, aku lupa bahwa ada jadwal mata kuliah Bahasa Indonesia.

Setelah satu jam berlalu, aku baru teringat bahwa hari ini adalah pertemuan pertama mata kuliah Bahasa Indonesia. Aku pun buru-buru pergi ke kamar untuk mengambil HP. Saat setiap langkahku menuju kamar, hatiku terus berkata, "No, no, mati nih gue. Pasti dosen itu bakal marah."

Sebelum masuk Zoom, aku sudah membayangkan bagaimana nantinya dosen itu marah, bertanya ini dan itu, kenapa terlambat masuk, lalu berkata, "Kamu ini, pertemuan pertama saja sudah tidak disiplin. Bagaimana dengan pertemuan berikutnya?"

Dan yah, itu hanya pikiran negatifku saja.

Nyatanya, saat aku masuk Zoom, tinggal dua mahasiswi yang baru saja memperkenalkan diri. Setelahnya mereka keluar dari Zoom. Dan dosen itu pun tersenyum kepadaku.

Dengan nada sedikit lembut, dosen itu berkata, "Ini yang terlambat masuk ya?"

"Iya, maaf Pak. Tadi saya bantu ibu masak, jadinya saya lupa kalau hari ini ada jadwal Zoom sama Bapak" ujarku dengan rasa bersalah.

Setelah itu aku dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Aku pun memperkenalkan diriku. Akhirnya aku bisa mengembuskan napas lega. Kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan.

Karena aku orangnya parnoan, sering menerka-nerka sesuatu secara berlebihan, semenjak hari itu aku tahu satu hal bahwa Tidak semua kegelisahanmu itu realitasnya.

Terkadang sesuatu yang kita perkirakan belum tentu menjadi kenyataan. Kita boleh mengukur, tetapi kehendaklah yang mengatur.

Minggu berikutnya, yaitu pada pertemuan kedua. Hari itu, syukurnya semesta berpihak kepadaku. Aku masuk Zoom tepat waktu dan mendengarkan penjelasan dosen mengenai materi Memahami Teks.

Sesekali aku menguap karena jadwal perkuliahannya sore, dan itu merupakan waktu rawan bagiku. Ditambah lagi kami harus menatap layar ponsel, duduk sendirian agar terhindar dari kericuhan, dan ditemani suara jangkrik selama perkuliahan.

Tanpa aku jelaskan pun, pasti kalian bisa membayangkannya.

Oh Tuhan!

Betapa membosankannya itu.

Dan waktu yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu jam perkuliahan telah usai. Akan tetapi, kami diberikan tugas membuat cerita berjudul "Keseharian di Bulan Ramadan", dan itu merupakan penyiksaan bagiku.

Sedikit informasi, aku memang tidak suka menulis, apalagi menulis cerita. Itu sama sekali bukan hobiku. Akan tetapi, aku hobi membaca cerita, seperti novel.

Kalau dipikir-pikir lucu juga sih. Memang ada ya orang yang suka membaca cerita tetapi tidak suka menulis cerita? Kalau ada, ya itulah aku orangnya.

Oke, stop!

Kita kembali ke topik.

Setelah memberikan tugas, dosen itu berkata, "Tugas paling lambat dikumpulkan pada pertemuan ketiga nanti setelah Lebaran."

Aku pun mengucap syukur karena diberikan batas waktu yang cukup panjang. Prinsipku saat itu adalah: Kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?

Aku sadar itu bukan prinsip yang layak dicontoh. Jadi, jangan dicontoh ya, teman-teman.

Masa libur telah usai. Perkuliahan tatap muka pun dimulai.

Hari pertama masuk mata kuliah Bahasa Indonesia secara tatap muka, aku melangkah ke ruang aula yang bernuansa putih itu dengan perasaan biasa saja, bahkan sedikit acuh tak acuh.

Di dalam pikiranku terlintas, "Ini pasti sama seperti pelajaran di sekolah dulu. Banyak hafalan aturan tata bahasa, rumus kalimat, dan tugas menulis yang membosankan. Buang-buang waktu saja rasanya."

Karena berpikir demikian, aku pun memilih duduk di pojokan.

Lima menit kemudian dosen masuk dengan wibawa dan postur yang tegap. Saat itu hati mungilku berkata, "Pasti Bapak itu cuek dan irit bicara."

Namun siapa sangka, sebelum masuk ke pembahasan materi, dosen itu menyapa kami dengan ramah dan penuh semangat.

Runtuh sudah kesan pertamaku.

Saat dosen menjelaskan materi, mataku hanya sesekali melirik ke arah papan tulis. Lebih sering pandanganku terarah ke luar jendela, memainkan pulpen di tangan, atau sesekali mengecek HP siapa tahu ada notifikasi penting.

Tujuanku saat itu sederhana: cukup hadir, mendengarkan sekilas, mengerjakan tugas seadanya, dan mendapatkan nilai yang cukup untuk lulus.

Selama tiga pertemuan awal, kondisinya tetap sama. Menurutku tidak ada materi yang mengesankan. Bahasa Indonesia terasa seperti beban tambahan yang tidak ada gunanya.

Sampai pada pertemuan keenam, sesuatu mulai mengubah cara pandangku terhadap Bahasa Indonesia.

Dulu kukira mata kuliah Bahasa Indonesia hanyalah pembelajaran yang membosankan karena cuma mengajarkan materi-materi dasar, sama seperti pembelajaran di sekolah dulu.

Namun melalui materi Teknik Membaca Efektif, aku mulai memahami bahwa Bahasa Indonesia di kampus tidak hanya mengajarkan cara menulis yang benar, tetapi juga mengajarkan bagaimana memahami sebuah buku tanpa harus membaca semuanya, serta bagaimana menyampaikan pikiran dengan jelas.

Semakin lama, aku mulai menyadari bahwa semua materi ini ternyata sangat berguna.

Sejak saat itu, rasa penasaranku mulai tumbuh. Aku tidak lagi hanya melirik sekilas, tetapi mulai memperhatikan setiap penjelasan.

Sebagaimana judul ceritaku di atas, Awalnya Cuma Ngelirik, dan Akhirnya Tertarik.

Setelah beberapa pertemuan, tibalah saatnya Ujian Tengah Semester (UTS).

Dosen memberikan tugas membuat resensi buku yang nantinya dijadikan nilai ujian. Ini merupakan tugas yang cukup rumit bagiku. Aku bingung bagaimana cara membuatnya dan seperti apa bentuk resensi buku itu.

Namun seketika kebingunganku hancur lebur saat dosen memberikan contoh dan dengan sabar menjelaskan langkah-langkah membuat resensi buku.

Dosen itu mengatakan, "Walau tidak sempurna tidak mengapa, karena kita sedang belajar. Terus semangat, jangan takut salah. Salah adalah bagian dari proses belajar."

Kalimat Jangan takut salah membuatku berani untuk mencoba, meskipun aku tahu mungkin itu hanya kata-kata penenang saja.

Satu kesanku untuk dosen pengampu: Beliau tidak menuntut kami menjadi sempurna, tetapi menuntun kami menuju kesempurnaan.

Saat itu aku mulai membuat resensi buku pertamaku yang kuambil dari novel Kanagara karya Isma.

Setelah berhasil menyelesaikan resensi buku tersebut, aku merasa lega karena sesuatu yang tadinya terasa rumit akhirnya bisa kutuntaskan, meskipun masih ada beberapa kesalahan.

Intinya, aku tidak perlu takut mencoba hanya karena takut melakukan kesalahan.

Ada satu potongan ayat dalam Surah Al-Baqarah yang cocok dengan judul ceritaku ini:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat ini Allah telah menjelaskan bahwa tidak selamanya segala sesuatu yang terasa berat dan sulit akan membawa penderitaan. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap baik justru menjadi keburukan bagi kita.

Apa yang tadinya terasa berat, membosankan, dan menyulitkan, kini membuatku mulai melihat Bahasa Indonesia bukan sekadar mata kuliah, melainkan jembatan untuk mengembangkan kemampuan diri.

Aku menyadari bahwa dengan menguasai bahasa ini, aku bisa menyampaikan pikiran dengan lebih jelas dan memahami informasi dengan lebih baik.


Penulis: Dewi Mardiana (Mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Lulusan MAN 2 Aceh Barat ini juga pernah menempuh pendidikan di Pesantren MIS BUDI MESJA. Memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam mencetak generasi yang kreatif, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat melalui dunia pendidikan. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewimardiana144@gmail.com
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan