Sumbu Filosofi Yogyakarta: Ketika Tata Ruang Kota Tewujud dalam Tata Krama Manusia
INTIinspira - Kota Yogyakarta adalah kota kelahiran saya yang identik dengan tata krama dan budaya yang halus dan berakar dari budaya Jawa keraton, yang di mana menekankan pada kesopanan, kelembutan, dan penghormatan terhadap orang lain.
Seperti yang kita ketahui bahwa kota Yogyakarta adalah satu-satunya wilayah kerajaan di Indonesia yang masih dipimpin secara resmi oleh seorang Sultan dalam sistem monarki Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Apakah hal tersebut hanya sebagai simbol budaya? Tentu saja tidak, tata krama yang lembut di Yogyakarta adalah sebuah produk kebudayaan yang lahir dari ruang kota yang yang sakral.
Terdapat "Sumbu Filosofi Yogyakarta" yang menjadi fondasi spiritual. Mengapa sumbu filosofi menjadi warisan budaya?
Hal tersebut dari pertimbangan utamanya adalah dari nilai keunikan, karena Yogyakarta merupakan satu-satunya kota di dunia yang memiliki garis imajiner yang menyimbolkan fase perjalanan hidup manusia dan nilai universal.
Hal ini berlaku untuk semua manusia terlepas dari latar belakang etnis dan ras, sosio-ekonomi, Sosio budaya, dan lain sebagainya.
Masyarakat Yogyakarta mencerminkannya dengan sikap andhap asor (rendah hati) dan kelembutan tutur kata masyarakat Yogyakarta.
Saat kita melewati jalanan bersejarah di koridor filosofis ini, kita akan sering menjumpai warga lokal yang membungkukkan badan (ngluruk) sambil mengucapkan "nuwun Sewu" (permisi) sebagai simbol penghormatan kepada sesama manusia, yang selaras dengan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana untuk menjaga keharmonisan alam dan sosial.
Sumbu filosofi adalah garis imajiner sepanjang 6 KM yang menghubungkan panggung Krapyak di Selatan, Keraton Yogyakarta di tengah, dan tugu Pal Putih di utara yang dirancang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755.
Secara simbolis filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum min Allah), dan manusia dengan manusia( hablum min annas).
Selain itu sumbu filosofis juga simbol keselarasan manusia dengan alam, termasuk 5 analisis pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi ngayogyakarta, dan air (tirta) dari Laut Selatan, angin (maruta) dan akasa (ether).
Kawasan sumbu filosofi Yogyakarta juga telah diresmi ditetapkan sebagai warisan budaya dunia melalui sidang UNESCO di Riyadh, Arab Saudi pada hari Senin 18 September 2023.
Sumbu filosofi Yogyakarta juga memiliki nama lain yang disebut the Cosmological Axis of Yogyakarta and it's Historical Landmark yang diajukan sebagai warisan budaya dunia tak benda sejak 2014 silam.
Jika ditelaah kembali, maka sumbu filosofi itu sebagai akar spiritualnya, sementara kelembutan tutur kata orang Jogja adalah buah dari kebudayaan itu sendiri.
Saat tata ruang kota mengajarkan soal keselarasan hidup, masyarakatnya langsung mempraktikkannya lewat tata krama yang santun dan obrolan yang hangat.
Disitulah magisnya Jogja, kotanya dibangun dengan filosofi yang mendalam, namun orang-orangnya tetap menyapa kita dengan kerendahan hati yang sangat membumi.
Sumbu Filosofi Yogyakarta dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Dari filosofi tersebut, kita belajar bahwa sikap hormat kepada orang lain, rendah hati, serta mampu menjaga tutur kata merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah budaya yang serba instan dan kecenderungan untuk menonjolkan diri, nilai andhap asor mengajarkan bahwa seseorang tetap dapat berprestasi tanpa harus merendahkan orang lain.
Sumbu Filosofi Yogyakarta juga mengajarkan pentingnya hidup secara seimbang. Anak muda tidak hanya dituntut untuk mengejar pendidikan, karier, atau kesuksesan pribadi, tetapi juga perlu menjaga hubungan dengan Tuhan, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki kepekaan sosial terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menghargai perbedaan pendapat, membantu orang yang membutuhkan, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan media sosial secara bijak.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari filosofi ini adalah bahwa menjadi manusia yang baik tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Inilah yang membuat Sumbu Filosofi Yogyakarta tetap relevan: ia tidak hanya berbicara tentang tata ruang sebuah kota, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.
Penulis: Suma Arifa'atun (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Foto: Ilustrasi Sumbu filosofi Yogyakarta/dibuat dengan AI


