Nilai-Nilai Kebersamaan dalam Tradisi Khanduri Blang di Aceh

INTIinspira - Khanduri Blang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah gampong di Aceh. Menjelang musim tanam, warga berkumpul di kawasan persawahan untuk berdoa, memasak, dan makan bersama.

Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun ini biasanya dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Allah sekaligus harapan agar musim tanam berjalan lancar dan hasil panen membawa keberkahan.

Saya berkesempatan mengikuti 
Khanduri Blang di kampung beberapa waktu lalu. Sejak pagi jalan menuju area persawahan sudah ramai oleh warga yang datang bersama keluarga. 

Orang tua, pemuda, ibu-ibu, hingga anak-anak tampak memenuhi lokasi kegiatan.

Suasananya berbeda dari hari-hari biasa. Sawah yang biasanya menjadi tempat bekerja berubah menjadi ruang pertemuan bagi seluruh warga kampung.

Setibanya di lokasi, berbagai kesibukan sudah berlangsung. Beberapa warga menyiapkan tempat berkumpul, sementara yang lain membawa perlengkapan memasak dan kebutuhan acara. Tidak ada pembagian tugas yang rumit.

Orang-orang langsung mengambil pekerjaan yang bisa mereka kerjakan. Sebagian mengangkat peralatan, sebagian lagi membantu menata lokasi, sementara yang lain menyambut warga yang baru datang.

Di salah satu sudut sawah, bapak-bapak sedang mempersiapkan kambing yang akan disembelih. Di sekitarnya warga berkumpul sambil berbincang santai. Ada yang membahas kondisi sawah, ada yang bertukar kabar tentang keluarga, dan ada pula yang sekadar menikmati suasana.

Tawa dan percakapan terdengar di berbagai sudut. Kesempatan seperti ini membuat banyak orang yang jarang bertemu kembali duduk bersama.

Setelah proses penyembelihan selesai, daging dibersihkan dan dibagikan kepada ibu-ibu yang bertugas memasak. Tidak lama kemudian asap mulai mengepul dari tungku-tungku yang didirikan di pinggir sawah.

Beberapa orang mengaduk gulai dalam kuali besar, sebagian menyiapkan nasi, sementara yang lain membersihkan bahan masakan. Pekerjaan berlangsung sambil diselingi percakapan dan candaan yang membuat suasana terasa hangat.

Sambil menunggu makanan matang, anak-anak bermain di pematang sawah. Mereka berlarian dan bercanda dengan teman-teman sebaya.

Di tempat lain, para petani duduk berkelompok membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan musim tanam yang akan datang. 

Ada yang berbagi pengalaman tentang kondisi lahan, ada yang membahas cuaca, dan ada pula yang menceritakan hasil panen tahun sebelumnya. Obrolan berlangsung santai tanpa batasan formal.

Menjelang siang, makanan yang dimasak bersama mulai siap disajikan. Warga kemudian berkumpul untuk menikmati hidangan di sekitar area persawahan. Mereka duduk berdampingan sambil berbagi cerita.

Suasana makan bersama itu menghadirkan keakraban yang sulit ditemukan dalam keseharian ketika masing-masing orang sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri.

Di tengah keramaian, saya melihat beberapa warga membungkus makanan untuk dibawa pulang kepada anggota keluarga yang tidak sempat hadir. 

Kebiasaan seperti itu sudah dianggap biasa oleh masyarakat kampung. Makanan yang tersedia tidak hanya dinikmati oleh mereka yang hadir di lokasi, tetapi juga dibagikan kepada kerabat dan tetangga.

Menjelang akhir kegiatan, seluruh warga berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat. Dengan khusyuk mereka memohon kepada Allah agar sawah terhindar dari hama, tanaman tumbuh dengan baik, dan panen yang akan datang memberikan hasil yang memadai.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, harapan-harapan tersebut memiliki arti yang sangat penting.

Menurut para orang tua di kampung, 
Khanduri Blang telah dilaksanakan sejak lama dan terus dijaga hingga sekarang. Setiap generasi tumbuh dengan menyaksikan tradisi yang sama.

Anak-anak yang hari ini bermain di sekitar sawah kelak akan mengambil peran yang pernah dijalankan oleh orang tua mereka.

Pengalaman mengikuti 
Khanduri Blang membuat saya melihat bagaimana sebuah tradisi tetap bertahan karena masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Warga datang, bekerja bersama, memasak, makan, dan berdoa dalam satu rangkaian kegiatan yang sederhana.

Di tengah acara, tidak ada hal yang tampak istimewa. Namun dari pertemuan-pertemuan seperti itulah hubungan antarwarga terus terpelihara.

Kehidupan masyarakat kampung memang tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan untuk saling membantu dan saling mengenal satu sama lain. 
Khanduri Blang menjadi salah satu ruang yang mempertemukan semua itu. 

Tradisi ini tetap hidup bukan karena dipertahankan sebagai simbol masa lalu, melainkan karena masih dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga hari ini.

Penulis: Riza Muliani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan