Dari Bosan Menjadi Berkesan: Catatan dari Kelas Bahasa Indonesia
INTIinspira - Semester I sudah selesai, kini Semester II akan menjadi perjalanan yang kutempuh. Aku berharap tak ada mata kuliah yang membosankan atau merepotkan.
Namun, sepertinya takdir tidak merestui doaku, buktinya, Bahasa Indonesia adalah mata kuliah wajib yang harus kuambil semester ini.
Sejak sekolah menengah, Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan bagiku.
Sejak sekolah menengah, Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan bagiku.
Mungkin karena tak ada hal baru yang benar-benar kudapatkan, sebab guru yang mengajar lebih sering bercerita tentang kesuksesan anaknya daripada menjelaskan materi.
Padahal, dulu saat SD, pelajaran ini adalah yang paling kusukai. Mungkin karena aku menyukai cerita, puisi, dan hal-hal yang berbau sastra. Namun, semuanya berubah membosankan sejak guru itu mengajar.
Padahal, dulu saat SD, pelajaran ini adalah yang paling kusukai. Mungkin karena aku menyukai cerita, puisi, dan hal-hal yang berbau sastra. Namun, semuanya berubah membosankan sejak guru itu mengajar.
Kesan itulah yang terus kubawa hingga masuk kuliah. Jika Matematika adalah pelajaran yang menyebalkan, maka Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan. Dan kurasa itu tidak akan berubah.
Hari itu adalah pertemuan pertama mata kuliah Bahasa Indonesia melalui Zoom. Perkuliahan berjalan lancar dan semuanya terasa biasa saja.
Dosen memperkenalkan diri, lalu menjelaskan gambaran mata kuliah yang akan kami tempuh, perkenalan singkat yang lumrah di awal semester. Lalu tanpa kusadari pertemuan pertama sudah selesai. Tak ada kesan menarik. Kurasa ini akan menjadi mata kuliah yang amat membosankan. Begitulah pikiranku kala itu.
Dosen memperkenalkan diri, lalu menjelaskan gambaran mata kuliah yang akan kami tempuh, perkenalan singkat yang lumrah di awal semester. Lalu tanpa kusadari pertemuan pertama sudah selesai. Tak ada kesan menarik. Kurasa ini akan menjadi mata kuliah yang amat membosankan. Begitulah pikiranku kala itu.
Waktu pun terus berputar. Seminggu berlalu begitu cepat dan hari itu adalah pertemuan kedua.
"Oh, tidak. Lampunya padam!"
Jaringanku sedang bermasalah. Aku juga tidak memiliki kuota internet karena biasanya menggunakan Wi-Fi ketika berada di rumah. Aku mengumpat kesal, melempar ponsel sembarangan, lalu mengambil buku cerita yang biasa kubaca untuk menghilangkan rasa kesal yang menyelimuti diriku.
Cukup lama waktu berlalu sampai akhirnya listrik kembali menerangi desa. Langit yang hampir menguning karena cahaya senja perlahan berubah gelap.
Notifikasi mulai menyerang benda pipih yang kusebut ponsel itu. Aku mencoba membuka Zoom, namun sayang perkuliahan sudah selesai dan artinya aku akan dianggap absen pada pertemuan kali ini.
Hal itu cukup membuatku kesal, tapi siapa yang bisa kusalahkan? PLN yang sedang mengalami gangguan atau diriku sendiri yang tidak membeli kuota internet? Namun, tak ada gunanya memikirkan hal itu lagi.
Nasi sudah menjadi bubur dan kejadian yang telah berlalu tak bisa diulang kembali. Kita hanya bisa merancang masa depan agar ke depannya menjadi lebih baik. Begitulah prinsip hidupku.
Senja mulai menghiasi langit dengan corak merah dan kuning, pertanda waktu Magrib akan segera tiba. Namun, aku masih sibuk dengan pensil dan selembar kertas, menceritakan dengan apik kegiatanku saat Ramadan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia pada pertemuan kedua.
Bagiku, kegiatan ini terasa menyenangkan karena menulis cerita adalah hobi yang sudah berakar di jiwaku sejak menginjak usia 13 tahun.
Masa libur telah usai. Kini saatnya para pekerja kembali dengan kesibukannya, para guru mulai menyiapkan materi pembelajaran, dan mahasiswa seperti kami kembali disibukkan oleh jadwal perkuliahan.
Pertemuan ketiga dilaksanakan di ruang aula. Ruangan bercat putih itu terasa begitu sederhana dan menyenangkan. Tak lama kemudian, dosen memasuki ruangan. Semuanya diam. Suasana yang tadinya menenangkan kini terasa agak menegangkan.
"Sepertinya bapak itu galak," bisikku kepada teman di sebelahku. Balasannya hanya berupa anggukan kepala yang nampaknya membenarkan pendapatku.
Hal itu cukup membuatku kesal, tapi siapa yang bisa kusalahkan? PLN yang sedang mengalami gangguan atau diriku sendiri yang tidak membeli kuota internet? Namun, tak ada gunanya memikirkan hal itu lagi.
Nasi sudah menjadi bubur dan kejadian yang telah berlalu tak bisa diulang kembali. Kita hanya bisa merancang masa depan agar ke depannya menjadi lebih baik. Begitulah prinsip hidupku.
Senja mulai menghiasi langit dengan corak merah dan kuning, pertanda waktu Magrib akan segera tiba. Namun, aku masih sibuk dengan pensil dan selembar kertas, menceritakan dengan apik kegiatanku saat Ramadan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia pada pertemuan kedua.
Bagiku, kegiatan ini terasa menyenangkan karena menulis cerita adalah hobi yang sudah berakar di jiwaku sejak menginjak usia 13 tahun.
Masa libur telah usai. Kini saatnya para pekerja kembali dengan kesibukannya, para guru mulai menyiapkan materi pembelajaran, dan mahasiswa seperti kami kembali disibukkan oleh jadwal perkuliahan.
Pertemuan ketiga dilaksanakan di ruang aula. Ruangan bercat putih itu terasa begitu sederhana dan menyenangkan. Tak lama kemudian, dosen memasuki ruangan. Semuanya diam. Suasana yang tadinya menenangkan kini terasa agak menegangkan.
"Sepertinya bapak itu galak," bisikku kepada teman di sebelahku. Balasannya hanya berupa anggukan kepala yang nampaknya membenarkan pendapatku.
Namun, semuanya terbantahkan saat dosen tersebut mulai menyapa kami dengan gaya santai dan senyum ceria penuh semangat. Seketika ruangan terasa lebih hangat.
Tak lama kemudian, dosen memperlihatkan berita yang menarik, yaitu ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali, tidak bisa membaca.
Dari 34.062 siswa, sebanyak 155 siswa dinyatakan tidak bisa membaca, sementara 208 siswa termasuk dalam kategori belum lancar membaca.
Tak lama kemudian, dosen memperlihatkan berita yang menarik, yaitu ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali, tidak bisa membaca.
Dari 34.062 siswa, sebanyak 155 siswa dinyatakan tidak bisa membaca, sementara 208 siswa termasuk dalam kategori belum lancar membaca.
Jika 155 siswa tidak bisa membaca, mungkin masih dapat dimaklumi jika mereka duduk di kelas 2 SD. Namun, kenyataannya mereka adalah siswa SMP. Ternyata kesempatan Indonesia untuk menjadi negara maju masih sangat kecil.
Setelah selesai menjelaskan berita yang amat mengejutkan itu, dosen menjelaskan betapa pentingnya membaca.
Dosen yang biasa kami panggil Pak Arizul lalu lanjut menjelaskan Taksonomi Bloom, yaitu tingkatan proses berpikir dalam belajar yang meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Seiring berjalannya waktu, perkuliahan Bahasa Indonesia berlangsung dengan lancar pada setiap pertemuan.
Setelah selesai menjelaskan berita yang amat mengejutkan itu, dosen menjelaskan betapa pentingnya membaca.
Dosen yang biasa kami panggil Pak Arizul lalu lanjut menjelaskan Taksonomi Bloom, yaitu tingkatan proses berpikir dalam belajar yang meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Seiring berjalannya waktu, perkuliahan Bahasa Indonesia berlangsung dengan lancar pada setiap pertemuan.
Sedikit demi sedikit, pandanganku terhadap mata kuliah ini mulai berubah. Ternyata, ada banyak hal yang belum kuketahui tentang bahasa yang setiap hari kugunakan.
Aku mulai memahami perbedaan antara kalimat efektif dan kalimat yang bertele-tele. Awalnya aku mengira semua kalimat itu sama saja selama bisa dipahami. Ternyata tidak.
Sebuah kalimat bisa dibuat lebih singkat, lebih jelas, dan lebih mudah dipahami tanpa mengubah maknanya.
Selain itu, aku juga belajar tentang penggunaan kata depan di. Dulu aku sering bingung kapan harus ditulis terpisah dan kapan harus disambung.
Sekarang aku tahu ternyata kuncinya sederhana: jika di bertemu dengan kata kerja, maka penulisannya disambung, seperti pada kata ditulis, dibaca, dan dikerjakan.
Namun, jika tidak bertemu kata kerja, misalnya saat menunjukkan tempat seperti di kampus atau di rumah, maka di ditulis terpisah.
Hal yang tampaknya sepele, tapi selama ini sering kugunakan dengan asal-asalan tanpa benar-benar memahami alasannya.
Aku juga belajar tentang bagaimana penggunaan huruf kapital, cetak miring, kata berimbuhan, kata ulang, serta berbagai aturan penulisan lainnya yang selama ini sering luput dari perhatianku.
Hal-hal yang terlihat sederhana ternyata cukup penting dalam sebuah tulisan.
Tidak hanya memberikan materi, Pak Arizul juga sering meminta kami memperbaiki sebuah tulisan agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Menurutku, kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami dapat mengetahui kesalahan-kesalahan yang selama ini sering dilakukan tanpa sadar. Kadang ada kesalahan penggunaan huruf kapital, tanda baca, kata baku, atau kalimat yang kurang efektif.
Dari situlah aku mulai menyadari bahwa menulis ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Dari sekian banyak materi yang dipelajari, ada satu materi yang paling kusukai, yaitu membuat resensi buku.
Awalnya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa membuat resensi buku akan menjadi materi favoritku.
Justru saat Pak Arizul mengumumkan bahwa tugas Ujian Tengah Semester (UTS) adalah membuat resensi buku, aku langsung merasa tugas itu akan menjadi mimpi buruk.
Bagaimana tidak? Aku belum pernah membuat resensi buku secara serius sebelumnya, bahkan tidak terlalu memahami apa saja yang harus ditulis di dalamnya. Saat itu, tugas tersebut terlihat rumit dan cukup menakutkan.
Namun, Pak Arizul tidak membiarkan kami kebingungan sendirian. Beliau dengan sabar menjelaskan langkah demi langkah cara membuat resensi.
Mulai dari menuliskan identitas buku, membuat sinopsis, menjelaskan kelebihan dan kekurangan buku, hingga menyusun kesimpulan. Penjelasan itu membuatku perlahan mulai memahami apa yang harus kulakukan.
Untuk tugas tersebut, aku memilih buku Bidadari Bumi. Proses pengerjaannya tidak mudah. Aku harus membaca buku dengan lebih teliti, memahami isi ceritanya, lalu menuangkan pemahaman ke dalam bentuk tulisan.
Beberapa kali aku merasa kesulitan menyusun kalimat dan menentukan bagian yang perlu dibahas. Namun, sedikit demi sedikit tugas itu mulai terselesaikan.
Di tengah proses pengerjaan, aku mulai menikmati kegiatan meresensi buku. Aku tidak hanya membaca cerita, tetapi juga belajar memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.
Aku belajar melihat sebuah buku dari sudut pandang yang berbeda dan mengemukakan pendapatku sendiri tentang buku tersebut.
Ketika resensi buku Bidadari Bumi akhirnya selesai, ada perasaan puas yang sulit dijelaskan. Tugas yang awalnya terasa sangat sulit akhirnya berhasil kuselesaikan.
Saat itulah aku teringat sebuah pendapat yang mengatakan bahwa "Yang paling sulit diraih, sering kali menjadi yang paling kita sukai".
Menurutku, kalimat itu sangat cocok dengan pengalamanku saat membuat resensi buku. Tugas yang awalnya paling kutakuti justru menjadi materi yang paling kusukai selama mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia.
Dari materi itu, aku belajar bahwa tantangan tidak selalu harus dihindari. Kadang-kadang, justru dari tantangan itulah kita mendapatkan pengalaman yang paling berkesan.[]
Aku mulai memahami perbedaan antara kalimat efektif dan kalimat yang bertele-tele. Awalnya aku mengira semua kalimat itu sama saja selama bisa dipahami. Ternyata tidak.
Sebuah kalimat bisa dibuat lebih singkat, lebih jelas, dan lebih mudah dipahami tanpa mengubah maknanya.
Selain itu, aku juga belajar tentang penggunaan kata depan di. Dulu aku sering bingung kapan harus ditulis terpisah dan kapan harus disambung.
Sekarang aku tahu ternyata kuncinya sederhana: jika di bertemu dengan kata kerja, maka penulisannya disambung, seperti pada kata ditulis, dibaca, dan dikerjakan.
Namun, jika tidak bertemu kata kerja, misalnya saat menunjukkan tempat seperti di kampus atau di rumah, maka di ditulis terpisah.
Hal yang tampaknya sepele, tapi selama ini sering kugunakan dengan asal-asalan tanpa benar-benar memahami alasannya.
Aku juga belajar tentang bagaimana penggunaan huruf kapital, cetak miring, kata berimbuhan, kata ulang, serta berbagai aturan penulisan lainnya yang selama ini sering luput dari perhatianku.
Hal-hal yang terlihat sederhana ternyata cukup penting dalam sebuah tulisan.
Tidak hanya memberikan materi, Pak Arizul juga sering meminta kami memperbaiki sebuah tulisan agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Menurutku, kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami dapat mengetahui kesalahan-kesalahan yang selama ini sering dilakukan tanpa sadar. Kadang ada kesalahan penggunaan huruf kapital, tanda baca, kata baku, atau kalimat yang kurang efektif.
Dari situlah aku mulai menyadari bahwa menulis ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Dari sekian banyak materi yang dipelajari, ada satu materi yang paling kusukai, yaitu membuat resensi buku.
Awalnya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa membuat resensi buku akan menjadi materi favoritku.
Justru saat Pak Arizul mengumumkan bahwa tugas Ujian Tengah Semester (UTS) adalah membuat resensi buku, aku langsung merasa tugas itu akan menjadi mimpi buruk.
Bagaimana tidak? Aku belum pernah membuat resensi buku secara serius sebelumnya, bahkan tidak terlalu memahami apa saja yang harus ditulis di dalamnya. Saat itu, tugas tersebut terlihat rumit dan cukup menakutkan.
Namun, Pak Arizul tidak membiarkan kami kebingungan sendirian. Beliau dengan sabar menjelaskan langkah demi langkah cara membuat resensi.
Mulai dari menuliskan identitas buku, membuat sinopsis, menjelaskan kelebihan dan kekurangan buku, hingga menyusun kesimpulan. Penjelasan itu membuatku perlahan mulai memahami apa yang harus kulakukan.
Untuk tugas tersebut, aku memilih buku Bidadari Bumi. Proses pengerjaannya tidak mudah. Aku harus membaca buku dengan lebih teliti, memahami isi ceritanya, lalu menuangkan pemahaman ke dalam bentuk tulisan.
Beberapa kali aku merasa kesulitan menyusun kalimat dan menentukan bagian yang perlu dibahas. Namun, sedikit demi sedikit tugas itu mulai terselesaikan.
Di tengah proses pengerjaan, aku mulai menikmati kegiatan meresensi buku. Aku tidak hanya membaca cerita, tetapi juga belajar memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.
Aku belajar melihat sebuah buku dari sudut pandang yang berbeda dan mengemukakan pendapatku sendiri tentang buku tersebut.
Ketika resensi buku Bidadari Bumi akhirnya selesai, ada perasaan puas yang sulit dijelaskan. Tugas yang awalnya terasa sangat sulit akhirnya berhasil kuselesaikan.
Saat itulah aku teringat sebuah pendapat yang mengatakan bahwa "Yang paling sulit diraih, sering kali menjadi yang paling kita sukai".
Menurutku, kalimat itu sangat cocok dengan pengalamanku saat membuat resensi buku. Tugas yang awalnya paling kutakuti justru menjadi materi yang paling kusukai selama mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia.
Dari materi itu, aku belajar bahwa tantangan tidak selalu harus dihindari. Kadang-kadang, justru dari tantangan itulah kita mendapatkan pengalaman yang paling berkesan.[]
Penulis: Mukaramah (Alumnus Dayah Raudhatul Mubarakah Darul Munawarah, Aceh Barat. Saat ini sedang menempuh studi di Program Studi PIAUD STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Memiliki minat dalam menggambar, melukis, menulis komik dan novel, serta mendengarkan musik. Bercita-cita menjadi komikus sekaligus guru PIAUD yang kreatif, teladan, dan bermanfaat bagi masyarakat. Penulis dapat dihubungi melalui mukaramah969@gmail.com).
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Foto: Dok. untuk INTIinspira


