Perpustakaan Ali Hasjimi, Apa Kabarmu Kini?

INTIinspira - Saya membuka lemari tua dan menyaksikan deretan buku hikayat, hadih maja, pantun, adat istiadat, dan beberapa genre lainnya.

Andai ada yang mau mengkaji satu deret saja dari buku-buku ini, saya yakin ia bisa menyelesaikan gelar dari S-1 sampai S-3, mampu menapaki jejak karier akademik dari Asisten Ahli sampai Profesor. Atau jika ada yang mau jadi legenda bebas, menulis dan mengkaji warisan-warisan perpustakaan ini secara bebas, tentu ia juga dapat hidup dari sini.

Khazanah ini begitu berharga; bisa menjadi legacy bagi siapa saja, peluang bagi anak muda serta pecinta literasi dan sejarah.

Buku-buku yang tidak bisa menolak ketuaannya itu, hari ini sepertinya sudah memasrahkan diri. Andai buku-buku bisa bicara, mereka akan berucap pasrah, "Jikapun dilupakan, kami bisa apa?" Di sana juga ada sejarah Aceh, buku-buku pembangunan dan pendidikan yang kebanyakan terbit pada tahun 1970-an dan 1980-an, bernuansa nisan; bahkan sebelum mengumumkan kematiannya.

Waktu memaksa buku-buku itu menjauh begitu cepat, dan ruang penyimpanan yang tanpa mekanisme perawatan yang memadai, membuatnya semakin cepat pergi. Hanya selembar papan yang akan mengakhiri, dan ketika kita ingin berkunjung kembali, dia tidak ada lagi.

Terakhir saya mengunjungi perpustakaan ini sekitar tahun 2016 atau 2017 ketika mencari teks-teks Syekh Hamzah Fansuri. Waktu itu saya menemukan buku legendaris milik Syed Muhammad Naquib Al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri, dan buku Ali Hasjimi, Ruba'i Hamzah Fansuri.

Hari ini, entah karena saya tergesa-gesa, sepertinya buku itu sudah berpindah dari tempatnya, menyisakan dua legenda lainnya, yaitu Tasawuf yang Tertindas milik Abdul Hadi W.M. dan Poems of Hamzah Fansuri oleh G.W. Drewes dan L.F. Brakel. Saya tidak berani bertanya ke mana relik-relik tua milik Al-Attas dan Ali Hasjimi itu pergi?

Saya masih ingat, dulu sempat menyentuh dengan khidmat sampul The Mysticism of Hamzah Fansuri dan kaligrafi Burung Pingai pada sampulnya, dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca. Saya juga dapat merasakan kehangatan pena Ali Hasjimi ketika ia mentransliterasi karya Syamsuddin Sumatrani dalam Ruba'i Hamzah Fansuri itu.

Kunjungan yang dipaksakan ini juga dalam rangka ingin menziarahi kembali nuansa lama yang menggetarkan. Namun nuansa yang sama tak lagi terasa. Mungkin karena perburuan terkait SPPD yang dibatasi oleh waktu, digerakkan oleh dana penelitian, tetapi nyaris kehilangan ruh jihadnya.

Beda sekali dengan hari-hari pada tahun 2017 dulu. Bersemangat mencari referensi bukan karena ingin cepat selesai kuliah, tetapi ingin merengkuh sebanyak mungkin nuansa, aura, aroma debu yang lekat, lamat, dan nostalgia.

Andai isi lemari ini dipelihara dan ada keinginan pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan kepustakaan dan warisan ide-ide bersejarah, tentu nuansanya akan berbeda.

Namun, hari ini museum yang diresmikan berkali-kali itu mungkin nyaris tutup berkali-kali. Siapa yang mau menunggui tempat yang tak lagi diminati ini?

Kelak, ketika bangunan bercorak Belanda ini berubah menjadi kafe, pada saat itu kita akan kehilangan lagi, untuk kesekian kalinya, sejarah itu sendiri.

Di tengah semua itu, saya mencoba bertanya tentang manuskrip kepada Pak Azhar, pria yan tak lagi muda namun setia menjaga warisan intelektual Ali Hasjimi ini. Ia menunjukkan sebuah buku katalog yang sampulnya juga sudah terlepas.

Berdasarkan katalog yang disusun oleh Oman Fathurrahman itu, manuskrip yang terkait dengan Syekh Hamzah Fansuri secara spesifik nyaris tidak ada. Jika pun ada, itu adalah apa yang ditulis oleh Syekh Burhanpuri, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdurrauf Singkel, dan Syekh Jalaluddin. Manuskrip Syekh Hamzah Fansuri memang tidak ada di sini.

Pada akhirnya, perburuan kami hanya menemukan satu kesan. Perpustakaan Ali Hasjimi telah kehilangan semangatnya; kecuali dalam seremoni dan formalitas semata.

Detak puisi Aku Serdadumu yang dipajang di sisi pintu juga tidak lagi menggetarkan. Semuanya terasa mengering.

Dan kita berkali-kali memilih pemimpin yang tidak memiliki kepekaan literasi; apalagi berfikir untuk menjaga warisan indatu.

Akhirnya, jarak antara kami hanya dipisahkan oleh papan dan debu. Kelak jika ia mati, tak ada lagi. Tapi siapa juga yang mau peduli? Toh pada akhirnya juga, semua akan menjadi debu. Begitu ya?

Penulis: Ramli Cibro (Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan