Belajar Bahasa, Belajar Memberi Makna: Sebuah Catatan Mahasiswa
INTIinspira - Aku duduk termenung. Dalam hati aku berbisik, benarkah aku kembali mengikuti perkuliahan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan setelah 15 tahun berlalu?
Awalnya, aku sempat ragu apakah mampu mengikuti perkuliahan lagi setelah sekian lama meninggalkannya. Namun, aku mencoba mengesampingkan keraguan itu dan menjalani semuanya selangkah demi selangkah.
Tanpa terasa, semester satu telah berlalu. Kini aku akan menjalani semester dua yang akan berlangsung selama enam bulan ke depan. Aku berharap semuanya berjalan dengan lancar. Pada semester ini, ada banyak mata kuliah yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah Bahasa Indonesia.
Menurutku, pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang cukup membosankan karena aku sendiri tidak terlalu suka membaca. Namun, apa boleh buat, semuanya harus tetap dijalani.
Pada awal perkuliahan, kami mengikuti pertemuan mata kuliah ini melalui Zoom. Pertemuan berjalan dengan lancar meskipun tidak dilakukan secara tatap muka.
Dosen memperkenalkan diri dan menjelaskan materi-materi yang nantinya akan kami pelajari. Tanpa disadari, pertemuan pertama pun selesai. Namun, dari pertemuan pertama itu belum muncul rasa tertarik terhadap mata kuliah Bahasa Indonesia.
Waktu pun berputar begitu cepat. Tanpa terasa, tibalah pertemuan kedua. Saat itu aku berpikir bahwa perkuliahan melalui Zoom tidak jadi dilaksanakan karena hari sudah sore. Aku pun bersiap-siap menyiapkan menu berbuka puasa.
Akan tetapi, di sela-sela memasak, terdengar notifikasi dari telepon genggamku. Aku pun terkejut karena ternyata Zoom sedang berlangsung. Aku segera bergabung ke dalam perkuliahan tersebut.
Pada pertemuan itu, dosen menjelaskan tentang materi pentingnya memahami teks.
Dari penjelasan tersebut, aku mulai mengerti pentingnya mempelajari materi itu karena dengan memahami teks secara tepat, kita dapat memperoleh makna dengan lebih baik.
Tanpa terasa, pertemuan kedua pun selesai. Di akhir pertemuan itu, dosen memberikan tugas untuk menulis cerita tentang kegiatan sehari-hari. Saat itu muncul rasa kesal karena sebenarnya aku juga tidak suka menulis.
Namun, meskipun dengan hati yang kurang ikhlas, akhirnya aku tetap menyelesaikan tugas tersebut.
Masa libur pun telah berakhir. Kini saatnya para guru, termasuk diriku, kembali menjalankan aktivitas seperti biasa, yaitu mengajar sekaligus menjadi mahasiswa yang harus mengikuti perkuliahan.
Pada pertemuan ketiga, aku merasa sedikit gugup. Dalam hati aku bertanya, “Bagaimana ya dosennya nanti?” Tak berselang lama, dosen memasuki ruangan. Jantungku semakin berdebar karena menurutku raut wajahnya terlihat cukup tegas.
Tidak lama kemudian, dosen memperlihatkan sebuah berita tentang ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali, yang belum bisa membaca. Dari 34.062 siswa, sebanyak 155 siswa dinyatakan tidak bisa membaca dan 208 siswa lainnya masih belum lancar membaca. Aku sangat terkejut mendengar berita tersebut. Bagaimana mungkin siswa SMP sebanyak itu belum bisa membaca?
Dari berita itu, aku merasa prihatin sekaligus tersentuh. Aku termenung, bagaimana jika suatu hari nanti anak didikku juga mengalami hal yang sama? Mau menjadi apa bangsa ini jika generasi mudanya tidak mampu membaca?
Sejak saat itu, muncul keinginan dalam diriku untuk berusaha memberikan yang terbaik kepada peserta didik yang akan kuajar. Aku juga mulai menyadari pentingnya membaca.
Dosen yang biasa kami sapa Pak Arizul kemudian melanjutkan pembelajaran dengan menjelaskan Taksonomi Bloom.
Jujur saja, saat itu aku baru pertama kali mendengar istilah tersebut. Taksonomi Bloom merupakan tingkatan atau proses berpikir dalam belajar yang meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
Seiring berjalannya waktu, perkuliahan Bahasa Indonesia dapat kujalani dengan lancar pada setiap pertemuan.
Aku mulai memahami perbedaan antara kalimat efektif dan kalimat yang bertele-tele. Awalnya aku mengira semua kalimat itu sama saja, tetapi ternyata tidak. Aku belajar menyusun kalimat yang lebih singkat, jelas, dan mudah dipahami.
Aku juga belajar mengenai penggunaan kata depan di yang sebelumnya sering kugunakan secara sembarangan.
Ternyata penulisannya memiliki aturan tersendiri. Jika di berfungsi sebagai awalan pada kata kerja, penulisannya harus disambung, seperti pada kata dilakukan, dibaca, dan dibawa. Namun, jika di bertemu dengan selain kata kerja, maka penulisannya harus dipisah, seperti pada kata di sana dan di rumah.
Dari situlah aku mulai belajar dan memahami setiap materi yang dijelaskan oleh Pak Arizul. Perasaan bosan dan kesal yang awalnya muncul perlahan berubah menjadi rasa menikmati mata kuliah ini.
Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, kami juga mempelajari penggunaan huruf kapital, cetak miring, dan berbagai aturan penulisan lainnya.
Aku baru menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kutulis ternyata belum sesuai dengan aturan penulisan bahasa Indonesia yang benar.
Misalnya, nama hari harus diawali huruf kapital meskipun berada di tengah kalimat. Sebelumnya aku sering menulisnya tanpa memperhatikan aturan tersebut.
Selain memberikan materi, Pak Arizul juga sering meminta kami memperbaiki kalimat atau tulisan yang masih salah.
Menurutku, metode ini sangat membantu karena kami dapat mengetahui kesalahan yang selama ini sering dilakukan tanpa disadari. Dengan cara tersebut, kami menjadi lebih terbiasa menulis dengan tepat dan lebih teliti dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Dari sekian banyak materi yang telah dipelajari, ada satu materi yang paling berkesan bagiku, yaitu membuat resensi buku.
Jujur, awalnya aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara membuat resensi. Namun, Pak Arizul dengan sabar membimbing kami agar tidak kebingungan harus memulai dari mana.
Beliau menjelaskan langkah demi langkah, mulai dari menuliskan identitas buku, membuat sinopsis, menyampaikan kelebihan dan kekurangan buku, hingga menulis kesimpulan.
Setiap pertanyaan yang kami ajukan selalu beliau jawab dengan sabar tanpa menunjukkan rasa kesal sedikit pun.
Berkat bimbingan beliau, kami akhirnya dapat menyelesaikan resensi buku untuk pertama kalinya.
Hal yang paling membuatku terharu adalah ketika Pak Arizul memberikan apresiasi dengan memublikasikan hasil resensi yang telah kami buat. Bagiku, hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memberikan semangat untuk terus belajar.
Terima kasih, Pak Arizul, karena telah mengajari kami dengan sabar, telaten, dan selalu merespons setiap pertanyaan dengan baik. Dari Bapak, aku belajar bahwa sesuatu yang awalnya terasa membosankan dapat berubah menjadi menyenangkan apabila disampaikan dengan cara yang menyenangkan pula.
Penulis: Desi Novita Sari (Guru PAUD KB Mayang Sari Purwosari, Nagan Raya dan mahasiswa Program Studi PIAUD STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Ia berkomitmen untuk berkontribusi dalam mencetak generasi yang kreatif, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat. Penulis dapat dihubungi melalui desi@staidarulhikmah.ac.id)
Foto: Dok untuk INTIinspira

.jpeg)
