Perjalanan Dua Jam demi Ilmu: Catatan dari Ruang Kelas Bahasa Indonesia

INTIinspira - Semester dua kini telah datang. Hari liburku pun mulai usai, lebih tepatnya hanya libur perkuliahan karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Aku yang seorang penjahit tidak benar-benar menikmati masa libur pada waktu itu.

Tiba-tiba suara notifikasi dari HP-ku berbunyi. Masuk sebuah pesan dari grup baru yang terasa familiar. Grup mata kuliah Bahasa Indonesia menginformasikan bahwa Zoom akan dimulai beberapa menit lagi.

Aku terkejut dan berkata dalam hati, "Apa kuliah berlangsung di bulan puasa ini?"

Aku seakan tidak percaya, tetapi pesan yang terdapat di grup itu memang benar adanya. Meski begitu, ada rasa senang di hatiku karena aku tidak perlu datang ke kampus sore itu untuk mengikuti perkuliahan secara langsung.

Waktu terus berjalan, detik demi detik berlalu. Akhirnya muncul pemberitahuan untuk masuk dan bergabung dalam Zoom sore itu. Seperti biasa, pada pertemuan pertama kami saling memperkenalkan diri, lalu dosen menyampaikan kontrak perkuliahan.

Kemudian, dosen mata kuliah Bahasa Indonesia memperkenalkan diri. Beliau bernama Arizul Suwar.

Pada minggu berikutnya, dosen mengirimkan sebuah materi. Aku sudah lupa judul tepatnya, tetapi aku masih ingat isi materinya. Materi tersebut membahas cara memahami bacaan, termasuk membedakan penggunaan imbuhan agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan.

Dalam materi itu diberikan contoh sebuah pesan kepada teman yang salah dipahami karena penggunaan kata yang tidak tepat.

Contohnya, kalimat "gue tertekan" yang diartikan oleh teman sebagai keadaan sedang mengalami masalah. Padahal, maksud sebenarnya adalah ponselnya tidak sengaja tertekan dan ia dalam keadaan baik-baik saja.

Setelah materi selesai, Bapak memberikan tugas untuk menuliskan aktivitas keseharian yang kami lakukan sejak bangun tidur hingga kembali tidur.

Aku sempat terlupa mengerjakan tugas tersebut karena aktivitas sehari-hariku cukup padat. Aku harus mengurus urusan rumah tangga sekaligus pekerjaan sampingan.

Saat kembali membuka grup chat di ponsel, aku menyadari bahwa sudah banyak teman-temanku yang menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Spontan aku langsung mengambil selembar kertas. Aku pandangi sebentar, lalu mengambil pulpen dan mulai menulis saat itu juga.

Sebelum mengirimkan tulisan tersebut, aku membacanya kembali terlebih dahulu. Setelah merasa sudah cukup sesuai, akhirnya aku mengirimkan tugas itu.

Kemudian, pada minggu ketiga, perkuliahan dilakukan secara tatap muka. Saat itulah aku pertama kali bertemu langsung dengan beliau, Arizul Suwar.

Awalnya beliau terlihat sangar, tetapi ketika berbicara ternyata banyak tersenyum.

Rasa takut dan canggung, terutama takut salah saat berargumen, perlahan mulai berubah. Ungkapan "Don't judge a book by its cover" (jangan menghakimi sebuah buku dari sampulnya) benar adanya.

Begitulah beliau, salah satu dosen yang selalu berusaha hadir tepat waktu dan tidak pernah melewatkan pertemuan.

Terkadang aku berharap pertemuan dilakukan melalui Zoom saja. Entah bagaimana, aku merasa takut jika melewatkan satu pertemuan pun karena semua materi yang beliau bagikan terasa sangat baru dan berharga bagiku.

Namun, aku yang menempuh jarak cukup jauh untuk sampai ke kampus terkadang menghadapi kendala.

Cuaca yang tidak mendukung dan perjalanan sekitar satu setengah hingga dua jam membuatku cukup khawatir ketika harus pulang. Apalagi jika perkuliahan selesai sekitar pukul enam sore, aku harus melanjutkan perjalanan malam dan baru sampai di rumah sekitar pukul delapan malam.

Kegalauan itu sempat mengganggu pikiranku. Namun, melihat semangat Bapak yang begitu kuat dalam membagikan ilmu, aku tersentak lalu berkata dalam hati, "Aku butuh ilmu beliau."

Sejak saat itu, semangatku mulai kembali. Pandanganku terhadap perkuliahan perlahan berubah. Aku tidak lagi hanya memikirkan jarak tempuh atau khawatir tidak bisa hadir, tetapi mulai berpikir bahwa aku harus mendapatkan ilmu dan aktif mengikuti perkuliahan.

Justru karena jarakku jauh, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada hanya karena rasa khawatir.

Satu kata bapak yang memberikan tamparan bagi saya adalah ketika beliau mengatakan sebuah kalimat di sore itu.

Cuaca sore itu sangat tidak bersahabat, menjelang senja angin bertiup kencang disertai kilatan petir yang menyambar. Beliau berkata, “Saya memikirkan kalian semua yang jauh di perjalanan. Hati-hati di jalan, ya.”

Bapak juga pernah berkata, “Saya merasa gagal apabila setelah pertemuan kuliah kalian tidak mendapatkan hal baru dari saya.” Kata-kata itu sungguh memotivasi saya.

Beliau berkata demikian karena menjalankan pekerjaannya dengan cinta dan ketulusan. Mengingat beliau juga merasa lelah, begitu pula saya. Jika saya bisa mencintai perkuliahan ini dengan tulus, tentu semuanya akan terasa lebih ringan.

Selanjutnya, di antara banyak pertemuan dan materi yang diberikan bapak, ada satu hal yang paling berkesan bagi saya. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menulis sebuah resensi buku dengan judul buku favorit saya, lalu tulisan tersebut dipublikasikan di sebuah situs.

Bahkan, terdapat foto saya di sana. Saya terlihat percaya diri dengan senyum sambil memegang buku yang saya resensikan dan mengenakan baju almamater biru dengan bangga.

Mengingat semua itu, terlepas dari apa pun, mustahil tulisan saya dapat dipublikasikan tanpa bantuan dan bimbingan beliau.

Beliau tidak pernah bosan membantu kami serta mengajarkan cara menulis yang baik dan benar dalam membuat resensi, termasuk memperbaiki kesalahan tanda baca, penggunaan kata, serta penulisan sesuai dengan KBBI.

Adapun materi yang beliau berikan dalam setiap pertemuan sangat beragam, seperti memahami teks, struktur teks dan kalimat efektif, menulis sesuai kaidah PUEBI, teknik membaca efektif, memahami dan menjelaskan teks, tips memperkaya kosakata dan mengartikulasikannya, diksi dan nuansa kata, resensi buku, serta mengenal tesaurus.

Selain materi pembelajaran, beliau juga memberikan pesan motivasi yang menjadi pelengkap dalam setiap pertemuan.

Penulis: Sinta (Guru TK Permata Bangsa, wirausaha, dan mahasiswi PIAUD STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Ia bercita-cita menjadi pendidik profesional. Penulis dapat dihubungi melalui email: s15626301@gmail.com
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan