Menemukan Semangat Belajar Baru di Kelas Bahasa Indonesia

INTIinspira - Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah setelah lulus sekolah, termasuk saya. Ketika berusia sembilan belas tahun, impian untuk kuliah harus saya pendam karena keterbatasan biaya dan kondisi ayah yang mulai sakit. 

 Saat itu, saya memilih menerima keadaan, meski dalam hati masih menyimpan harapan untuk suatu hari dapat kembali belajar.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika saya diterima sebagai mahasiswi STAI Darul Hikmah Aceh Barat.

Sejak hari pertama kuliah, saya berusaha menikmati setiap prosesnya. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa saya akhirnya bisa duduk di bangku perkuliahan. Setiap mata kuliah saya ikuti dengan penuh semangat karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dulu pernah terasa mustahil.

Pada Semester II, saya mengambil sepuluh mata kuliah, salah satunya Bahasa Indonesia. Ketika masih di bangku SMA, saya tidak terlalu menyukai pelajaran ini.

Menurut saya, pelajaran Bahasa Indonesia cukup membingungkan karena banyak membahas ide pokok dan meminta siswa menceritakan kembali isi cerita. Sudahlah cerita, malah disuruh ceritakan lagi.

Terkadang, ketika mengerjakan soal, saya merasa jawaban saya sudah benar, tetapi ternyata salah. Hal itulah yang membuat saya kesal. Pelajaran ini terlihat mudah, tetapi sebenarnya cukup membingungkan.

Mungkin karena saya belum mengetahui tekniknya, atau mungkin karena cara guru mengajarinya. Pemikiran itu masih sering terlintas di benak saya.

Ada sebuah ungkapan, “Jika ingin menyukai pelajarannya, kita harus terlebih dahulu menyukai cara gurunya mengajar.” 

Ungkapan itulah yang teringat ketika saya mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia dengan dosen bernama Arizul Suwar. Beliau mengajar dengan penuh antusias dan semangat.

Saya ingat betul pada awal mengikuti mata kuliah ini. Saat itu bulan Ramadan dan perkuliahan dilakukan melalui Zoom. Kami memulai perkuliahan dengan perkenalan, lalu bapak menjelaskan materi-materi yang akan dipelajari selama satu semester.

Setelah pertemuan pertama selesai, kami kembali mengikuti pertemuan kedua pada minggu berikutnya, yang masih dilaksanakan melalui Zoom. Pada saat itu, saya membereskan pekerjaan rumah lebih awal agar bisa mengikuti Zoom tepat waktu. Meskipun perkuliahan melalui Zoom tidak berlangsung lama, saya tidak ingin tercatat tidak hadir. Itulah alasan saya saat itu.

Pada pertemuan kedua, bapak menjelaskan materi tentang memahami dan memperbaiki teks. Dari pembelajaran tersebut, saya memahami bahwa setiap teks harus ditulis dengan benar agar maknanya mudah dipahami.

Pada pertemuan ini pula, kami diberi tugas membuat cerita tentang aktivitas harian yang harus dikumpulkan sebelum pertemuan ketiga. Saya sempat menghela napas karena tidak mudah bagi saya mengerjakan tugas kuliah di usia yang sudah berkepala dua.

Akhirnya, saya mengerjakannya pada tengah malam setelah anak-anak tidur dan berusaha menyelesaikannya dengan kemampuan saya sendiri.

Libur pun telah usai. Saatnya perkuliahan tatap muka dimulai. Pertemuan ketiga dilaksanakan di ruangan yang sudah saya kenal sejak semester lalu, yaitu Ruang 1 (Aula).

Tidak lama kemudian, dosen pun masuk ke ruangan. Saat pertama kali melihat bapak secara langsung, saya langsung diam karena beliau nampak tegas. Namun, setelah mengenalnya lebih jauh, ternyata bapak adalah orang yang sangat ramah.

Pada pertemuan itu, bapak memperlihatkan sebuah berita tentang ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali, yang tidak bisa membaca. Saya sedih mendengarnya, tetapi tidak terlalu heran. Menurut saya, pada zaman sekarang minat baca anak-anak mulai berkurang karena pengaruh gawai. Hal ini menjadi salah satu tantangan besar bagi dunia pendidikan.

Selanjutnya, bapak menguraikan Taksonomi Bloom, yaitu tingkatan atau proses berpikir dalam belajar, seperti mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan jawaban atas pemikiran yang selama ini ada di benak saya.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa ketika kita menyukai gurunya, kita akan lebih mudah menyukai pelajarannya. Saya merasakan hal itu ketika bapak meminta kami memperbaiki kata-kata yang salah dalam sebuah bacaan. Setelah itu, kami diminta maju satu per satu untuk mengoreksi hasil pekerjaan masing-masing.

Dari kegiatan itu, saya mulai memahami banyak hal yang selama ini masih sering saya keliru dalam penulisan. Saya belajar tentang penggunaan tanda koma (,) dan tanda titik (.), penulisan huruf kapital pada awal kalimat, serta penggunaan imbuhan "di" pada kata kerja yang ditulis serangkai, seperti dimakan dan ditulis.

Sementara itu, kata depan "di" yang menunjukkan tempat harus ditulis terpisah, seperti di rumah dan di pasar. Saya juga mulai memahami berbagai aturan penulisan lainnya sesuai PUEBI.

Cara bapak menyampaikan materi dengan penuh semangat ketika mengajar membuat saya mulai menyukai pelajaran ini.

Dari pembelajaran yang diberikan, saya memahami bagaimana cara menyusun struktur teks dan kalimat efektif, membuat resensi buku, membaca dengan efektif, serta cara belajar agar tidak mudah lupa.

Saya juga mendapatkan pengetahuan tentang diksi dan nuansa kata pada pertemuan ke-12. Bagi saya, pertemuan yang paling berkesan dalam mata kuliah ini adalah ketika kami mulai belajar tentang resensi buku.

Resensi tersebut menjadi tugas UTS yang bapak berikan. Waktu yang diberikan cukup panjang, tetapi dalam proses menulisnya saya menemukan banyak kesalahan yang sebelumnya tidak saya sadari.

Namun, yang membuat saya tetap bersemangat adalah bimbingan dari bapak. Bapak mengajarkan cara membuat resensi buku agar kami tidak merasa kesulitan. Bapak selalu membimbing kami dengan sabar. Ketika saya mengirimkan hasil resensi, walaupun hanya melalui percakapan WA, bapak tetap memberikan respons yang cepat dan tanggap terhadap hasil tulisan saya.

Hasil resensi itu kemudian dipublikasikan oleh bapak. Hal itu membuat saya senang dan seketika terlintas dalam pikiran, "Wah, keren."

Ketika melihat hasil tulisan itu, walaupun belum sebagus tulisan lainnya, saya merasa tulisan tersebut menjadi lebih baik karena arahan dan bimbingan dari bapak.

Saya selalu mengingat perkataan bapak setiap akan keluar dari ruangan. Bapak mengatakan bahwa beliau akan merasa gagal jika kami tidak mendapatkan ilmu apa pun dari pembelajaran yang beliau berikan. Kata-kata yang sederhana sih, tetapi sangat berkesan bagi saya.

Penulis: Ferra Wati Fajri (Guru PAUD Harapan Kita, Nagan Raya, sekaligus mahasiswi STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Bercita-cita menjadi pendidik yang berilmu, berakhlak, serta mampu melahirkan generasi yang kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Penulis dapat dihubungi melalui ferrawati@staidarulhikmah.ac.id
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan