Menyusuri Jejak Manuskrip dan Sejarah di Tanoh Abee, Seulimum, dan Keunaloi
INTIinspira- Malam itu, aku berangkat dari Meulaboh menuju Banda Aceh bersama Ramli, dosen sekaligus peneliti dari STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.
Kami naik mobil Hice yang malam itu penuh penumpang, mungkin karena besoknya libur, orang-orang memanfaatkan malam Minggu untuk pulang atau bepergian.
Kami mendapat kursi di bagian belakang. Aku sedikit khawatir, posisi ini punya potensi besar membuatku mabuk perjalanan. Tapi tidak ada pilihan lain, maka kuterima saja.
Suasana di dalam mobil memang dirancang untuk tidur. Lampu kabin dimatikan, hanya menyala sebentar setiap kali sopir turun di pemberhentian.
Meski lampu dimatikan, sayup-sayup musik DJ masih terdengar dari speaker depan. Getaran dan ayunan mobil cukup terasa dari kursi belakang, menambah kekhawatiranku soal mabuk perjalanan.
Sepanjang perjalanan aku mengantuk, tapi pusing mencegahku tidur. Sekitar pukul dua dini hari, kami tiba di Ajun, Aceh Besar dan menginap di situ.
Setelah meletakkan barang-barang, kami langsung beristirahat. Kepalaku masih pusing sejak tadi. Besok pagi, sesuai rencana, kami akan berangkat ke perpustakaan kuno Tanoh Abee, tujuan utama dari seluruh perjalanan ini.
Pagi sekitar pukul tujuh, kami beranjak ke Warkop Kopi Sareng di Lambaro, Aceh Besar, menunggu Pak Muhajir, Uda Hendra, dan Pak Jovial sambil sarapan. Warung ini sudah ramai sejak subuh—kata orang—dan memang suasananya membuktikan itu.
Di sanalah kami merancang perjalanan menuju perpustakaan Tanoh Abee, sebuah perpustakaan kuno di Seulimum, Aceh Besar. Bagiku, ini kunjungan pertama.
Sepanjang jalan, Muhajir bercerita tentang perpustakaan itu. Di situ aku baru tahu bahwa dia ternyata masih punya hubungan keluarga dengan Dayah Tanoh Abee.
Satu cerita yang paling membekas adalah tentang Abu Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, sosok yang konon memberikan restu kepada Teungku Chik di Tiro untuk berperang melawan Belanda.
Mendengar itu, antusiasku makin tak terbendung. Aku ingin segera tiba dan melihat langsung manuskrip-manuskrip yang selama ini hanya kudengar dari cerita orang.
Dari Lambaro, perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Kami tiba di Tanoh Abee sekitar pukul setengah sepuluh. Begitu turun dari mobil, yang pertama terasa bukan pemandangannya, melainkan suasananya. Bangunan khas Aceh, bale-bale pengajian klasik yang masih dipertahankan bentuknya, dan benda-benda kuno yang tersebar di dayah.
Salah satu yang paling menarik perhatianku adalah lonceng tua. Kutanya Pak Muhajir soal itu, katanya lonceng itu digunakan untuk menandakan waktu salat, karena di dayah ini memang tidak memakai toa.
Di sanalah kami bertemu Abulis, nama lengkapnya T. Abulis Samarkan. Sebelumnya aku membayangkan sosok tua, karena Pak Muhajir memanggilnya dengan sebutan Abu. Tapi dia ternyata masih muda, kutaksir sekitar tiga puluhan. Penampilannya cukup sederhana dengan peci dan sarung khas tradisionalnya.
Abulis adalah cucu dari Abu Chik Muhammad Dahlan Tanoh Abee, yang pernah memimpin dayah ini. Pimpinan dayah saat ini adalah Cut Fit, dan Abulis, sebagai keponakannya, dipercaya mengelola perpustakaan sekaligus menyambut setiap tamu yang datang.
Ia menyambut kami dengan ramah, lalu mengajak naik ke bale, duduk dan berbincang dulu sebelum masuk ke ruang perpustakaan. Di atas bale itu, Abulis bicara dengan tenang, berwibawa dan santai.
Satu hal yang paling membekas adalah ketika ia menjelaskan tradisi menyalin kitab di dayah ini.
Setiap santri yang mempelajari sebuah kitab akan menyalinnya sendiri, kebiasaan yang sudah berjalan turun-temurun. Awalnya hanya metode belajar untuk memperkuat hafalan, tapi lama-kelamaan tradisi itu berkembang menjadi warisan intelektual tersendiri, hingga dayah ini menjadi rumah bagi ratusan salinan manuskrip kuno.
Bagiku, tradisi inilah yang paling membekas dari seluruh kunjungan ke Tanoh Abee. Kekhasan yang belum pernah kutemukan di tempat lain, bahwa menyalin ilmu adalah bagian dari peradaban intelektual yang tinggi.
Abulis juga bercerita soal polemik Hamzah Fansuri, ulama besar Aceh yang sebagian karya-karyanya tersimpan di sini, meski disimpan rapat dari khalayak umum. Bukan tanpa alasan: kekhawatiran akan salah tafsir di masyarakat menjadi pertimbangan utama.
Ia menghargai betul upaya para peneliti yang berusaha meluruskan sejarah sosok ini. Dari situ obrolan melebar ke isu yang lebih kontemporer, wajah keagamaan Aceh hari ini yang menurutnya semakin kehilangan kesantunan: mudah saling menyalahkan, dan tidak sedikit agamawan yang tak lagi mencerminkan akhlak yang semestinya mereka teladankan.
Aku lebih banyak diam sepanjang obrolan itu. Semua yang disampaikan Abulis memang terasa dekat, dan yang kubutuhkan saat itu memang hanya mendengar, bukan menyela.
Setelah obrolan di bale selesai, kami diajak berziarah ke pemakaman yang berada tepat di samping bale kami mengobrol. Makam ini merupakan tempat para pimpinan dayah Tanoh Abee dari masa ke masa disemayamkan, termasuk Abu Dahlan, kakek Abulis yang pernah memimpin dayah ini.
Lalu tiba momen yang sudah kutunggu-tunggu: masuk ke ruang penyimpanan manuskrip. Begitu pintunya dibuka, aura sakral langsung terasa.
Ruangannya tidak besar, namun di dalamnya tersusun rapi berbagai manuskrip dalam rak kaca. Pak Muhajir bilang, dulunya manuskrip ini disimpan di rak kayu, sebelum diganti kaca demi menjaga keawetan kertas. Bau kapur tercium jelas begitu kami melangkah masuk.
Kami meminta Abulis memperlihatkan salah satu manuskrip. Ia membuka sebuah kitab, tulisannya rapi dan bersih, sebuah salinan dengan kertas yang ternyata berasal dari Eropa. Aku sangat kagum dengan tulisan tangan itu, tingkat kerapiannya bisa dibilang menyamai cetakan mesin teknologi modern.
Setelah puas melihat-lihat, kami pamit. Sebelum berpisah, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan kecil. Rasa terima kasih kami sampaikan sungguh-sungguh kepada Abulis, atas keramahan dan kesediaannya membuka pintu perpustakaan kuno itu untuk kami.
Dari Tanoh Abee, Pak Muhajir mengajak kami melanjutkan perjalanan ke Dayah Seulimum, sebuah dayah tradisional yang tidak jauh dari sana. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya yang penuh obrolan mendalam, di sini—karena keterbatasan waktu—kami hanya melihat-lihat sebentar. Sebagian besar bangunannya sudah berwajah modern, hanya satu dua yang masih menyisakan nuansa klasik.
Selepas itu, kami diajak ke Dayah Keunaloi, dayah modern yang berafiliasi dengan PUSA. Yang menarik, pendiri Dayah Seulimum dan pendiri Dayah Keunaloi ternyata memiliki nama yang sama: Abdul Wahab. Meski begitu, keduanya adalah orang yang berbeda, dengan ideologi yang berbeda pula. Satu tradisional, satu modern.
Apakah ada hubungan kekeluargaan di antara keduanya, aku belum tahu pasti. Seperti di Seulimum, kunjungan ke Keunaloi pun singkat, sekadar melihat-lihat, tanpa sempat menelusuri lebih jauh jejak sejarah di sana.
Dari Keunaloi, kami singgah sebentar untuk makan dan ngopi, sebelum akhirnya kembali ke Banda Aceh. Satu hari yang penuh cerita, dari manuskrip kuno yang tersimpan rapat, hingga dua dayah yang tumbuh dari nama pendiri yang sama namun menempuh jalan yang berbeda.
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com).
Foto: Dok. untuk INTIinspira


