Menemukan Makna Bahasa di Bangku Kuliah

INTIinspira-Namaku Julia. Nama yang cukup singkat sehingga mudah diingat oleh siapa pun yang baru mengenalku. Hanya lima huruf, tetapi menurutku itu sebuah kelebihan. Orang tidak perlu ribet mengeja atau bertanya dua kali.

Saat pertama kali berkenalan di kampus, dosen cukup memanggil sekali dan aku langsung menoleh. Teman-teman baru, juga cepat mengingat namaku. Bagiku, nama adalah identitas pertama yang kita bawa ke mana pun pergi.

Saat ini aku merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Jurusan ini memang tidak sepopuler jurusan lain seperti Manajemen atau Akuntansi.

Ketika aku bercerita kepada orang lain, respons pertama mereka biasanya, "Oh, jadi guru TK, ya?" lalu diikuti alis yang sedikit terangkat. Banyak orang menganggap PIAUD bukan jurusan yang menarik. Bahkan, ada yang menghindari jurusan ini karena harus berhadapan dengan anak-anak setiap hari.

Sebagian orang beranggapan bahwa mengajar anak usia dini membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mereka sering bertanya, "Kuat kamu seharian mendengar teriakan anak kecil?" 

Ada pula yang berpikir bahwa mengurus anak kecil adalah pekerjaan yang melelahkan, penuh drama rebutan mainan, drama jatuh, dan drama tidak mau makan. Namun, bagiku justru di situlah letak tantangan sekaligus kebahagiaannya.

Aku memilih jurusan PIAUD karena sejak dulu aku menyukai dunia anak-anak. Sejak kecil aku suka melihat adik, keponakan, dan anak-anak tetangga bermain.

Cara mereka tertawa lepas, bertanya "kenapa langit biru?", lalu marah dan lima menit kemudian sudah kembali berpelukan. Semua itu terasa jujur dan apa adanya.

Menurutku, masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Pada masa itulah anak mulai belajar mengenal lingkungan, memahami berbagai hal baru, dan membentuk karakter yang akan mereka bawa hingga dewasa. Karakter jujur, peduli, dan sabar mulai ditanamkan sejak usia 0–6 tahun.

Karena itu, aku ingin menjadi seorang yang dapat membantu mereka belajar dan berkembang dengan baik. Aku ingin menjadi guru yang diingat muridnya bukan karena galak, tetapi karena pernah sabar menjelaskan huruf A sampai mereka bisa.

Ketika memasuki semester kedua, aku mulai mengikuti berbagai mata kuliah yang harus dipelajari. Ada Psikologi Anak, Bahasa Komunikasi, Agama, dan salah satunya adalah Bahasa Indonesia.

Awalnya aku mengira mata kuliah ini tidak akan jauh berbeda dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah kupelajari di sekolah.

Aku berpikir materinya hanya seputar membaca dan menulis seperti biasanya. Paling banter disuruh membuat resensi buku atau menganalisis puisi. Aku bahkan sempat berpikir, "Ah, ini mah tinggal ngulang pelajaran SMA."

Pada pertemuan pertama, perkuliahan berjalan seperti biasanya. Dosen memperkenalkan diri, menjelaskan aturan perkuliahan, sistem penilaian, serta gambaran materi yang akan dipelajari selama satu semester. Saat itu aku masih menganggap Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah biasa yang mungkin tidak terlalu menarik perhatian.

Aku duduk di bangku tengah, mencatat sekadarnya, sambil sesekali melamun memikirkan tugas PIAUD yang lain.

Seiring waktu berjalan, pertemuan-pertemuan yang kulalui terasa semakin bermanfaat. Aku mendapatkan banyak ilmu dari mata kuliah yang sebelumnya kuanggap biasa saja. Ternyata Bahasa Indonesia di bangku kuliah itu berbeda. Lebih dalam, lebih teliti, dan lebih menantang ego.

Aku belajar tentang penggunaan huruf kapital, tanda baca, kata baku, kalimat efektif, serta berbagai aturan penulisan lainnya. Materi-materi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi ternyata sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dulu aku sering menulis "di mana" menjadi "dimana" dan "di atas meja" menjadi "diatas meja". Setelah dijelaskan dosen, baru aku sadar bahwa keduanya memiliki aturan yang berbeda. Sebelum mempelajarinya lebih dalam, aku sering melakukan kesalahan tanpa menyadarinya.

Aku berpikir yang penting orang memahami maksud tulisanku. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari dosen, aku mulai memahami cara menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih tepat. Ternyata bahasa yang rapi juga merupakan bentuk menghargai pembaca.

Selain menyampaikan materi, Pak Arizul juga memberikan berbagai latihan yang cukup menyenangkan. Walaupun terkadang aku masih kewalahan karena banyak melakukan kesalahan, latihan-latihan tersebut justru membuatku semakin memahami materi.

Dari sekian banyak kegiatan selama perkuliahan, ada satu latihan yang paling kusukai. Latihan itu berbeda dari yang lain. Tidak hanya menghafal aturan, tetapi langsung mempraktikkannya.

Materi tersebut adalah latihan memperbaiki sebuah cerita. Kami diberi teks acak-acakan yang penuh kesalahan: ada typo, tanda baca yang salah, kata tidak baku, hingga kalimat yang berbelit-belit. Tugas kami adalah menjadi "dokter bahasa" yang membedah tulisan tersebut satu per satu.

Pada awalnya, aku mengira kegiatan itu akan terasa membosankan. Ketika dosen menjelaskan bahwa kami akan diminta mencari kesalahan dalam sebuah tulisan, aku sempat berpikir tugas tersebut pasti rumit dan melelahkan. Membayangkannya saja sudah membuatku pusing.

Namun, setelah mencobanya sendiri, ternyata kegiatan itu jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan. Rasanya seperti bermain game tebak-tebakan.

"Ini salahnya di mana, ya?"
"Oh, ini harusnya pakai koma!"

Ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil memperbaiki satu paragraf. Apalagi aku yang suka menggambar dan menulis komik, latihan ini terasa seperti mengedit sketsa. Awalnya masih berantakan, lalu diperhalus, sampai akhirnya menjadi lebih rapi.

Dari mata kuliah ini aku mendapat banyak pelajaran berharga dan pengalaman baru. Yang lebih menarik lagi, ternyata Bahasa Indonesia tidak sepenuhnya seperti yang kukira. Dulu aku menganggap bahasa Indonesia itu kaku dan membosankan. Ternyata bahasa memiliki aturan, tetapi tetap fleksibel dan indah jika digunakan dengan tepat.

Aku jadi lebih percaya diri menulis caption (keterangan), surat, bahkan skenario komikku sendiri.

Pengalaman tersebut membuatku sadar bahwa setiap kesalahan yang ditemukan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi kesempatan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

Dulu aku malu kalau tulisanku penuh coretan merah. Sekarang aku justru senang. Bagiku, coretan merah itu tanda bahwa masih ada ruang untuk berkembang.

Sama seperti anak-anak yang akan aku ajar nanti. Mereka akan salah, mereka akan jatuh, tetapi dari situlah mereka belajar untuk berdiri kembali. Sebagai calon guru PIAUD, aku harus menjadi orang yang sabar menemani proses itu.

Sekarang, kalau ada yang bertanya kenapa aku memilih PIAUD, jawabanku sudah lebih panjang. Bukan hanya karena aku suka anak-anak, tetapi karena aku percaya bahwa mendidik dimulai dari hal-hal kecil: dari cara kita menulis, memilih kata, dan memperbaiki kesalahan.

Dari Mata kuliah ini aku terus belajar bahwa menjadi guru yang baik harus dimulai dari menjadi pembelajar yang baik terlebih dahulu.


Penulis: Julia (Guru PAUD Harapan Bunda Peulanteu Lb, sekaligus mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Berkomitmen untuk berkontribusi dalam mencetak generasi yang kreatif, berkarakter, serta bermanfaat bagi masyarakat. Penulis dapat dihubungi melalui email: yuliambo56@gmail.com

Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan