Catatan dari Mata Kuliah yang Hampir Kutinggalkan

INTIinspira - Memasuki semester dua menjadi salah satu momen terlucu dalam perjalanan kuliahku. Saat itu Ibu Kaprodi meminta kami mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) secara mandiri.

Ketika melihat daftar mata kuliah, aku justru dibuat bingung. Total bobotnya 26 SKS, sedangkan semester ini kami hanya mendapat jatah 24 SKS. Artinya, menurutku harus ada satu mata kuliah yang dikorbankan.

Aku menatap daftar itu lama sekali. Hampir semuanya adalah mata kuliah yang ingin kupelajari.

Ilmu Alamiah Dasar langsung mengingatkanku pada masa SMA. Dulu aku pernah bercita-cita menjadi dokter, bahkan ilmuwan. Setiap kali mengisi biodata di sekolah, itulah impian yang selalu kutulis.

Meski kini aku telah berdamai dengan jalan hidup yang kupilih, rasa penasaranku terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar hilang.

Filsafat juga tak kalah menggoda. Sejak SMP aku sering mendengar bahwa filsafat adalah ibu dari segala ilmu. Kalimat itu terus melekat di kepalaku. Ditambah lagi, hampir setiap video filsafat yang lewat di berandaku selalu berhasil membuatku berhenti menggulir layar.

Mata kuliah keagamaan pun rasanya tak mungkin kulewatkan. Sebagai alumni dayah, aku merasa masih banyak yang perlu kuperdalam.

Lalu pandanganku berhenti pada Bahasa Indonesia.

"Ah, mungkin belum saatnya," pikirku. Bukankah isinya hanya seputar membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan? Kupikir mata kuliah itu bisa kuambil nanti, menjelang menyusun skripsi. Tanpa berpikir panjang, Bahasa Indonesia pun kuhapus dari daftar KRS.

Aku menekan tombol konfirmasi.

Eng... ing... eng...

Ternyata sistem sedang bermasalah.

Ibu Kaprodi segera memberi tahu bahwa kami belum bisa mengisi KRS karena aplikasi masih galat. Jumlah 26 SKS itu muncul akibat kesalahan sistem. Seharusnya seluruh mata kuliah tetap diambil.

"Wah... gawat."

Aku sudah telanjur membuat kesalahan karena kecerobohanku sendiri. Memang benar, ceroboh selalu berkawan baik denganku. Seharusnya aku bertanya lebih dulu sebelum mengambil keputusan.

Untungnya setelah menghubungi Ibu Kaprodi, beliau menenangkan dan mengatakan KRS-ku akan diperbaiki.

Aku pun bisa bernapas lega.

Begitulah akhirnya Bahasa Indonesia tetap menjadi bagian dari perjalanan kuliahku semester ini. Dalam hati aku hanya berharap, semoga mata kuliah ini benar-benar bisa membantuku menulis artikel dan skripsi dengan baik.

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Pertemuan pertama masih berlangsung melalui Zoom karena bulan Ramadan. Seperti biasa, pagi hingga sore kujalani sebagai ibu rumah tangga, sementara menjahit—hobi yang biasanya menemaniku menjelang Lebaran—kali ini sengaja kutunda agar bisa lebih fokus menjalani kuliah.

Menjelang waktu Asar, ponselku berbunyi. Zoom perdana segera dimulai.

Setelah perkenalan, kami mengenal dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia, Pak Arizul Suwar. Beliau kemudian menjelaskan orientasi perkuliahan dan kontrak belajar.

Ada satu hal yang langsung membuatku terdiam.

Kehadiran menyumbang 40 persen dari nilai akhir.

Bukan karena aku tidak suka hadir di kelas, tetapi sebagai ibu dari dua anak kecil, pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika salah satu anak sakit? Aku tentu tidak mungkin meninggalkan mereka demi mengejar presensi.

Namun setelah kegelisahan itu berlalu, aku memilih menenangkan diri.

"Bismillah," kataku dalam hati. Semoga Allah memudahkan setiap langkahku menjalani perkuliahan ini.

Pertemuan demi pertemuan membuatku pelan-pelan mengubah cara memandang mata kuliah ini.

Awalnya kami belajar memahami teks. Salah satu bacaan yang paling kuingat membahas mengapa banyak siswa belajar demi mengejar nilai, bukan demi mencari ilmu.

Tulisan itu membuatku berpikir bahwa belajar seharusnya bukan sekadar mengumpulkan angka, melainkan membentuk cara pandang. Pada pertemuan itu pula kami mendapat tugas pertama: menulis aktivitas harian sebanyak 300 kata.

Setelah lebaran, perkuliahan tatap muka dimulai. Pak Arizul mengajak kami memahami proses belajar, mulai dari mengingat, memahami, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.

Saat itu kesan pertamaku, beliau adalah dosen yang cukup serius. Namun, aku tidak pernah terlalu mempersoalkan karakter seorang guru. Bagiku, guru yang menantang justru sering kali membuatku lebih bersemangat.

Kenangan di bangku dayah tiba-tiba terlintas. Kelas kami dikenal paling disiplin. Masuk paling awal, pulang paling akhir, hafalan paling banyak, dan setiap santri wajib bertanya.

Sementara aku tetap menjadi "siput super lambat" yang sering datang terlambat hingga guru mengaji berkali-kali dibuat geleng kepala. Kini, kenangan itu justru terasa manis. Rupanya setiap proses belajar selalu memiliki cerita yang kelak dirindukan.

Semakin jauh perkuliahan berjalan, semakin kusadari bahwa menulis tidak sesederhana yang kubayangkan.

Kami belajar menyusun struktur teks, memilih kalimat yang efektif, menggunakan PUEBI, hingga memahami pentingnya diksi. Bagian inilah yang paling sering membuatku kewalahan.

Berkali-kali tulisanku dikembalikan untuk diperbaiki. Saat itulah aku sadar bahwa menulis artikel tidak sama dengan sekadar mencatat pelajaran di buku. Ada aturan, ketelitian, dan tanggung jawab yang harus dipelajari.

Kami juga belajar membaca secara efektif, memahami isi bacaan, memperkaya kosakata, serta memilih kata yang tepat agar gagasan tersampaikan dengan jelas. Semua materi itu menjadi bekal ketika kami mulai mengerjakan resensi sebagai tugas ujian tengah semester.

Bagiku, tugas itu adalah tantangan besar. Setelah hampir sepuluh tahun vakum dari dunia pendidikan, sering kali muncul pertanyaan dalam benakku, masih adakah kemampuan yang tersisa?

Namun, aku selalu mengingatkan diri sendiri bahwa sepuluh tidak harus menjadi lima ditambah lima. Bisa saja menjadi tujuh ditambah tiga, atau cara lain yang tak pernah kita bayangkan.

Dunia tidak sekecil daun kelor. Jika ada yang terasa kosong, bukankah itu berarti masih tersedia ruang untuk diisi dengan hal-hal baru? Aku hanya perlu memulai.

Dengan dukungan suami, keluarga, dan bimbingan Pak Arizul, akhirnya resensi pertamaku tentang buku India Kuno berhasil kuselesaikan.

Entah mengapa, penyelesaian tugas itu terasa begitu mengharukan. Aku bukan tipe orang yang gemar memamerkan pencapaian, tetapi kali ini aku benar-benar bangga pada diriku sendiri.

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menemukan ruang untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan minat yang selama ini tertunda.

Aku teringat masa ketika melihat teman-teman telah mengenakan seragam guru, sementara jalan hidupku justru berbelok ke arah lain. Bukan rasa iri yang muncul, melainkan pertanyaan tentang takdir. Kini aku mengerti bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Dahulu aku ingin kuliah demi mengejar pekerjaan, tetapi perjalanan hidup mengubah niat itu. Aku ingin belajar agar bisa berkarya dan menjadi pendidik yang lebih baik bagi anak-anak, baik di sekolah maupun di rumah.

Seiring berjalannya waktu, kesan pertamaku terhadap Pak Arizul pun berubah. Dosen yang semula kukira terlalu serius ternyata sangat ramah dan mau membimbing kami.

Beliau sering menyelipkan video inspiratif, memutar lagu sebagai penyegar suasana kelas, bahkan dengan sabar membimbing kami, terutama para ibu, agar lebih rapi mengetik dan lebih teliti mengevaluasi tulisan.

Beliau pernah berkata, "Saya tidak ingin kalian keluar dari kelas saya tanpa membawa pulang apa-apa."

Kalimat itu terus kuingat hingga hari ini.

Akhirnya aku menyadari, mata kuliah yang semula ingin kutinggalkan justru meninggalkan sejuta pelajaran berharga dalam hidupku.


Penulis: Cut Ratna (Guru honorer di KB Bungong Jempa Liceh, penjahit, sekaligus mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Meulaboh, Aceh Barat. Penulis dapat dihubungi melalui email: cutratnaputroe@gmail.com)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan