Pelajaran yang Tak Saya Duga dari Kelas Bahasa Indonesia
INTIinspira – Memasuki semester II menjadi pengalaman baru bagi saya. Di antara berbagai mata kuliah yang saya ambil, Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata kuliah yang awalnya saya anggap biasa saja.
Bahkan, saya sempat berpikir, "Ah, paling materinya sama seperti di sekolah."
Ternyata, anggapan saya keliru. Setiap pertemuan justru membuka pemahaman baru bahwa Bahasa Indonesia di perguruan tinggi mengajarkan cara berpikir, menyusun gagasan, dan berkomunikasi secara lebih baik.
Pertemuan pertama dilaksanakan melalui Zoom karena saat itu kami masih menjalani masa libur menyambut bulan Ramadan.
Ternyata, anggapan saya keliru. Setiap pertemuan justru membuka pemahaman baru bahwa Bahasa Indonesia di perguruan tinggi mengajarkan cara berpikir, menyusun gagasan, dan berkomunikasi secara lebih baik.
Pertemuan pertama dilaksanakan melalui Zoom karena saat itu kami masih menjalani masa libur menyambut bulan Ramadan.
Meskipun perkuliahan berlangsung secara daring, saya tetap bersemangat mengikuti kelas karena penasaran ingin mengenal dosen yang akan mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia.
Jujur saja, saya sempat membayangkan, "Wah, jangan-jangan Bapak Arizul adalah dosen yang galak dan cara mengajarnya pasti membosankan."
Jujur saja, saya sempat membayangkan, "Wah, jangan-jangan Bapak Arizul adalah dosen yang galak dan cara mengajarnya pasti membosankan."
Dugaan itu ternyata jauh dari kenyataan. Beliau mengajar dengan santai, sering mengajak mahasiswa berdiskusi, dan sesekali menyelipkan candaan sehingga suasana kelas terasa lebih hidup.
Pada pertemuan pertama, seluruh mahasiswa diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan daerah asal masing-masing. Walaupun beberapa teman tidak dapat bergabung karena mengalami gangguan jaringan, perkuliahan tetap berlangsung dengan lancar.
Selanjutnya, Bapak Arizul menjelaskan tujuan mempelajari mata kuliah Bahasa Indonesia. Penjelasan tersebut membuka pandangan saya bahwa kemampuan berbahasa Indonesia sangat penting bagi mahasiswa.
Pada pertemuan pertama, seluruh mahasiswa diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan daerah asal masing-masing. Walaupun beberapa teman tidak dapat bergabung karena mengalami gangguan jaringan, perkuliahan tetap berlangsung dengan lancar.
Selanjutnya, Bapak Arizul menjelaskan tujuan mempelajari mata kuliah Bahasa Indonesia. Penjelasan tersebut membuka pandangan saya bahwa kemampuan berbahasa Indonesia sangat penting bagi mahasiswa.
Kemampuan ini akan digunakan dalam menyusun makalah, proposal, artikel ilmiah, laporan, hingga skripsi. Sejak saat itu, saya mulai menyadari bahwa mata kuliah ini memiliki peran penting selama menjalani perkuliahan.
Pertemuan demi pertemuan menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Materi yang dipelajari semakin beragam, mulai dari PUEBI, kalimat efektif, paragraf, memahami teks, hingga teknik menulis akademik.
Pertemuan demi pertemuan menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Materi yang dipelajari semakin beragam, mulai dari PUEBI, kalimat efektif, paragraf, memahami teks, hingga teknik menulis akademik.
Setiap materi memberikan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah saya pelajari secara mendalam. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan menyampaikan gagasan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
Libur pun usai dan kami kembali menjalani perkuliahan tatap muka. Saya senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Bapak Arizul. Suasana kelas ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang saya bayangkan.
Libur pun usai dan kami kembali menjalani perkuliahan tatap muka. Saya senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Bapak Arizul. Suasana kelas ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang saya bayangkan.
Cara beliau menjelaskan materi tetap santai, sering mengajak kami berdiskusi, sesekali bercanda, bahkan pernah mendengarkan musik bersama.
Suasana seperti itu membuat saya lebih betah mengikuti perkuliahan meskipun materi yang dipelajari cukup banyak. Saya pun tetap bersemangat mengikuti setiap pertemuan.
Saya termasuk orang yang kurang percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang. Rasa gugup sering muncul saat harus menyampaikan pendapat.
Suasana seperti itu membuat saya lebih betah mengikuti perkuliahan meskipun materi yang dipelajari cukup banyak. Saya pun tetap bersemangat mengikuti setiap pertemuan.
Saya termasuk orang yang kurang percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang. Rasa gugup sering muncul saat harus menyampaikan pendapat.
Melalui diskusi di kelas, saya mulai memberanikan diri untuk bertanya ketika belum memahami penjelasan dosen. Meskipun masih gugup, saya terus mencoba agar rasa percaya diri saya perlahan bertambah.
Selama satu semester mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, saya merasakan banyak perubahan. Saya menjadi lebih teliti saat mengerjakan tugas, lebih memahami penggunaan ejaan dan tanda baca, serta mulai membiasakan diri memeriksa kembali tulisan sebelum dikumpulkan.
Selama satu semester mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, saya merasakan banyak perubahan. Saya menjadi lebih teliti saat mengerjakan tugas, lebih memahami penggunaan ejaan dan tanda baca, serta mulai membiasakan diri memeriksa kembali tulisan sebelum dikumpulkan.
Saya juga belajar memilih kata yang tepat agar tulisan lebih mudah dipahami.
Dari semua materi yang dipelajari selama satu semester, memahami teks menjadi materi yang paling membekas di ingatan saya. Jujur saja, materi ini benar-benar membuat saya pusing.
Awalnya saya mengira memahami teks itu mudah. Cukup membaca sampai selesai, lalu isinya pasti langsung dipahami.
Dari semua materi yang dipelajari selama satu semester, memahami teks menjadi materi yang paling membekas di ingatan saya. Jujur saja, materi ini benar-benar membuat saya pusing.
Awalnya saya mengira memahami teks itu mudah. Cukup membaca sampai selesai, lalu isinya pasti langsung dipahami.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Kami harus menemukan gagasan utama, memahami makna yang tersirat, mengetahui tujuan penulis, kemudian menyimpulkan isi teks dengan bahasa sendiri.
Di sinilah saya mulai merasa tertantang. Saya harus membaca satu teks berkali-kali karena masih merasa bingung.
Di sinilah saya mulai merasa tertantang. Saya harus membaca satu teks berkali-kali karena masih merasa bingung.
Terkadang saya yakin sudah memahami isinya, tetapi setelah dibahas di kelas ternyata pemahaman saya masih kurang tepat. Rasanya campur aduk antara bingung dan pusing.
Kesulitan itu justru menjadi tantangan bagi saya. Penjelasan Bapak Arizul yang disertai berbagai contoh membuat saya perlahan memahami cara menganalisis sebuah teks.
Kesulitan itu justru menjadi tantangan bagi saya. Penjelasan Bapak Arizul yang disertai berbagai contoh membuat saya perlahan memahami cara menganalisis sebuah teks.
Latihan-latihan yang diberikan juga membantu saya membedakan informasi utama dan informasi pendukung.
Walaupun membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya, saya merasa senang karena akhirnya bisa membaca sebuah teks dengan lebih baik.
Walaupun membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya, saya merasa senang karena akhirnya bisa membaca sebuah teks dengan lebih baik.
Dari materi itu saya belajar bahwa membaca bukan sekadar menyelesaikan rangkaian kata, tetapi berusaha menangkap makna yang ingin disampaikan penulis.
Pengalaman tersebut membuat saya lebih teliti ketika membaca buku, artikel, maupun materi perkuliahan lainnya.
Selama mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, saya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Mata kuliah yang awalnya saya anggap biasa ternyata memberikan banyak pelajaran yang bermanfaat.
Kini saya semakin memahami pentingnya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik saat menulis maupun berbicara. Ilmu yang saya peroleh selama satu semester ini akan menjadi bekal berharga untuk menyelesaikan berbagai tugas kuliah, terutama ketika menyusun makalah dan skripsi di masa mendatang.
Penulis: Sarina Fitri (Mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Memiliki minat di bidang pendidikan, serta aktif mengembangkan kemampuan akademik melalui kegiatan menulis dan belajar. Penulis dapat dihubungi melalui email: sarinanagan34@gmail.com)
Pengalaman tersebut membuat saya lebih teliti ketika membaca buku, artikel, maupun materi perkuliahan lainnya.
Selama mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, saya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Mata kuliah yang awalnya saya anggap biasa ternyata memberikan banyak pelajaran yang bermanfaat.
Kini saya semakin memahami pentingnya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik saat menulis maupun berbicara. Ilmu yang saya peroleh selama satu semester ini akan menjadi bekal berharga untuk menyelesaikan berbagai tugas kuliah, terutama ketika menyusun makalah dan skripsi di masa mendatang.
Penulis: Sarina Fitri (Mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Memiliki minat di bidang pendidikan, serta aktif mengembangkan kemampuan akademik melalui kegiatan menulis dan belajar. Penulis dapat dihubungi melalui email: sarinanagan34@gmail.com)
Foto: Dok. untuk INTIinspira


