Catatan dari Kelas Bahasa Indonesia yang Tidak Pernah Kurencanakan

Babak Pertama: Sebelum Pintu Kelas Kubuka

INTIinspira - "Pak Arizul, tolong ngajar Bahasa Indonesia ya! Semoga nanti mahasiswa itu bisa lebih semangat membaca dan rapi dalam menulis."

Lebih kurang begitulah pesan yang kuterima dari Bu Riska.

Sempat aku berpikir “Waduh, latar belakang keilmuanku kan Pendidikan Islam”. Tapi setelah menimbang beberapa hal, akhirnya aku terima amanah itu.

Pertimbangannya begini, materi Bahasa Indonesia ini menurutku mendesak, tidak usah jauh-jauh untuk melihat masalahnya.

Di pinggir jalan sering kutemukan penulisan asal seperti Rumah ini di sewakan (seharusnya disewakan). Tanah ini di jual (seharusnya dijual). Bahkan ada satu yang membuatku ngakak sendiri: Di larang buwang sampah ditempat ini (seharusnya Dilarang buang sampah di tempat ini).

Nah, inilah mungkin awal semangatku untuk mulai mengajar mata kuliah ini.

Setelah bulat menerima tawaran itu, aku membuka SIAKAD—tujuannya mau melihat berapa banyak mahasiswa di kelas, supaya bisa menyiasati cara mengajar yang efektif.

Ini kebiasaanku sejak dulu. Soalnya, dulu pernah mengajar di MTs dengan satu kelas isi 32 siswa, hampir stres aku.

Waktu sedang menjelaskan materi, tiba-tiba dari pojok kanan: "Pak, izin ke WC." Belum dia balik, dari pojok kiri: "Pak, izin ke WC." Buyar sudah konsentrasiku.

Dari pengalaman itu, mengecek jumlah mahasiswa duluan sudah jadi semacam ritual wajib—walau tentu mahasiswa beda dengan siswa, tapi potensinya tetap sama.

Setelah mengecek nama-nama di daftar, aku tertegun “Lah, perempuan semua ini”. Tapi itu cepat berlalu, karena aku sadar ini Prodi PIAUD. Jarang sekali laki-laki mau masuk ke sini. Dengan membayangkan riuh anak-anak saja, sudah bisa membuat mereka naik asam lambung.

Setelah itu, aku pun segera menyusun RPS. Komposisi materinya kususun dengan mempertimbangkan bahwa mereka mahasiswa baru. Maka aku pilih materi dasar dulu.

Sebagian orang mungkin bertanya, ngapain materi dasar—toh itu sudah diajarkan di sekolah menengah? Bagiku begini, dasar itu fondasi. Kalau fondasi kuat, mereka bisa kembangkan sendiri keilmuannya.

Dan karena mereka masih baru, kemungkinan besar mereka mengerti teorinya tapi belum terbiasa menerapkan. Maka formulasiku banyak ke praktik—termasuk praktik membaca efektif dan menulis.

Setelah RPS selesai, aku merasa lega. Tinggal menunggu hari pertama.

Babak Kedua: Di Dalam Kelas

Pertemuan perdana kami berlangsung lewat Zoom—karena waktu itu masih bulan puasa. Aku sendiri sebenarnya tidak nyaman kalau harus masuk Zoom. Bagiku, tubuh itu tidak pernah tergantikan.

Kalau bertemu langsung di kelas, aku bukan hanya mendengar suara dan melihat wajah—aku juga menangkap aura khawatir, takut, jengkel, mata yang sedang memberi perhatian, atau mata yang sedang berdoa supaya kelas cepat berakhir. Di Zoom, semua itu tidak terasa.

Tapi memang, dalam kondisi tertentu yang bertemu langsung kurang memungkinkan, Zoom bisa dipakai—untuk kasus khusus saja, menurutku.

Pertemuan online itu berjalan tidak terlalu mulus. Banyak yang tidak membuka kamera, suara terputus-putus, tidak semua hadir.

Tapi aku berprinsip begini, kalau sudah menunggu 10 menit, perkuliahan segera kumulai. Jangan sampai yang sudah hadir dikorbankan hanya karena menunggu yang belum masuk. Fokuslah ke yang sudah ada, bukan ke yang tidak ada. Ini bukan bacot.

Setelah lebaran, kami akhirnya masuk kelas. Dan di situlah semua mulai terasa lebih hidup.

Waktu melangkah masuk, pintu kelas kubuka—dan aku sangat senang, mahasiswa sudah ada di dalam. Aku meletakkan tas dan laptop di meja, lalu mataku menyapu seluruh ruangan.

Melihat beragam pasang mata yang waktu itu tampak hening. Mungkin mereka mengira tatapanku itu serius. Padahal? Aku gugup. Rupanya nggak tahu mereka.

Aku mulai memeriksa kehadiran satu per satu. Setiap nama yang kupanggil, aku perhatikan betul wajahnya—karena salah satu masalahku memang susah mengingat nama. 

Sambil memanggil nama, aku diam-diam berdoa semoga wajahnya tidak tertukar.

Soal tertukar ini, aku jadi teringat kakek tetanggaku di kampung. 

Waktu itu dia mau menyembelih ayam. Sesudah disembelih, dia tatap dengan seksama wajah si ayam, lalu tiba-tiba dia berteriak ke istrinya: "Ini bukan ayam kita!" Rupanya, yang disembelihnya itu ayam tetangga.

Cerita ini bukan untuk membandingkan ayam dengan mahasiswaku—tapi kurang lebih beginilah nasib kita tidak mampu membedakan wajah.

Di pertemuan tatap muka pertama ini, aku menampilkan data tentang krisis literasi di Indonesia. Tujuannya untuk memantik fokus mereka, karena sesuatu yang dipelajari tanpa tahu masalah dan tujuannya biasanya kurang membekas. Tapi ketika mereka tahu masalah, dan tahu untuk apa mereka belajar satu mata kuliah, maka mereka akan mengerti urgensinya.

Soal kontrak kuliah, aku tekankan lagi bahwa nilai tertinggi bagiku adalah kehadiran. Baru disusul penilaian lain. Ada mahasiswa yang terkejut mendengar itu.

Dan aku baru tahu belakangan bahwa di antara mereka ada ibu-ibu dengan dua anak yang khawatir apakah bisa ikut kuliah secara penuh atau tidak. Aku memahami kekhawatiran itu—tapi keputusanku sudah bulat.

Bagiku waktu itu seperti usia. Waktu yang habis berarti usia juga habis, dan itu tidak pernah bisa diulang.

Ada dosen favoritku dulu yang tidak pernah telat masuk kelas—cuma sekali telatnya, dan itu cuma 5 menit, hitung betul aku kalau soal waktu. Aku sangat terinspirasi darinya.

Waktu bagiku seperti aliran sungai yang tak bisa kita pegang dua kali. Dan di akhir semester, para ibu yang paling khawatir itu justru termasuk mahasiswa yang paling rajin masuk kelas. Ini keren, menurutku.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya aku memberikan beberapa tugas—menulis tangan, memperbaiki tanda baca, membuat kalimat efektif, dan membuat resensi buku waktu UTS.

Setiap tugas selalu kusertai contoh dan teknis penulisan, karena aku tidak mau membiarkan mereka kebingungan. Kalau ada yang bertanya—langsung atau lewat WhatsApp—sebisa mungkin segera kujawab.

Dari tugas-tugas itu, aku tahu ada yang membuat dengan ChatGPT. Caraku mengetesnya sederhana saja, aku minta mereka maju ke depan dan memperbaiki satu paragraf langsung di hadapanku. Sebagian tidak bisa. Di situlah ketahuan.

Aku berkata ke mereka:

Saya tidak peduli kalian memberikan jawaban benar atau salah. Tapi kejujuran bagi saya nomor satu. Pintar tidak pintar itu proses, tapi kejujuran itu karakter. Jangan coba-coba bohongi saya—jelek-jelek begini saya juga pernah jadi mahasiswa.

Sebelum kejadian itu, banyak di antara mereka yang takut kalau jawaban mereka salah. "Pak, kalau salah gimana?" Tidak apa-apa, aku bilang—asal kalian berusaha memberi yang terbaik dan bersikap jujur. 

Dari situ mereka mulai berani berekspresi.

Di lembaga pendidikan formal, sistem nampaknya memang lebih mementingkan hasil ketimbang proses—dan itu yang membuat menyontek menjadi contoh mengerikan dari kasus ini. Aku ingin membalik hal itu—paling tidak, di kelasku saja. Teringat aku pada syair Iqbal:

Jangan kau gadaikan dirimu,
ke berbagai pabrik gelas di belahan Barat!
Buatlah sendiri cawan dan kendimu,
walau hanya dari tanah liat!


Aku menghayati syair itu—sehingga waktu mengajar pun aku terbawa ke sana. Yang paling membuatku geram adalah jika mereka tidak membuat tugas, atau menyuruh ChatGPT membuatkannya. Hasil karya yang salah tapi sungguhan, bagiku jauh lebih berharga.

Dan setelah itu, mereka lebih bisa fokus ke proses. Mulai tidak khawatir untuk menjawab walau salah—asal itu benar-benar dari diri mereka sendiri.

Ada satu mahasiswa yang kuingat. Di awal-awal pertemuan, aku menemukan bahwa dia sama sekali tidak memperhatikanku di depan, tugasnya dibuat dengan Chat GPT. Lalu aku memanggilnya. Waktu maju ke depan, dari sorot matanya aku bisa membaca kebingungan dan ketakutan.

Kuberi secarik kertas berisi satu paragraf, kuminta dia memperbaikinya. Waktu dia kebingungan, aku sampaikan bahwa yang aku nilai bukan benar atau salah, melainkan kejujurannya. Dari situ nampak sorot matanya kini sedikit lebih lega.

Aku menyampaikan itu dengan pelan sekali, aku tidak akan mempermalukan mahasiswa. Aku cukup paham bahwa mempermalukan itu sangat berbahaya bagi mental siapa pun. Toh aku juga tidak mau diperlakukan seperti itu.

Nampaknya itu berkesan baginya. Karena setelah itu nampak perubahan—dia mulai memperhatikan waktu aku menjelaskan, dan mulai berani bertanya ketika tidak mengerti.

Hal yang paling penting saat mengajar, bagiku, adalah menyadari bahwa mahasiswa itu ada yang cepat dan ada yang lambat dalam memahami. 

Tapi aku tidak terlalu ambil pusing soal itu—aku setia pada proses. Dan aku berusaha sabar memberikan arahan.

Dalam setiap akhir pertemuan, seringkali aku sampaikan: Adalah kesedihan bagiku, jika kalian keluar dari kelas ini, tak ada hal baru yang kalian bawa.

Babak Ketiga: Setelah Pintu Kelas Tertutup

Di akhir-akhir pertemuan, dari sekian banyak mahasiswa, ada beberapa nama yang memang kuingat.

Ada yang menurutku punya bakat menulis. Ada yang harus menempuh perjalanan dua jam setiap kali ada kelas. Ada yang kondisinya sedang tidak baik-baik saja sepanjang semester, tapi tidak pernah absen sekalipun.

Ada yang sangat semangat sampai meminta waktu khusus untuk diajari teknis menulis makalah di Microsoft Word. Ada yang baru bisa melanjutkan kuliah setelah bertahun-tahun tertunda karena orang kondisi orang tua—menikah dulu, punya anak dua, baru sekarang bisa duduk lagi di bangku kuliah.

Keunikan seperti itulah yang membuatku cukup berkesan selama mengajar di kelas ini.

Aku sebenarnya lebih menghargai mahasiswa daripada yang mungkin terlihat dari luar. Dan di akhir semester, aku menyampaikan ini kepada mereka:

Mungkin waktu mengajar saya terasa menyebalkan bagi kalian. Iya, bisa jadi. Gaya bicara saya mungkin menakutkan. Kadang kalian terkejut-kejut. Mungkin kalian ingin protes tapi tidak berani. Entah apa pun namanya, kalau kalian tidak senang, saya minta maaf. Itulah gayaku mengajar—tidak kubuat-buat.

Tapi dari itu semua, cuma satu yang kuharap: ambillah yang baik, dan tinggalkan saja yang jelek.

Ilmu itu diamalkan. Jika tidak, ia akan lupa. Praktikkan dalam setiap tulisan kalian—di makalah, laporan, skripsi (bukan krispi), atau setiap mengirimkan pesan ke dosen. Di situlah terlihat apakah kalian telah mengamalkan ilmu atau belum.

Banyak-banyaklah membaca. Malulah jika waktu scroll lebih lama ketimbang membaca. Disiplin, itulah modal kita. Ketika kamu mulai malas, ingatlah kembali wajah-wajah yang menaruh harapan padamu. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. 

Begitulah kira-kira. Kelas yang tidak pernah kurencanakan itu ternyata meninggalkan banyak hal untukku. Di situlah letak indahnya mengajar bagiku. kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang paling banyak belajar di dalam ruangan itu.

Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan. Penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com)

Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan