Belajar Tak Mengenal Usia: Catatan dari Kelas Bahasa Indonesia

INTIinspira – Menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Setiap hari saya harus membagi waktu antara mengurus rumah, mendampingi anak-anak, dan mengikuti perkuliahan. Ada kalanya saya merasa lelah, tetapi keinginan untuk terus belajar selalu membuat saya kembali bersemangat.

Saya percaya, pendidikan adalah bekal terbaik yang bisa saya berikan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai teladan bagi anak-anak.

Perjalanan menuju kampus pun bukan perkara sederhana. Dari rumah, saya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke kampus. Karena jaraknya cukup jauh, saya harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat mengikuti perkuliahan.

Meski perjalanan itu sering menguras tenaga, saya mencoba menikmatinya. Dalam hati saya selalu berkata bahwa setiap langkah yang saya tempuh hari ini adalah bagian dari perjuangan untuk masa depan.

Ketika memasuki semester dua, saya mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia. Awalnya saya mengira mata kuliah ini tidak akan terlalu sulit karena bahasa Indonesia sudah saya gunakan setiap hari.

Ternyata, setelah perkuliahan dimulai, saya baru menyadari bahwa masih banyak hal yang belum saya pahami, terutama tentang penulisan ilmiah.

Pertemuan pertama masih berlangsung secara daring melalui Zoom karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan.

Beberapa menit sebelum kelas dimulai, telepon genggam saya berbunyi. Sebuah pesan di grup kelas mengingatkan bahwa perkuliahan akan segera dimulai. Saya segera menyiapkan diri dan masuk ke ruang virtual dengan perasaan campur aduk antara semangat dan gugup.

Rasa gugup itu semakin terasa ketika dosen meminta setiap mahasiswa memperkenalkan diri. Saat nama saya dipanggil, jantung saya berdegup lebih cepat.

Berbicara di depan dosen dan teman-teman yang baru saya kenal, meskipun hanya melalui layar Zoom, ternyata tetap membuat saya gugup. Untungnya, saya berhasil menyelesaikan perkenalan itu dengan baik, meski suara saya sempat bergetar.

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, kami mulai belajar secara tatap muka di kampus. Di kelas itulah saya mulai mengenal berbagai materi yang sebelumnya terasa asing, mulai dari penulisan catatan kaki, penyusunan karya ilmiah, penggunaan huruf kapital sesuai PUEBI, hingga teknik menyusun artikel.

Bagi sebagian orang materi tersebut mungkin sudah biasa, tetapi bagi saya semuanya merupakan pengalaman baru yang membuka wawasan.

Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika dosen memberikan tugas membuat resensi buku. Tugas itu menjadi syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester.

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung merasa cemas. Teman-teman tampak sudah memahami cara membuat resensi, sedangkan saya masih bingung harus memulai dari mana.

Namun, saya tidak ingin menyerah begitu saja. Saya mulai membaca buku Membangun Puing Peradaban dengan lebih teliti. Sedikit demi sedikit saya mencoba menyusun resensi sesuai arahan dosen.

Ketika mengalami kesulitan, saya memberanikan diri bertanya kepada dosen dan berdiskusi dengan teman-teman. Berkat bimbingan mereka, saya akhirnya mampu menyelesaikan tugas tersebut. Saat resensi itu selesai, saya merasakan kepuasan yang sulit diungkapkan karena saya tahu tugas itu lahir dari proses belajar yang sungguh-sungguh.

Hal lain yang membuat saya bersemangat mengikuti mata kuliah ini adalah cara dosen mengajar. Beliau selalu datang tepat waktu, menjelaskan materi dengan sabar, dan membagikan bahan pembelajaran melalui grup kelas agar kami dapat mempelajarinya kembali di rumah.

Bagi saya, perhatian sederhana seperti itu sangat membantu, terutama ketika ada materi yang belum sepenuhnya saya pahami.

Selama satu semester, saya tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang Bahasa Indonesia, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan lebih teliti.

Saya mulai membiasakan diri memeriksa kembali setiap tugas sebelum dikumpulkan dan tidak lagi mudah menyerah ketika menemui kesulitan. Saya juga belajar bahwa setiap kemampuan membutuhkan proses, latihan, dan kesabaran.

Kini saya semakin yakin bahwa belajar memang tidak mengenal usia. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu.

Perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi setiap tantangan yang berhasil dilewati membuat saya semakin percaya bahwa kerja keras, doa, dan kemauan untuk terus belajar akan selalu menemukan jalannya sendiri.


Penulis: Putriani (Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di TK Bungong Padee, Cot Buloh. Selain aktif mengajar, ia juga merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di STAI Darul Hikmah Aceh Barat. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail: py9649786@gmail.com

Foto: Dok. untuk INTIinspira
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan