Ratoh Jaroe: Warisan Seni Aceh yang Memikat Dunia
INTIinspira - "Tak kenal maka tak sayang." Peribahasa itu selalu terlintas di benak saya setiap kali berbicara tentang budaya. Rasanya sulit mencintai sesuatu yang belum pernah kita kenal. Sebaliknya, ketika seseorang mulai akrab dengan budayanya sendiri, rasa memiliki akan tumbuh dengan sendirinya. Itulah yang saya rasakan terhadap Tari Ratoh Jaroe.
Saya mengenal Ratoh Jaroe bukan hanya sebagai tarian yang sering tampil di berbagai acara. Saya pernah menjadi salah satu penarinya. Pengalaman itu membuat saya melihat Ratoh Jaroe dengan cara yang berbeda. Di balik gerakan yang serempak dan irama gendang yang menghentak, ada proses panjang yang penuh latihan, kebersamaan, dan kerja keras.
Pertama kali saya melihat Ratoh Jaroe ketika masih duduk di bangku kelas satu SMA. Saat itu sekolah mengadakan acara perpisahan untuk kakak kelas. Di antara semua penampilan, tarian inilah yang paling menarik perhatian saya.
Tepukan tangan para penari terdengar begitu padu mengikuti irama gendang. Gerakan mereka tampak serasi dari awal hingga akhir, sementara syair Aceh yang mengiringinya membuat suasana semakin meriah. Saya masih ingat bagaimana kagumnya saya waktu itu. Dalam hati, saya berharap suatu saat bisa berdiri di panggung dan menarikan Ratoh Jaroe seperti mereka.
Kesempatan itu datang ketika saya bergabung dengan Sanggar Putro Pade di sekolah. Saya masuk dengan keyakinan sederhana: yang penting bisa menghafal gerakan. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pada latihan-latihan pertama, saya baru memahami mengapa Ratoh Jaroe selalu terlihat begitu indah saat dipentaskan. Rupanya, dalam tarian ini kekompakan jauh lebih utama daripada kemampuan masing-masing penari. Kalau ada satu orang saja yang terlambat atau terlalu cepat mengikuti irama, perubahan itu langsung terlihat. Gerakan yang tadinya serasi menjadi terasa janggal. Karena itulah kami harus benar-benar saling memperhatikan agar tetap bergerak dalam tempo yang sama.
Menjelang hari pementasan, latihan semakin sering dilakukan. Hampir setiap hari kami berkumpul untuk mengulang gerakan yang sama. Ada kalanya kami masih salah, kadang irama berubah, kadang posisi bergeser. Pelatih pun beberapa kali menghentikan latihan dan meminta kami mengulang dari awal. Meski melelahkan, tidak ada yang mengeluh. Sedikit demi sedikit kami mulai merasakan perubahan. Gerakan yang awalnya terasa kaku mulai menyatu. Kekompakan yang dulu sulit didapat perlahan mulai terbentuk.
Yang membuat saya semakin betah mengikuti latihan justru suasananya. Saya bertemu teman-teman dari berbagai kelas. Kami saling membantu mengingat gerakan, saling menyemangati ketika mulai lelah, lalu mengakhiri latihan dengan obrolan dan canda. Tanpa terasa, latihan Ratoh Jaroe tidak hanya melahirkan sebuah pertunjukan, tetapi juga mempererat persahabatan kami.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Menjelang naik ke panggung, rasa gugup terus menghantui saya. Saya takut melakukan kesalahan yang bisa memengaruhi penampilan seluruh tim. Namun, begitu suara gendang mulai terdengar, semua pikiran itu perlahan menghilang.
Saya hanya berusaha mengikuti irama dan menjaga kekompakan bersama teman-teman. Ketika tarian selesai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya mengembuskan napas lega. Rasanya sulit digambarkan. Semua latihan yang melelahkan seakan terbayar pada sore itu.
Sejak pengalaman itu, setiap kali menyaksikan Ratoh Jaroe, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada indahnya gerakan para penari. Saya justru teringat proses yang mungkin tidak dilihat penonton. Ada latihan yang berulang-ulang, ada rasa lelah, ada kesalahan yang terus diperbaiki, dan ada kerja sama yang dibangun sedikit demi sedikit. Mungkin karena pernah menjalaninya sendiri, saya jadi lebih menghargai setiap penampilan Ratoh Jaroe.
Sebagai orang Aceh, saya bangga karena Ratoh Jaroe sudah dikenal hingga ke berbagai daerah, bahkan sering dipentaskan di luar negeri. Di sisi lain, saya juga berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal tarian ini lebih dekat. Sayang sekali jika kita lebih hafal budaya dari tempat lain, sementara warisan yang tumbuh di tanah sendiri justru terasa asing.
Melestarikan Ratoh Jaroe sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Ada yang memilih bergabung dengan sanggar seni, ada yang mengenalkannya lewat media sosial, ada pula yang ikut mendukung berbagai kegiatan budaya di sekolah maupun kampus. Apa pun caranya, saya percaya setiap usaha kecil akan ikut menjaga agar tarian ini tetap hidup.
Sampai hari ini, setiap kali mendengar irama gendang Ratoh Jaroe, ingatan saya selalu kembali pada masa-masa latihan di Sanggar Putro Pade. Saya teringat teman-teman yang berjuang bersama, rasa gugup sebelum tampil, dan tepuk tangan yang kami terima setelah pertunjukan selesai. Kenangan itu membuat Ratoh Jaroe memiliki tempat tersendiri dalam hidup saya. Ia bukan hanya bagian dari budaya Aceh, tetapi juga bagian dari perjalanan yang selalu saya kenang dengan bangga.
Penulis: Nabila (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe) Foto: Dok. untuk INTIinspira
Saya mengenal Ratoh Jaroe bukan hanya sebagai tarian yang sering tampil di berbagai acara. Saya pernah menjadi salah satu penarinya. Pengalaman itu membuat saya melihat Ratoh Jaroe dengan cara yang berbeda. Di balik gerakan yang serempak dan irama gendang yang menghentak, ada proses panjang yang penuh latihan, kebersamaan, dan kerja keras.
Pertama kali saya melihat Ratoh Jaroe ketika masih duduk di bangku kelas satu SMA. Saat itu sekolah mengadakan acara perpisahan untuk kakak kelas. Di antara semua penampilan, tarian inilah yang paling menarik perhatian saya.
Tepukan tangan para penari terdengar begitu padu mengikuti irama gendang. Gerakan mereka tampak serasi dari awal hingga akhir, sementara syair Aceh yang mengiringinya membuat suasana semakin meriah. Saya masih ingat bagaimana kagumnya saya waktu itu. Dalam hati, saya berharap suatu saat bisa berdiri di panggung dan menarikan Ratoh Jaroe seperti mereka.
Kesempatan itu datang ketika saya bergabung dengan Sanggar Putro Pade di sekolah. Saya masuk dengan keyakinan sederhana: yang penting bisa menghafal gerakan. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pada latihan-latihan pertama, saya baru memahami mengapa Ratoh Jaroe selalu terlihat begitu indah saat dipentaskan. Rupanya, dalam tarian ini kekompakan jauh lebih utama daripada kemampuan masing-masing penari. Kalau ada satu orang saja yang terlambat atau terlalu cepat mengikuti irama, perubahan itu langsung terlihat. Gerakan yang tadinya serasi menjadi terasa janggal. Karena itulah kami harus benar-benar saling memperhatikan agar tetap bergerak dalam tempo yang sama.
Menjelang hari pementasan, latihan semakin sering dilakukan. Hampir setiap hari kami berkumpul untuk mengulang gerakan yang sama. Ada kalanya kami masih salah, kadang irama berubah, kadang posisi bergeser. Pelatih pun beberapa kali menghentikan latihan dan meminta kami mengulang dari awal. Meski melelahkan, tidak ada yang mengeluh. Sedikit demi sedikit kami mulai merasakan perubahan. Gerakan yang awalnya terasa kaku mulai menyatu. Kekompakan yang dulu sulit didapat perlahan mulai terbentuk.
Yang membuat saya semakin betah mengikuti latihan justru suasananya. Saya bertemu teman-teman dari berbagai kelas. Kami saling membantu mengingat gerakan, saling menyemangati ketika mulai lelah, lalu mengakhiri latihan dengan obrolan dan canda. Tanpa terasa, latihan Ratoh Jaroe tidak hanya melahirkan sebuah pertunjukan, tetapi juga mempererat persahabatan kami.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Menjelang naik ke panggung, rasa gugup terus menghantui saya. Saya takut melakukan kesalahan yang bisa memengaruhi penampilan seluruh tim. Namun, begitu suara gendang mulai terdengar, semua pikiran itu perlahan menghilang.
Saya hanya berusaha mengikuti irama dan menjaga kekompakan bersama teman-teman. Ketika tarian selesai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya mengembuskan napas lega. Rasanya sulit digambarkan. Semua latihan yang melelahkan seakan terbayar pada sore itu.
Sejak pengalaman itu, setiap kali menyaksikan Ratoh Jaroe, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada indahnya gerakan para penari. Saya justru teringat proses yang mungkin tidak dilihat penonton. Ada latihan yang berulang-ulang, ada rasa lelah, ada kesalahan yang terus diperbaiki, dan ada kerja sama yang dibangun sedikit demi sedikit. Mungkin karena pernah menjalaninya sendiri, saya jadi lebih menghargai setiap penampilan Ratoh Jaroe.
Sebagai orang Aceh, saya bangga karena Ratoh Jaroe sudah dikenal hingga ke berbagai daerah, bahkan sering dipentaskan di luar negeri. Di sisi lain, saya juga berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal tarian ini lebih dekat. Sayang sekali jika kita lebih hafal budaya dari tempat lain, sementara warisan yang tumbuh di tanah sendiri justru terasa asing.
Melestarikan Ratoh Jaroe sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Ada yang memilih bergabung dengan sanggar seni, ada yang mengenalkannya lewat media sosial, ada pula yang ikut mendukung berbagai kegiatan budaya di sekolah maupun kampus. Apa pun caranya, saya percaya setiap usaha kecil akan ikut menjaga agar tarian ini tetap hidup.
Sampai hari ini, setiap kali mendengar irama gendang Ratoh Jaroe, ingatan saya selalu kembali pada masa-masa latihan di Sanggar Putro Pade. Saya teringat teman-teman yang berjuang bersama, rasa gugup sebelum tampil, dan tepuk tangan yang kami terima setelah pertunjukan selesai. Kenangan itu membuat Ratoh Jaroe memiliki tempat tersendiri dalam hidup saya. Ia bukan hanya bagian dari budaya Aceh, tetapi juga bagian dari perjalanan yang selalu saya kenang dengan bangga.
Penulis: Nabila (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe) Foto: Dok. untuk INTIinspira

.jpeg)
