Surga yang Berjalan di Bumi: Ulasan Buku Ibu Bidadari Surga Berwujud Manusia
|
Judul |
: |
Ibu Bidadari Surga Berwujud Manusia |
|
Penulis |
: |
Nova Indria Yusnita |
|
Penerbit |
: |
Alfasyam Jaya
Mandiri |
|
Tahun terbit |
: |
2025 |
|
Jumlah halaman |
: |
v + 120
halaman |
|
ISBN |
: |
9786238770427 |
Pendahuluan
INTIinspira - Buku Ibu Bidadari Surga Berwujud Manusia karya Nova Indria Yusnita adalah sebuah buku yang membahas sosok ibu dari sisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.Topik utama yang diangkat adalah betapa besarnya peran seorang ibu—bagaimana ia menjadi tempat pulang, tempat bercerita, dan guru pertama bagi anak-anaknya.
Resensi ini ditulis dengan tujuan mengulas isi buku, menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, serta melihat kelebihan dan kekurangannya agar pembaca bisa mempertimbangkan manfaat membaca buku ini.
Resensi ini ditulis dengan tujuan mengulas isi buku, menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, serta melihat kelebihan dan kekurangannya agar pembaca bisa mempertimbangkan manfaat membaca buku ini.
Ringkasan Isi Buku
Secara umum, buku ini membahas pengorbanan seorang ibu yang rela memberikan segalanya demi anak-anaknya.Buku ini terbagi menjadi 20 judul, di mana setiap bagiannya menceritakan satu sisi kehebatan sosok ibu dari sudut yang berbeda-beda.
Di bagian awal, penulis menjelaskan bahwa sosok ibu itu tidak hanya satu bentuk—ada ibu kandung, ibu tiri, ibu suri, dan ibu guru. Meski berbeda-beda, semuanya punya inti yang sama: ibu adalah sosok yang tulus dalam menjalankan tugasnya dan memberikan cinta tanpa pamrih.
Di bagian awal, penulis menjelaskan bahwa sosok ibu itu tidak hanya satu bentuk—ada ibu kandung, ibu tiri, ibu suri, dan ibu guru. Meski berbeda-beda, semuanya punya inti yang sama: ibu adalah sosok yang tulus dalam menjalankan tugasnya dan memberikan cinta tanpa pamrih.
Penulis menggambarkan ibu sebagai makhluk Allah yang mulia dan lembut, yang selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya.
Bagian tengah buku menggambarkan sisi pengorbanan ibu yang sering tidak kelihatan.
Bagian tengah buku menggambarkan sisi pengorbanan ibu yang sering tidak kelihatan.
Seorang ibu menyimpan lelah yang tidak pernah ia akui, dan rasa sakit yang tidak pernah ia ceritakan. Tapi ia tetap berjalan, tetap tersenyum, dan terus memberikan yang terbaik. Hal ini terlihat dalam salah satu kutipan buku:
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya..." (hlm. 2).
Kutipan itu menunjukkan bahwa kasih sayang ibu tidak pernah bersyarat—memaafkan anaknya adalah hal yang mudah baginya, meski hatinya terluka.
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya..." (hlm. 2).
Kutipan itu menunjukkan bahwa kasih sayang ibu tidak pernah bersyarat—memaafkan anaknya adalah hal yang mudah baginya, meski hatinya terluka.
Buku ini juga memuat kisah seorang anak yang merasa capek dengan sifat ibunya yang tegas dan cerewet, namun tiba-tiba tersadar saat ia teringat bagaimana ibunya membesarkan dirinya dan saudaranya sendirian sebagai single parent. Kesadaran itu langsung mengubah cara pandangnya.
Selain kisah-kisah itu, buku ini juga menyertakan hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu:
"Rasulullah Saw. bersabda bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, rida dan restu seorang ibu merupakan jalan menuju surga..." (hlm. 98).
Di bagian akhir, penulis menutup dengan sebuah percakapan di panti jompo. Ada seorang ibu yang dengan bangga menceritakan kesuksesan anak-anaknya—soal harta dan jabatan.
Selain kisah-kisah itu, buku ini juga menyertakan hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu:
"Rasulullah Saw. bersabda bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, rida dan restu seorang ibu merupakan jalan menuju surga..." (hlm. 98).
Di bagian akhir, penulis menutup dengan sebuah percakapan di panti jompo. Ada seorang ibu yang dengan bangga menceritakan kesuksesan anak-anaknya—soal harta dan jabatan.
Tapi ada satu ibu lain yang hanya diam sambil tersenyum mendengarkan. Ketika ditanya, ia menjawab dengan tenang dan percaya diri:
"Anak saya hanya satu, seorang petani, tetapi saya senang karena pagi ini saya akan dijemput dan diajak tinggal bersama anak dan menantu saya... mereka menginginkan saya ada di samping mereka." (hlm. 101).
Ibu-ibu lain pun terdiam. Dari percakapan biasa itu, penulis menyampaikan pesan: kebahagiaan sejati orang tua bukan soal harta atau jabatan anaknya, tapi soal saat mereka dibutuhkan, dianggap penting, dan keberadaannya dirindukan.
"Anak saya hanya satu, seorang petani, tetapi saya senang karena pagi ini saya akan dijemput dan diajak tinggal bersama anak dan menantu saya... mereka menginginkan saya ada di samping mereka." (hlm. 101).
Ibu-ibu lain pun terdiam. Dari percakapan biasa itu, penulis menyampaikan pesan: kebahagiaan sejati orang tua bukan soal harta atau jabatan anaknya, tapi soal saat mereka dibutuhkan, dianggap penting, dan keberadaannya dirindukan.
Analisis: Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
Buku ini memakai bahasa yang mudah dimengerti dan bisa menyentuh perasaan pembaca. Cara penyampaiannya ringan tapi tetap punya makna, sehingga cocok dibaca oleh siapa saja kapan saja.Pembagian isi buku menjadi 20 judul pendek juga memudahkan pembaca untuk membacanya sedikit demi sedikit tanpa merasa berat. Ditambah lagi, adanya hadis tentang berbakti kepada ibu membuat pesan moral buku ini terasa lebih kuat dari sisi agama.
Kekurangan
Namun, buku ini punya kelemahan yang cukup terasa: setiap cerita atau pembahasan terasa terlalu singkat dan kurang dalam.Beberapa kisah yang sebenarnya punya potensi menyentuh perasaan justru terasa selesai terlalu cepat, sehingga kesannya tidak terlalu membekas.
Pembaca yang ingin cerita dengan karakter dan konflik yang lebih kaya mungkin akan merasa kurang puas.
Foto: Dok. Untuk INTIinspira
Penutup
Setelah membaca buku ini, satu hal yang paling terasa adalah bahwa setiap ibu punya jalan hidupnya masing-masing, tapi semuanya berujung pada satu hal yang sama: keluarga.Buku ini mengingatkan bahwa tidak semua jalan itu mudah, dan di balik senyum seorang ibu sering kali ada perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan. Buku ini punya pesan moral yang bagus dan terasa nyata, terutama bagi anak muda zaman sekarang yang sering lupa menghargai orang tua, khususnya ibu.
Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan sebagai pengingat bahwa surga, seperti yang disabdakan Rasulullah, memang ada di telapak kaki ibu.
Penulis: Ferra Wati Fajri (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. Untuk INTIinspira


