Mempertanyakan Makna Patuh dan Tidak Patuh: Review Buku Erich Fromm
Identitas Buku
|
Judul |
: |
Perihal
Ketidakpatuhan |
|
Penulis |
: |
Erich
Fromm |
|
Penerbit |
: |
IRCiSoD |
|
Tahuh
terbt |
: |
2020 |
|
Jumlah
halaman |
: |
116 halaman |
|
ISBN |
: |
978-623-7378-50-1 |
Pendahuluan
INTIinspira - Buku Perihal Ketidakpatuhan ditulis oleh Erich Fromm dan membahas tentang kebebasan manusia serta sikap tidak patuh terhadap kekuasaan.
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa patuh itu selalu benar dan tidak patuh itu selalu salah.
Fromm justru mempertanyakan anggapan itu. Ia berpendapat bahwa dalam situasi tertentu, sikap tidak patuh justru diperlukan, terutama ketika yang dipatuhi adalah sesuatu yang tidak adil.
Buku ini menarik karena mengajak pembaca untuk tidak begitu saja menerima aturan tanpa berpikir terlebih dahulu.
Ringkasan Isi Buku
Buku ini terdiri dari empat bab.
Bab pertama membahas bagaimana manusia sejak dulu diajarkan untuk selalu patuh kepada aturan dan orang yang berkuasa. Karena itu, sikap tidak patuh sering dianggap buruk. Namun, Fromm menjelaskan bahwa tidak semua kepatuhan itu benar dan tidak semua ketidakpatuhan itu salah.
Bab kedua membahas pengaruh ajaran para nabi dan tokoh pemikir terhadap pengetahuan manusia. Fromm mengingatkan bahwa pengetahuan bisa berbahaya jika disalahgunakan, karena dapat mendorong manusia menjadi egois dan melakukan kekerasan.
Bab ketiga menggambarkan bagaimana manusia mulai berani keluar dari cara berpikir lama. Manusia mulai mencari kebebasan dan percaya pada kemampuannya sendiri, bukan hanya ikut-ikutan seperti sebelumnya.
Bab keempat memperkenalkan gagasan sosialisme humanistik. Fromm berpendapat bahwa sistem sosial dan ekonomi seharusnya dibangun untuk kesejahteraan manusia, bukan semata-mata untuk kepentingan kekuasaan atau keuntungan.
Analisis
Fromm berpendapat bahwa ketidakpatuhan terhadap kekuasaan yang zalim bukan berarti memberontak tanpa alasan.
Menurutnya, ketidakpatuhan yang sesungguhnya bukan tentang menolak sesuatu, melainkan tentang memperjuangkan sesuatu yang lebih penting, yaitu kemampuan manusia untuk berpikir dan bersuara.
Hal ini terlihat dari kutipan yang ia tulis: "Lebih baik aku dirantai di batu besar ini daripada harus menjadi budak manut para dewa…" (hlm. 34). Kutipan ini menunjukkan bahwa tunduk pada kekuasaan karena takut sama saja dengan memilih untuk diperbudak.
Cara Fromm menyampaikan gagasannya cukup rapi. Ia memulai dari hal yang umum lalu masuk ke pemikiran yang lebih dalam. Yang membuat buku ini berbeda, Fromm tidak memaksa pembaca untuk setuju dengannya, tetapi mendorong mereka untuk berpikir sendiri.
Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan buku ini adalah gagasannya yang cukup berani dan membuka cara pandang baru. Buku ini mendorong pembaca untuk lebih kritis terhadap aturan dan kekuasaan yang ada di sekitar mereka.
Kekurangannya, buku ini tidak memiliki pendahuluan yang cukup, sehingga pembaca baru bisa kebingungan di awal. Selain itu, bahasa yang digunakan cukup sulit dan filosofis, sehingga perlu waktu lebih untuk memahaminya.
Penutup
Setelah membaca buku Perihal Ketidakpatuhan, saya jadi memahami bahwa tidak patuh tidak selalu berarti salah. Dalam situasi tertentu, ketidakpatuhan justru bisa menjadi bentuk keberanian untuk membela kebenaran.
Buku ini membuat saya lebih berhati-hati dalam menerima aturan—saya tidak langsung menerimanya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin belajar berpikir lebih kritis.
Penulis: Sarina Fitri (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. Untuk INTIinspira


