Seuneukret Ek U: Ketika Belanda Terheran pada Ketangguhan Orang Aceh
INTIinspira - Aceh bukan hanya dikenal karena sejarah perjuangan dan keberanian bangsanya, tetapi juga karena kecerdasan hidup yang lahir dari tradisi sehari-hari.
Dari kebun kebun kelapa yang tumbuh menjulang tinggi subur di tanah Seramoe Mekkah, masyarakat Aceh mewariskan sebuah alat sederhana namun luar biasa mamfaatnya, yaitu Seuneukret Ek U.
Alat tradisional yang dipasang di kaki untuk memanjat pohon kelapa ini pernah membuat bangsa Belanda tertegun melihat kehebatan orang Aceh kala itu.
Seuneukret Ek U adalah pengikat kaki yang digunakan saat memanjat pokok batang kelapa. Dibuat dari tali kuat, rotan, atau bahan alam lainnya, alat ini membantu kedua kaki mengcengkram pokok batang kelapa dengan kokoh dan kuat.
Alat tradisional yang dipasang di kaki untuk memanjat pohon kelapa ini pernah membuat bangsa Belanda tertegun melihat kehebatan orang Aceh kala itu.
Seuneukret Ek U adalah pengikat kaki yang digunakan saat memanjat pokok batang kelapa. Dibuat dari tali kuat, rotan, atau bahan alam lainnya, alat ini membantu kedua kaki mengcengkram pokok batang kelapa dengan kokoh dan kuat.
Dengan seuneukreut itu, para pemanjat kelapa pemanjat kelapa Aceh mampu bergerak cepat naik keatas pohon yang tinggi walaupun licin, seolah bak kera yang memanjat tanpa rasa takut.
Bagi penjajah Belanda di masa kolonial, pemandangan tersebut sangat mengherankan. Mereka melihat seseorang dengan kedua kaki saling terikat, namun justru dapat memanjat kelapa dengan lincah dan gesik.
Bagi penjajah Belanda di masa kolonial, pemandangan tersebut sangat mengherankan. Mereka melihat seseorang dengan kedua kaki saling terikat, namun justru dapat memanjat kelapa dengan lincah dan gesik.
Apa yang bagi mereka tampak mustahil, bagi orang Aceh adalah keterampilan biasa yang diwariskan turun temurun.
Dari rasa heran bercampur kagum dan juga putus asa itulah lahir ucapan yang menggambarkan sulitnya menundukkan Aceh:
“Tak bisa kita lawan Aceh ini, walau kaki terikat saja bisa memanjat kelapa."
Ucapan tersebut bukanlah sekedar kalimat biasa. Ia adalah pengakuan bahwa rakyat Aceh memiliki daya juang yang luar biasa.
Tak jarang pula Penjajah Belanda menyebut “Aceh Pungo”, seakan orang Aceh nekat dan juga gila. Namun kenyataannya, yang Belanda saksikan bukanlah kegilaan melainkan keberanian, ketangkasan, dan juga kecerdikan yang tak mampu mereka pahami.
Seuneukret Ek U bukan hanya sekedar alat panjat. Ia adalah simbol daya cipta Bangsa Aceh yang memanfaatkan alam sekitar untuk menjawab soalan kebutuhan hidup.
Sepintas kita melihat dibalik alat kecil tersebut tersembunyi pelajaran besar: kerja keras, keberanian, kemandirian, dan semangat pantang menyerah.
Kini, di tengah zaman modern, Seuneukreut Ek U ini mulai jarang digunakan. Namun nilainya tak boleh hilang dibawa masa.
Belanda boleh berkata “Aceh Pungo”, tetapi sejarah menjawab: yang mereka lihat bukan kegilaan, melainkan keberanian yang tak mampu mereka tandingi sampai sekarang. Dan dari kaki yang terikat Seuneukreut orang Aceh justru mampu melangkah lebih tinggi menuju puncak. “Hoka Bangsa Aceh lon, beudoh yak ta puga Nanggroe”
Dari rasa heran bercampur kagum dan juga putus asa itulah lahir ucapan yang menggambarkan sulitnya menundukkan Aceh:
“Tak bisa kita lawan Aceh ini, walau kaki terikat saja bisa memanjat kelapa."
Ucapan tersebut bukanlah sekedar kalimat biasa. Ia adalah pengakuan bahwa rakyat Aceh memiliki daya juang yang luar biasa.
Dalam keadaan terbatas pun Aceh tetap bangkit, bergerak, dan mencapai puncak. Apa yang dianggap sebagai kelemahan justru menjadi tonggak kekuatan Aceh.
Tak jarang pula Penjajah Belanda menyebut “Aceh Pungo”, seakan orang Aceh nekat dan juga gila. Namun kenyataannya, yang Belanda saksikan bukanlah kegilaan melainkan keberanian, ketangkasan, dan juga kecerdikan yang tak mampu mereka pahami.
Seuneukret Ek U bukan hanya sekedar alat panjat. Ia adalah simbol daya cipta Bangsa Aceh yang memanfaatkan alam sekitar untuk menjawab soalan kebutuhan hidup.
Dengan alat sederhana, mereka menaklukkan pohon pohon yang menjulang tinggi tanpa mesin, tanpa alat modern, hanya seutas pengikat kaki, kekuatan tubuh, keseimbangan, dan pengalaman.
Sepintas kita melihat dibalik alat kecil tersebut tersembunyi pelajaran besar: kerja keras, keberanian, kemandirian, dan semangat pantang menyerah.
Anak-anak Aceh dahulu tumbuh menyaksikan ayah dan kakeknya memanjat kelapa dengan “Seuneukreut Ek U”, lalu mereka belajar bahwa hidup harus dijalani denagn tekad dan keteguhan.
Kini, di tengah zaman modern, Seuneukreut Ek U ini mulai jarang digunakan. Namun nilainya tak boleh hilang dibawa masa.
Seuneukret Ek U adalah warisan budaya yang membuktikan bahwa Bangsa Aceh sejak dahulu adalah rakyat yang tangguh, kreatif, dan berani menghadapi tantangan.
Belanda boleh berkata “Aceh Pungo”, tetapi sejarah menjawab: yang mereka lihat bukan kegilaan, melainkan keberanian yang tak mampu mereka tandingi sampai sekarang. Dan dari kaki yang terikat Seuneukreut orang Aceh justru mampu melangkah lebih tinggi menuju puncak. “Hoka Bangsa Aceh lon, beudoh yak ta puga Nanggroe”
Penulis: Abu Bakar Siddiq (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sultanah Nahrasiyah, Lhokseumawe).
Foto: Dok. untuk INTIinspira


