Dunia Anak Kita: Anak Jalanan vs Anak Layar
INTIinspira - Sore hari, setelah pulang kerja, sering kali saya berangkat ke Sarolangun. Tidak ada tujuan spesifik. Hanya ingin mencari suasana. Saya selalu singgah di warung pecel lele milik teman. Minum es jeruk sambil memandangi orang lalu lalang. Melihat orang-orang dewasa yang sangat sibuk dan kelelahan.
Namun, belakangan ini ada seorang anak yang selalu mampir di warung teman saya. Usianya baru sepuluh tahun, wajahnya kumal, tidak memakai sandal, dan tatapannya seperti orang yang bukan seusianya. Ia seperti orang dewasa yang kelelahan dengan hidup.
Saat ditanya, ia tidak begitu pandai berkomunikasi. Ia hanya memandangi ayam atau ikan yang sedang digoreng sambil berusaha tersenyum semanis mungkin kepada teman saya. Jelas sekali, ia kelaparan.
Kata teman saya, “Sejak diberi makan, dia rutin datang setiap sore ke sini.” Kami pun bersepakat untuk mengajarkan anak itu bekerja. “Ingat ya, kalau mau makan harus bekerja. Kalau kamu jadi orang yang malas, kamu tidak akan dapat makan,” ucap saya kepadanya.
Kasihan sekali sebetulnya. Seharusnya anak-anak itu, seperti kata Rabindranath Tagore dalam Gitanjali, sebagaimana dikutip Goenawan Mohamad, “anak-anak berkumpul, bermain, dan mencipta di pantai dunia tiada berbatas. Di sana mereka mendirikan rumah-rumahan pasir dan bermain cangkang-cangkang kerang.” Dunia kanak-kanak mestinya menyenangkan dan penuh keceriaan.
Maka, kadang saya memutarkan lagu menggunakan pengeras suara. Anak itu pun berjoget dengan riangnya—dan hanya pada saat itu, ia tampak seperti anak-anak.
Kami mengajarinya untuk mengerjakan apa pun yang ia bisa; mencuci piring, membuang sampah, menyapu warung, dan lain-lain. Semata-mata agar ia tidak tumbuh dengan mental meminta-minta. “Kamu tidak boleh mengemis!” kata teman saya kepadanya agak keras. “Kamu harus bekerja supaya bisa makan!”
Memang tidak layak untuk anak seusianya bekerja. Namun, ia sudah terlanjur terjun bebas ke dunia orang dewasa sebelum waktunya. Oleh karena itu, daripada ia menjadi kriminal ataupun peminta-minta, lebih baik ia diajarkan cara bertahan hidup dengan jalan yang benar.
Ada banyak anak-anak seperti ini di luar sana, apalagi di kota-kota besar.
Kata teman saya, “Sejak diberi makan, dia rutin datang setiap sore ke sini.” Kami pun bersepakat untuk mengajarkan anak itu bekerja. “Ingat ya, kalau mau makan harus bekerja. Kalau kamu jadi orang yang malas, kamu tidak akan dapat makan,” ucap saya kepadanya.
Kasihan sekali sebetulnya. Seharusnya anak-anak itu, seperti kata Rabindranath Tagore dalam Gitanjali, sebagaimana dikutip Goenawan Mohamad, “anak-anak berkumpul, bermain, dan mencipta di pantai dunia tiada berbatas. Di sana mereka mendirikan rumah-rumahan pasir dan bermain cangkang-cangkang kerang.” Dunia kanak-kanak mestinya menyenangkan dan penuh keceriaan.
Maka, kadang saya memutarkan lagu menggunakan pengeras suara. Anak itu pun berjoget dengan riangnya—dan hanya pada saat itu, ia tampak seperti anak-anak.
Kami mengajarinya untuk mengerjakan apa pun yang ia bisa; mencuci piring, membuang sampah, menyapu warung, dan lain-lain. Semata-mata agar ia tidak tumbuh dengan mental meminta-minta. “Kamu tidak boleh mengemis!” kata teman saya kepadanya agak keras. “Kamu harus bekerja supaya bisa makan!”
Memang tidak layak untuk anak seusianya bekerja. Namun, ia sudah terlanjur terjun bebas ke dunia orang dewasa sebelum waktunya. Oleh karena itu, daripada ia menjadi kriminal ataupun peminta-minta, lebih baik ia diajarkan cara bertahan hidup dengan jalan yang benar.
Ada banyak anak-anak seperti ini di luar sana, apalagi di kota-kota besar.
Sarolangun, yang sedang bergerak menuju kota metropolitan, pun akan banyak menemui anak-anak seperti ini.
Anak-anak yang kehilangan keceriaan dan kebebasannya, sehingga mesti terbungkuk-bungkuk memikul karung beras atau menenteng kaleng meminta receh di pinggir-pinggir jalan.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan anak-anak yang tidur di kasur empuk, di rumah yang nyaman; tenggelam dalam layar telepon pintar, lengkap dengan berbagai tontonan dan permainan.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan anak-anak yang tidur di kasur empuk, di rumah yang nyaman; tenggelam dalam layar telepon pintar, lengkap dengan berbagai tontonan dan permainan.
Mereka tidak lagi berimajinasi, mereka hanya menyerap apa pun yang mereka tonton. Sebagian dari mereka begitu ketergantungan, sehingga tidak lagi terpisahkan dari layar itu. Mereka akan menangis sejadi-jadinya bila berpisah dengan layar mereka.
Mereka makan bersama layar, tidur bersama layar, bahkan buang air sambil memperhatikan layar. Otak mereka hanya menerima secara pasif, tidak lagi memiliki daya untuk mencari secara aktif. Mereka sama terpenjaranya dengan anak yang di warung tadi.
Anak-anak seharusnya bermain di luar, membangun rumah-rumah pasir di pinggir sungai, meloncat kegirangan, berenang di danau, melukiskan imajinasi mereka di selembar kertas, menumbuk dedaunan seolah sedang bereksperimen, bermain peran, dan sebagainya.
Mereka makan bersama layar, tidur bersama layar, bahkan buang air sambil memperhatikan layar. Otak mereka hanya menerima secara pasif, tidak lagi memiliki daya untuk mencari secara aktif. Mereka sama terpenjaranya dengan anak yang di warung tadi.
Anak-anak seharusnya bermain di luar, membangun rumah-rumah pasir di pinggir sungai, meloncat kegirangan, berenang di danau, melukiskan imajinasi mereka di selembar kertas, menumbuk dedaunan seolah sedang bereksperimen, bermain peran, dan sebagainya.
Anak-anak sudah seharusnya menjadi jiwa yang merdeka dan terang benderang.
Namun, Anak-anak ini absen dari masa keemasan mereka; masa kanak-kanak. Kata Goenawan Mohamad, “Satu generasi tertidur, mendengkur.”
Namun, Anak-anak ini absen dari masa keemasan mereka; masa kanak-kanak. Kata Goenawan Mohamad, “Satu generasi tertidur, mendengkur.”
Penulis: Bil Hamdi
Foto: Dok untuk INTIinspira


