Kunjungan yang Tidak Saya Rencanakan untuk Dikenang
INTIinspira - Kemarin, saya dan kawan-kawan mahasiswa KPM STAI Darul Hikmah Aceh Barat mengunjungi SD Negeri Lango, yang berada di Desa Lango, Kecamatan Pante Ceureumen.
Kunjungan ini merupakan bagian dari program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang kami jalankan di desa ini, yaitu sosialisasi Gerakan Hidup Bersih dan Sehat (GHBS) untuk murid-murid sekolah dasar.
Awalnya, ini hanya kunjungan biasa bagi saya. Kunjungan yang sudah terprogram, sudah terjadwal, sudah jelas tujuannya. Tapi sesampai di sana, saya mengalami sesuatu yang tidak ada dalam susunan rencana mana pun.
Saat kami tiba, suasana sekolah terasa tenang. Siswa kelas VI sedang menjalani ujian akhir, sehingga sosialisasi GHBS baru bisa dilaksanakan setelah ujian selesai.
Sambil menunggu waktu ujian berakhir, kami bermain dan bercanda bersama murid-murid kelas bawah (kelas I-III) di halaman sekolah.
Keceriaan mereka menghangatkan suasana pagi itu. Saya ikut tertawa saat seorang anak berlari kecil menghindari cipratan dari tanah basah di dekat kakinya.
Namun di sela-sela tawa mereka, mata saya tak bisa beranjak dari halaman yang masih dipenuhi lumpur—seakan baru kemarin banjir besar singgah di situ. Gundukan lumpur itu bahkan tadi sempat membuat mobil Patroli Trantib yang dipinjamkan camat untuk kami terperosok dan tidak bisa bergerak.
Setelah ujian selesai, kami masuk ke kelas untuk memulai sosialisasi GHBS. Kami menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta membiasakan pola hidup sehat sejak usia dini.
Anak-anak ternyata sangat antusias, mereka aktif menjawab pertanyaan dan mengikuti setiap arahan dengan semangat yang tidak dibuat-buat. Selesai sosialisasi, kelas kembali sunyi. Anak-anak keluar satu per satu, sementara kami membereskan perlengkapan.
Usai kegiatan, kami berbincang-bincang bersama para guru SD Negeri Lango. Dari perbincangan tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menyentuh hati.
Para guru menyampaikan keluhan sekaligus harapan mereka kepada kami sebagai mahasiswa KPM. Mereka menceritakan bahwa sekolah masih memiliki banyak keterbatasan pasca banjir bandang yang melanda wilayah Pante Ceureumen sekitar enam bulan yang lalu. Desa Lango, kata mereka, termasuk yang paling parah dihantam.
Pada kunjungan ini juga saya terbesit untuk masuk ke perpustakaan yang terletak tepat di depan bangunan utama sekolah. Sesampai di depan perpustakaan, saya terpaku dengan pemandangan yang cukup memilukan.
Kunjungan ini merupakan bagian dari program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang kami jalankan di desa ini, yaitu sosialisasi Gerakan Hidup Bersih dan Sehat (GHBS) untuk murid-murid sekolah dasar.
Awalnya, ini hanya kunjungan biasa bagi saya. Kunjungan yang sudah terprogram, sudah terjadwal, sudah jelas tujuannya. Tapi sesampai di sana, saya mengalami sesuatu yang tidak ada dalam susunan rencana mana pun.
Saat kami tiba, suasana sekolah terasa tenang. Siswa kelas VI sedang menjalani ujian akhir, sehingga sosialisasi GHBS baru bisa dilaksanakan setelah ujian selesai.
Sambil menunggu waktu ujian berakhir, kami bermain dan bercanda bersama murid-murid kelas bawah (kelas I-III) di halaman sekolah.
Keceriaan mereka menghangatkan suasana pagi itu. Saya ikut tertawa saat seorang anak berlari kecil menghindari cipratan dari tanah basah di dekat kakinya.
Namun di sela-sela tawa mereka, mata saya tak bisa beranjak dari halaman yang masih dipenuhi lumpur—seakan baru kemarin banjir besar singgah di situ. Gundukan lumpur itu bahkan tadi sempat membuat mobil Patroli Trantib yang dipinjamkan camat untuk kami terperosok dan tidak bisa bergerak.
Setelah ujian selesai, kami masuk ke kelas untuk memulai sosialisasi GHBS. Kami menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta membiasakan pola hidup sehat sejak usia dini.
Anak-anak ternyata sangat antusias, mereka aktif menjawab pertanyaan dan mengikuti setiap arahan dengan semangat yang tidak dibuat-buat. Selesai sosialisasi, kelas kembali sunyi. Anak-anak keluar satu per satu, sementara kami membereskan perlengkapan.
Usai kegiatan, kami berbincang-bincang bersama para guru SD Negeri Lango. Dari perbincangan tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menyentuh hati.
Para guru menyampaikan keluhan sekaligus harapan mereka kepada kami sebagai mahasiswa KPM. Mereka menceritakan bahwa sekolah masih memiliki banyak keterbatasan pasca banjir bandang yang melanda wilayah Pante Ceureumen sekitar enam bulan yang lalu. Desa Lango, kata mereka, termasuk yang paling parah dihantam.
Pada kunjungan ini juga saya terbesit untuk masuk ke perpustakaan yang terletak tepat di depan bangunan utama sekolah. Sesampai di depan perpustakaan, saya terpaku dengan pemandangan yang cukup memilukan.
Pintu perpustakaan sudah setengah terbuka, tidak bisa ditutup lagi. Meja dan kursi berserakan. Lemari rusak. Sebagian besar buku sudah tidak memungkinkan untuk disentuh, apalagi dibaca.
Yang paling menyayat hati ialah saat saya memandangi lantainya — lumpur setebal 20 hingga 30 sentimeter masih mengendap di situ, menutupi seluruh permukaan ruangan.
Sejurus kemudian, saya mengangkat kepala dan menatap dinding. Pemandangan di sana ternyata tak kalah menyedihkan dari lantainya. Noda lumpur yang telah mengering membentuk garis-garis cokelat kusam yang memanjang, menjadi jejak ketinggian air yang pernah menelan ruangan ini.
Yang paling menyayat hati ialah saat saya memandangi lantainya — lumpur setebal 20 hingga 30 sentimeter masih mengendap di situ, menutupi seluruh permukaan ruangan.
Sejurus kemudian, saya mengangkat kepala dan menatap dinding. Pemandangan di sana ternyata tak kalah menyedihkan dari lantainya. Noda lumpur yang telah mengering membentuk garis-garis cokelat kusam yang memanjang, menjadi jejak ketinggian air yang pernah menelan ruangan ini.
![]() |
| Suasana perpustakaan SD Negeri Lango |
Kaca-kaca jendela pun tertutup lumpur tebal hingga cahaya nyaris tidak bisa masuk, membuat ruangan terasa semakin pengap dan suram.
Plafon di beberapa bagian rusak dan berlubang, menambah kesan bahwa tidak ada yang sempat — atau mampu — memperbaikinya sejak banjir berlalu.
Bangunan itu berdiri dalam diamnya sendiri, menyimpan cerita tentang betapa keras banjir bandang itu pernah menghantam.
Saya berdiri di ambang pintu yang tak bisa lagi ditutup, sementara hati terasa berat melihat keadaan di hadapan saya. Tempat yang seharusnya dipenuhi suara anak-anak saat membuka buku dan melahap wawasan tentang dunia, kini hanya menyisakan sunyi dan lumpur.
Ruangan yang semestinya menjadi tempat anak-anak mengenal dunia lewat lembar demi lembar buku, kini berdiri dalam keadaan yang begitu memilukan.
Melihat kondisi itu, saya menyadari bahwa dampak banjir bandang jauh lebih besar dari sekadar dinding yang retak dan lantai yang terendam. Ruang belajar anak-anak ikut hancur, akses mereka pada buku dan pengetahuan terputus.
Padahal, di sinilah seharusnya mereka duduk, membaca, dan perlahan-lahan mengenal dunia yang lebih luas dari desa mereka.
Dari kunjungan ini saya belajar bahwa menjadi mahasiswa pengabdian masyarakat lebih luas dari sekadar menjalankan program kerja sesuai jadwal. Pengabdian juga merupakan kesediaan untuk melihat, merasakan, dan peduli pada apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sekitar kita.
Kunjungan ke SD Negeri Lango meninggalkan sesuatu yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata—campuran antara rasa haru melihat semangat anak-anak, dan rasa sedih melihat fasilitas yang belum juga pulih.
Kami berharap ada perhatian nyata dari pemerintah maupun berbagai pihak untuk membenahi perpustakaan itu, agar anak-anak Desa Lango bisa kembali duduk di antara rak-rak buku dan bermimpi lebih jauh dari batas desa mereka.
Ingatan ini akan terus saya bawa, jauh setelah masa KPM ini selesai.
Penulis: Astutiani (Mahasiswa KPM STAI Darul Hikmah Aceh Barat di Desa Lango kecamatan Pante Ceureumen)
Foto: Dok. untuk INTIinspira
Plafon di beberapa bagian rusak dan berlubang, menambah kesan bahwa tidak ada yang sempat — atau mampu — memperbaikinya sejak banjir berlalu.
Bangunan itu berdiri dalam diamnya sendiri, menyimpan cerita tentang betapa keras banjir bandang itu pernah menghantam.
Saya berdiri di ambang pintu yang tak bisa lagi ditutup, sementara hati terasa berat melihat keadaan di hadapan saya. Tempat yang seharusnya dipenuhi suara anak-anak saat membuka buku dan melahap wawasan tentang dunia, kini hanya menyisakan sunyi dan lumpur.
Ruangan yang semestinya menjadi tempat anak-anak mengenal dunia lewat lembar demi lembar buku, kini berdiri dalam keadaan yang begitu memilukan.
Melihat kondisi itu, saya menyadari bahwa dampak banjir bandang jauh lebih besar dari sekadar dinding yang retak dan lantai yang terendam. Ruang belajar anak-anak ikut hancur, akses mereka pada buku dan pengetahuan terputus.
Padahal, di sinilah seharusnya mereka duduk, membaca, dan perlahan-lahan mengenal dunia yang lebih luas dari desa mereka.
Dari kunjungan ini saya belajar bahwa menjadi mahasiswa pengabdian masyarakat lebih luas dari sekadar menjalankan program kerja sesuai jadwal. Pengabdian juga merupakan kesediaan untuk melihat, merasakan, dan peduli pada apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sekitar kita.
Kunjungan ke SD Negeri Lango meninggalkan sesuatu yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata—campuran antara rasa haru melihat semangat anak-anak, dan rasa sedih melihat fasilitas yang belum juga pulih.
Kami berharap ada perhatian nyata dari pemerintah maupun berbagai pihak untuk membenahi perpustakaan itu, agar anak-anak Desa Lango bisa kembali duduk di antara rak-rak buku dan bermimpi lebih jauh dari batas desa mereka.
Ingatan ini akan terus saya bawa, jauh setelah masa KPM ini selesai.
Penulis: Astutiani (Mahasiswa KPM STAI Darul Hikmah Aceh Barat di Desa Lango kecamatan Pante Ceureumen)
Foto: Dok. untuk INTIinspira



