Bacalah! Sebelum Menulis
INTIinspira - Ayat yang pertama kali turun itu berbunyi "Iqra" yang artinya "Bacalah!".
Sebuah ayat yang dengan tegas mengajak untuk membaca, meski sering kali dipahami sebagai membaca alam semesta. Padahal membaca buku tak kalah penting untuk dibaca.
Setiap kali membaca buku, aku selalu memperhatikan apa yang dia baca, baik itu fiksi dan nonfiksi. Apa yang dibaca berpengaruh terhadap tulisan yang ia tuangkan.
Setiap kali membaca buku, aku selalu memperhatikan apa yang dia baca, baik itu fiksi dan nonfiksi. Apa yang dibaca berpengaruh terhadap tulisan yang ia tuangkan.
Jika penulis fiksi hanya membaca novel populer bisa dipastikan isinya ringan tak berisi, ini berbeda sekali jika seorang sastrawan yang tekun membaca buku karya sastra berat kelas dunia maka bisa dipastikan isinya pun menggigit.
Begitupun penulis nonfiksi, aku suka melihat daftar pustaka yang menjadi rujukannya, semakin berbobot rujukan berarti semakin berisi apa yang disampaikan, apalagi penulis adalah pakar di bidangnya.
Karya fiksi yang selalu senang aku baca adalah karya Eka Kurniawan dan Mahfud Ikhwan, keduanya punya bacaan sastra kelas dunia dan sastrawan ternama di Indonesia.
Karya fiksi yang selalu senang aku baca adalah karya Eka Kurniawan dan Mahfud Ikhwan, keduanya punya bacaan sastra kelas dunia dan sastrawan ternama di Indonesia.
Eka Kurniawan tertarik menulis ketika membaca Lapar karya Knut Hamsun yang membuatnya bergidik bahwa sastra bisa mengubah pandangan seseorang, dalam buku esainya, Eka menyajikan apa saja yang sudah dia baca, mulai dari Gabo, Franz Kafka, Ernest Hemingway, Orhan Pamuk, Han Kang, Murakami, Osamu Dazai, dan dari Indonesia Eka senang membaca novel horor karya Abdullah Harahap.
Begitupun dengan Mahfud Ikhwan, dia membaca karya sastra India yang dibaca berkali-kali, dan membaca karya Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo sampai berkali-kali, tak hanya itu Mahfud mengoleksi film India dan paham betul soal dunia film India sampai dia menulis Aku dan Film India Melawan Dunia.
Penulis lainnya yang aku kagumi adalah Joko Pinurbo (Jokpin). Untuk bisa menghasilkan puisi yang begitu jenaka dan disukai anak muda, Jokpin membaca buku puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, dan berbagai penyair lainnya.
Penulis lainnya yang aku kagumi adalah Joko Pinurbo (Jokpin). Untuk bisa menghasilkan puisi yang begitu jenaka dan disukai anak muda, Jokpin membaca buku puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, dan berbagai penyair lainnya.
Ia pun sampai membakar puisi-puisi yang selesai dibuatnya hingga akhir menemukan apa yang belum ditulis dalam puisi, yaitu soal benda-benda remeh, ia menulis celana, sarung, ponsel, bahkan kaleng Khong Guan.
Tak hanya puisi, Jokpin pun menyukai tulisan Gus Dur dan karya sastrawan Iwan Simatupang. Ia mulai tertarik dengan puisi kala membaca Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono.
Pada buku nonfiksi ada banyak buku yang aku sukai dari Yuval Noah Harari, Jared Diamond, Tamim Ansary, Ariel Heryanto, Aksin Wijaya, Amin Abdullah, Mujiburahman, Kamaruzzaman Bustaman Ahmad (KBA), Fahruddin Faiz, Agustinus Wibowo, Noorhaidi Hasan, Ismail Fajrie Alatas, A. Setyo Wibowo, F. Budi Hardiman, dan banyak lagi penulis lainnya.
Pada buku nonfiksi ada banyak buku yang aku sukai dari Yuval Noah Harari, Jared Diamond, Tamim Ansary, Ariel Heryanto, Aksin Wijaya, Amin Abdullah, Mujiburahman, Kamaruzzaman Bustaman Ahmad (KBA), Fahruddin Faiz, Agustinus Wibowo, Noorhaidi Hasan, Ismail Fajrie Alatas, A. Setyo Wibowo, F. Budi Hardiman, dan banyak lagi penulis lainnya.
Terutama sekali yang tak bisa aku lewati soal nonfiksi adalah buku terbitan Marjin Kiri dari Hidup Bersama Raksasa, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, Sejarah untuk Pembaca Muda, Putih, Metode Jakarta, Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan, Riwayat Terkubur, Kekerasan Budaya Pasca 1965, Bersama Plato di Palestina, Politik Jatah Preman, dan masih banyak lagi lainnya.
Aku selalu mengkritik orang-orang yang menulis tanpa membaca, apa yang mereka tulis sedang bahannya saja tak ada di kepala. Walaupun mereka berhasil menulis, isinya sering kali tak berguna dan sia-sia tanpa makna yang jelas untuk dibaca.
Maka dari awal aku selalu bilang, tak semua tulisan layak dibaca, dan tak perlu juga semua orang harus jadi penulis. Daripada tulisan hanya berakhir jadi sampah, maka lebih baik tak usah menulis.
Kenapa aku tetap menulis? Apakah berarti aku sudah layak jadi penulis dan punya pembaca. Jujur aku tak berharap apa-apa dari tulisan yang aku tuangkan.
Aku selalu mengkritik orang-orang yang menulis tanpa membaca, apa yang mereka tulis sedang bahannya saja tak ada di kepala. Walaupun mereka berhasil menulis, isinya sering kali tak berguna dan sia-sia tanpa makna yang jelas untuk dibaca.
Maka dari awal aku selalu bilang, tak semua tulisan layak dibaca, dan tak perlu juga semua orang harus jadi penulis. Daripada tulisan hanya berakhir jadi sampah, maka lebih baik tak usah menulis.
Kenapa aku tetap menulis? Apakah berarti aku sudah layak jadi penulis dan punya pembaca. Jujur aku tak berharap apa-apa dari tulisan yang aku tuangkan.
Aku menulis karena terlalu banyak kata-kata akibat membaca, jika tak disalurkan sering kali otakku tak bisa menampung lagi tulisan yang dibaca.
Aku awalnya berkeinginan jadi penulis, sampai menghabiskan waktu dengan membaca buku tentang menulis dari buku Copy Writing, Seni Menulis Esai, Seni Menulis Resensi, Creative Writing, coba mengirimkan beberapa tulisan, tapi berujung ditolak.
Aku awalnya berkeinginan jadi penulis, sampai menghabiskan waktu dengan membaca buku tentang menulis dari buku Copy Writing, Seni Menulis Esai, Seni Menulis Resensi, Creative Writing, coba mengirimkan beberapa tulisan, tapi berujung ditolak.
Yah walaupun beberapa tulisan ada yang terbit seperti media Omong-Omong, tapi sebenarnya lebih banyak ditolak daripada diterima.
Membaca, menurutku aktivitas yang lebih menyenangkan daripada menulis, dengan membaca kita merangkum pikiran seseorang yang barangkali dia kerjakan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dalam sebuah buku.
Membaca, menurutku aktivitas yang lebih menyenangkan daripada menulis, dengan membaca kita merangkum pikiran seseorang yang barangkali dia kerjakan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dalam sebuah buku.
Selalu menyenangkan setiap kali membaca buku adalah momen "wow" itu sendiri, ada hal yang tak aku pahami membuatku jadi lebih paham.
Daripada mendikte seseorang untuk menulis, aku lebih senang mendorong seseorang untuk membaca. Karena ada hubungan antara membaca dan menulis, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin berisi sebuah tulisan, sebaliknya jika semakin kosong bacaan semakin kosong tulisannya.
Membaca itu seperti mendapatkan ilmu sedang menulis adalah membagikannya, bagaimana bisa menulis jika membaca saja tidak. Aku teringat dengan buku K.H. Husein Muhammad yang menggambarkan betapa ulama-ulama terdahulu gila membaca.
Daripada mendikte seseorang untuk menulis, aku lebih senang mendorong seseorang untuk membaca. Karena ada hubungan antara membaca dan menulis, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin berisi sebuah tulisan, sebaliknya jika semakin kosong bacaan semakin kosong tulisannya.
Membaca itu seperti mendapatkan ilmu sedang menulis adalah membagikannya, bagaimana bisa menulis jika membaca saja tidak. Aku teringat dengan buku K.H. Husein Muhammad yang menggambarkan betapa ulama-ulama terdahulu gila membaca.
Kesehariannya disibukkan dengan membaca, bahkan ada yang ketika ke WC pun minta bukunya dibacakan, ada yang sampai lupa dan tak sadar sedang disuapi makan oleh pembantunya saking asyiknya dengan ilmu.
Maka tak heran, para ulama terdahulu karya-karyanya bertahan sampai sekarang karena ilmu yang begitu dalam.
Di antara buku-buku yang begitu dalam tentunya buku filsafat, para filsuf pun adalah pembaca yang tekun, bahkan mengkritik habis-habisan buku yang dibaca.
Di antara buku-buku yang begitu dalam tentunya buku filsafat, para filsuf pun adalah pembaca yang tekun, bahkan mengkritik habis-habisan buku yang dibaca.
Pikiran-pikiran yang telah direnungkan, ditelaah, lalu dituangkan dalam tulisan, dan sampai kini selalu relevan untuk dibaca. Bahkan jadi cara pandang manusia berpikir.
Di era serba cepat dan mudah, tak semua tulisan layak dibaca, bahkan mungkin dilupakan saja.
Di era serba cepat dan mudah, tak semua tulisan layak dibaca, bahkan mungkin dilupakan saja.
Tak semua penulis menemukan pembacanya, bahkan ada tulisan yang dilupakan begitu saja. Kedalaman seorang penulislah yang akan membuat ia selalu relevan untuk dibaca.
Maka dari itu "Bacalah!"
Maka dari itu "Bacalah!"
Penulis: Romaria (Dosen IAIN Langsa)
Ilustrasi: Library of the mind/dibuat dengan AI


