Ketika Sains dan Agama Tunduk pada Kekuasaan
INTIinspira - Di film Don't Look Up, dua astronom berjuang menyelamatkan dunia dari bahaya komet besar yang menuju bumi.
Namun, saat mereka menyampaikan temuan ini kepada media dan pemerintah, yang terjadi justru pengabaian.
Media lebih fokus membahas gosip artis, sedangkan pemerintah lebih mementingkan stabilitas politik agar bisa terpilih kembali. Hingga akhirnya komet datang menghancurkan dunia.
Film ini menggambarkan secara jelas bahwa sebagus apa pun temuan sains, jika tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah, maka bisa diabaikan begitu saja.
Begitu pula dengan agama, selama agama menjadi legitimasi bagi pemerintah, maka sah-sah saja agama dipertahankan.
Persoalan agama dan sains sering diperdebatkan secara normatif. Pembagian soal apakah sains dan agama bertentangan atau beriringan seolah ditentukan oleh sesuatu yang abstrak, padahal dalam banyak kasus, relasi agama dan sains juga dipengaruhi oleh kekuasaan politik.
Sebuah negara bisa saja menganggap evolusi yang digagas Charles Darwin sebagai sesuatu yang sesat karena bertentangan dengan agama, walaupun teori itu juga mengandung kebenaran. Sebaliknya, ada pula negara yang melarang simbol-simbol agama di ruang publik karena dianggap mendukung kebebasan.
Karena itu, relasi antara sains dan agama sering kali dipengaruhi oleh kekuasaan.
Kita melihat, misalnya, kasus krisis iklim. Sudah banyak temuan berdasarkan sains yang menyatakan bahwa iklim dunia berada dalam masalah besar, namun penguasa lebih tunduk pada ekonomi-politik karena menganggap itulah yang lebih penting.
Tak hanya masalah iklim, para ahli pun setuju bahwa perang lebih banyak menyebabkan masalah bagi umat manusia. Namun, apa yang terjadi? Dalam banyak peristiwa sejarah, perkembangan sains juga dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan peperangan.
Begitu pula ketika membicarakan agama, persoalan ini tak pernah lepas dari kekuasaan.
Pertanyaannya: agama yang mana paling relevan menurut penguasa? Bahkan, dalam satu agama terdapat begitu banyak aliran, mazhab, dan cabang.
Pertanyaan yang lebih dalam lagi adalah aliran mana yang lebih didukung. Di negara-negara Islam saja terdapat berbagai model aliran yang berbeda di setiap negara.
Arab Saudi memiliki arus utama Islam bercorak Salafi, Iran dengan Syiah, sedangkan Indonesia memiliki arus utama yang dipengaruhi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Begitu pula di berbagai negara Islam lainnya.
Agama Kristen pun memiliki coraknya masing-masing. Ada negara yang menjadikan Katolik sebagai arus utama seperti Vatikan, atau menjadikan Protestan sebagai arus utama seperti Jerman.
Bahkan ada pula negara yang masyarakatnya cenderung tanpa agama seperti Swedia dan Denmark.
Begitu juga dengan corak agama Hindu. India dikenal sebagai negara dengan penganut Hindu terbesar, sementara Nepal juga memiliki mayoritas Hindu, tetapi dengan corak yang berbeda.
Hindu di Nepal melebur dengan ajaran Buddha, yang membedakannya dari model Hindu di India.
Dalam sejarah, hadirnya sains saat ini tidak lepas dari perang panjang umat manusia.
Terciptanya alat komunikasi, transportasi, bahkan perjalanan manusia ke bulan serta penemuan bom atom berkembang atas nama perang. Penguasa selalu mendukung sains yang memberikan kekuatan dalam peperangan.
Kasus Oppenheimer adalah gambaran bagaimana sains bisa digunakan untuk menghancurkan umat manusia. Temuan atom yang dikembangkan J. Robert Oppenheimer menjadi jalan bagi kehancuran yang lebih mengerikan.
Begitu pula kisah Neil Armstrong yang menginjakkan kaki di bulan merupakan hasil Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk memperlihatkan siapa yang lebih unggul dalam teknologi dan ideologi.
Agama pun tak lepas menjadi alat kekerasan dalam perang. Saat gedung World Trade Center dihancurkan oleh pelaku teroris, George W. Bush seolah membagi dunia ke dalam dua sisi: mereka yang mendukung teroris dan mereka yang melawan teroris.
Dengan alasan itu, Bush kemudian menyerang Irak dengan tuduhan memiliki nuklir yang membahayakan Amerika, yang belakangan terbukti tidak benar.
Setelah itu, kampanye anti-teroris berkembang pesat dan lahirlah istilah “moderasi beragama”, sebuah istilah yang dalam praktiknya juga tidak lepas dari dinamika politik.
Di Indonesia, “moderasi beragama” menjadi slogan arus utama Islam, terutama di lingkungan NU dan Muhammadiyah.
Dalam artikel jurnal The Politics of Moderate Islam in Indonesia: Between International Pressure and Domestic Contestations, dijelaskan bahwa selama pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, slogan “moderasi beragama” digunakan untuk melawan pelaku terorisme.
Lalu, pada masa Joko Widodo, pesan “moderasi beragama” ditujukan kepada ormas keagamaan di luar NU dan Muhammadiyah, terutama yang dianggap konfrontatif terhadap pemerintah seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan Front Pembela Islam.
Tak lama kemudian, kedua ormas tersebut dibubarkan pemerintah. Ironisnya, pada masa Prabowo Subianto, NU dan Muhammadiyah yang mengampanyekan “moderasi beragama” justru terlibat dalam aktivitas pertambangan yang turut memunculkan kritik dari berbagai kalangan.
Agama dan sains tidak berada di ruang hampa ataupun semata dalam tipologi normatif; semuanya berkaitan erat dengan kekuasaan.
Sebenar apa pun sains, selama tidak didukung penguasa, ia hanya menjadi kebenaran ilmiah belaka.
Dalam buku Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan, digambarkan dengan jelas bahwa banyak temuan sering kali dibelenggu oleh politik.
Ada begitu banyak saintis yang mampu meracik obat, menciptakan teknologi, dan membuat mesin transportasi, tetapi sering kali tidak mendapat dukungan karena dikhawatirkan temuannya akan mengganggu impor barang yang telah berlangsung bertahun-tahun dan dikuasai oleh para pengusaha besar.
Namun, saat mereka menyampaikan temuan ini kepada media dan pemerintah, yang terjadi justru pengabaian.
Media lebih fokus membahas gosip artis, sedangkan pemerintah lebih mementingkan stabilitas politik agar bisa terpilih kembali. Hingga akhirnya komet datang menghancurkan dunia.
Film ini menggambarkan secara jelas bahwa sebagus apa pun temuan sains, jika tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah, maka bisa diabaikan begitu saja.
Begitu pula dengan agama, selama agama menjadi legitimasi bagi pemerintah, maka sah-sah saja agama dipertahankan.
Persoalan agama dan sains sering diperdebatkan secara normatif. Pembagian soal apakah sains dan agama bertentangan atau beriringan seolah ditentukan oleh sesuatu yang abstrak, padahal dalam banyak kasus, relasi agama dan sains juga dipengaruhi oleh kekuasaan politik.
Sebuah negara bisa saja menganggap evolusi yang digagas Charles Darwin sebagai sesuatu yang sesat karena bertentangan dengan agama, walaupun teori itu juga mengandung kebenaran. Sebaliknya, ada pula negara yang melarang simbol-simbol agama di ruang publik karena dianggap mendukung kebebasan.
Karena itu, relasi antara sains dan agama sering kali dipengaruhi oleh kekuasaan.
Kita melihat, misalnya, kasus krisis iklim. Sudah banyak temuan berdasarkan sains yang menyatakan bahwa iklim dunia berada dalam masalah besar, namun penguasa lebih tunduk pada ekonomi-politik karena menganggap itulah yang lebih penting.
Tak hanya masalah iklim, para ahli pun setuju bahwa perang lebih banyak menyebabkan masalah bagi umat manusia. Namun, apa yang terjadi? Dalam banyak peristiwa sejarah, perkembangan sains juga dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan peperangan.
Begitu pula ketika membicarakan agama, persoalan ini tak pernah lepas dari kekuasaan.
Pertanyaannya: agama yang mana paling relevan menurut penguasa? Bahkan, dalam satu agama terdapat begitu banyak aliran, mazhab, dan cabang.
Pertanyaan yang lebih dalam lagi adalah aliran mana yang lebih didukung. Di negara-negara Islam saja terdapat berbagai model aliran yang berbeda di setiap negara.
Arab Saudi memiliki arus utama Islam bercorak Salafi, Iran dengan Syiah, sedangkan Indonesia memiliki arus utama yang dipengaruhi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Begitu pula di berbagai negara Islam lainnya.
Agama Kristen pun memiliki coraknya masing-masing. Ada negara yang menjadikan Katolik sebagai arus utama seperti Vatikan, atau menjadikan Protestan sebagai arus utama seperti Jerman.
Bahkan ada pula negara yang masyarakatnya cenderung tanpa agama seperti Swedia dan Denmark.
Begitu juga dengan corak agama Hindu. India dikenal sebagai negara dengan penganut Hindu terbesar, sementara Nepal juga memiliki mayoritas Hindu, tetapi dengan corak yang berbeda.
Hindu di Nepal melebur dengan ajaran Buddha, yang membedakannya dari model Hindu di India.
Dalam sejarah, hadirnya sains saat ini tidak lepas dari perang panjang umat manusia.
Terciptanya alat komunikasi, transportasi, bahkan perjalanan manusia ke bulan serta penemuan bom atom berkembang atas nama perang. Penguasa selalu mendukung sains yang memberikan kekuatan dalam peperangan.
Kasus Oppenheimer adalah gambaran bagaimana sains bisa digunakan untuk menghancurkan umat manusia. Temuan atom yang dikembangkan J. Robert Oppenheimer menjadi jalan bagi kehancuran yang lebih mengerikan.
Begitu pula kisah Neil Armstrong yang menginjakkan kaki di bulan merupakan hasil Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk memperlihatkan siapa yang lebih unggul dalam teknologi dan ideologi.
Agama pun tak lepas menjadi alat kekerasan dalam perang. Saat gedung World Trade Center dihancurkan oleh pelaku teroris, George W. Bush seolah membagi dunia ke dalam dua sisi: mereka yang mendukung teroris dan mereka yang melawan teroris.
Dengan alasan itu, Bush kemudian menyerang Irak dengan tuduhan memiliki nuklir yang membahayakan Amerika, yang belakangan terbukti tidak benar.
Setelah itu, kampanye anti-teroris berkembang pesat dan lahirlah istilah “moderasi beragama”, sebuah istilah yang dalam praktiknya juga tidak lepas dari dinamika politik.
Di Indonesia, “moderasi beragama” menjadi slogan arus utama Islam, terutama di lingkungan NU dan Muhammadiyah.
Dalam artikel jurnal The Politics of Moderate Islam in Indonesia: Between International Pressure and Domestic Contestations, dijelaskan bahwa selama pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, slogan “moderasi beragama” digunakan untuk melawan pelaku terorisme.
Lalu, pada masa Joko Widodo, pesan “moderasi beragama” ditujukan kepada ormas keagamaan di luar NU dan Muhammadiyah, terutama yang dianggap konfrontatif terhadap pemerintah seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan Front Pembela Islam.
Tak lama kemudian, kedua ormas tersebut dibubarkan pemerintah. Ironisnya, pada masa Prabowo Subianto, NU dan Muhammadiyah yang mengampanyekan “moderasi beragama” justru terlibat dalam aktivitas pertambangan yang turut memunculkan kritik dari berbagai kalangan.
Agama dan sains tidak berada di ruang hampa ataupun semata dalam tipologi normatif; semuanya berkaitan erat dengan kekuasaan.
Sebenar apa pun sains, selama tidak didukung penguasa, ia hanya menjadi kebenaran ilmiah belaka.
Dalam buku Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan, digambarkan dengan jelas bahwa banyak temuan sering kali dibelenggu oleh politik.
Ada begitu banyak saintis yang mampu meracik obat, menciptakan teknologi, dan membuat mesin transportasi, tetapi sering kali tidak mendapat dukungan karena dikhawatirkan temuannya akan mengganggu impor barang yang telah berlangsung bertahun-tahun dan dikuasai oleh para pengusaha besar.
Penulis: Romaria (Dosen IAIN Langsa)
Ilustrasi: Balancing science and faith/dibuat dengan AI


