Kata Siapa Penulis Buku Tak Boleh Dikritik?

INTIinspira - Seorang penulis bernama Tere Liye menyematkan secara terang benderang dalam akun Goodreads kalimat, “Jangan mau jadi kritikus buku, tapi tidak pernah menulis buku.”

Sebagai pembaca buku, aku terganggu dengan kalimat ini. Apakah benar seorang pembaca tidak boleh mengkritik buku lantaran dia bukan seorang penulis?

Aku pun teringat dengan Soleh Solihun yang menjadi juri Indonesian Idol dan sempat diprotes karena dia tidak pernah membuat lagu.

Lalu dia bertanya balik: apakah menjadi seorang juri masakan harus bisa memasak? Kalau seperti itu, repot untuk menilainya.

Padahal, seorang pendengar musik, pencicip masakan, dan pembaca buku berhak mengkritisi apa yang telah didengar, dirasakan, dan tentunya dibaca.

Yang membedakan pembaca satu dengan yang lainnya adalah soal keluasan.

Semakin luas bacaan seseorang, maka semakin banyak hal yang bisa dinilai dari sebuah buku.

Kalau boleh jujur, pada awal mula membaca buku, aku adalah penggemar berat Tere Liye. Hampir semua bukunya aku koleksi. Ceritanya mengalir, enak dibaca, setiap tokohnya bisa menyelesaikan masalah, bahkan memaknai masalah yang telah dia lewati.

Namun, semakin luas buku yang aku baca, novel yang dihadirkan Tere Liye hanya menjadi cerita biasa karena di luar dirinya ternyata ada banyak penulis yang luar biasa.

Eka Kurniawan adalah penulis yang membuatku terpana dengan karyanya. Aku baru tahu bahwa ada novel yang tokohnya begitu tidak waras, penuh kejanggalan, kegilaan, dan barangkali filosofis.

Setiap kali membaca novel Eka, aku bisa merasakan kesuramannya.

Dari Eka Kurniawan, kecintaanku akan sastra terus berlanjut. Aku membaca buku karya Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, Agus Noor, Eko Triono, Arafat Nur, Leila S. Chudori, Okky Madasari, Mahfud Ikhwan, Dea Anugrah, Sabda Armandio, Puthut EA, Joko Pinurbo, Aan Mansyur, hingga Pramoedya Ananta Toer.

Aku juga mencari buku kumpulan Cerpen Kompas, lalu karya pemenang Sastra Khatulistiwa hingga pemenang Dewan Kesenian Jakarta.

Tak hanya berhenti di sastra, aku pun mencari buku-buku yang mengkritik sastra: bagaimana sejarahnya, apa pentingnya sastra, dan bagaimana keterlibatannya dalam sejarah dunia.

Dari sini aku mengenal banyak sastrawan dunia, seperti Franz Kafka, Ernest Hemingway, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, George Orwell, Toni Morrison, Leo Tolstoy, Nizar Qabbani, Osamu Dazai, Knut Hamsun, Rabindranath Tagore, Ryunosuke Akutagawa, Fyodor Dostoevsky, Hans Küng, dan Salman Rushdie.

Aku bahkan membeli buku ensiklopedia sastra dunia karya Anton Kurnia.

Dari perjalanan itu, aku lebih menyadari bahwa ada begitu banyak ragam sastra dunia yang luar biasa, dan buku Tere Liye menjadi seolah biasa saja. Memang, ia disukai penerbit karena bisa menghasilkan laba yang menguntungkan.

Model pasar buku lebih menyukai buku yang laris karena tidak susah memasarkan, dibandingkan memajang buku pemenang Sastra Khatulistiwa maupun Dewan Kesenian Jakarta.

Banyak pembaca Tere Liye berargumen bahwa mereka punya selera. Padahal, selera itu tentu telah dibentuk oleh pasar.

Dalam konteks ini, buku-buku Tere Liye tak lebih dari sinetron televisi yang tidak memberikan kedalaman bagi ceritanya, hanya sekadar nasihat moralis.

Sebagai orang yang tidak menulis buku sama sekali, aku merasa berhak untuk mengkritisi buku karena telah banyak membaca, hingga bisa membandingkan satu buku dengan lainnya.

Membaca sama sulitnya dengan menulis. Untuk bisa membaca, setiap individu memiliki cara pandang tersendiri terhadap buku.

Ada tiga tipe pembaca: pertama, yang mengikuti begitu saja atau hanyut dengan buku yang dibaca; kedua, pembaca yang menyeleksi hal yang sesuai dan tidak dengan nilai yang dianutnya; dan ketiga, pembaca yang mengkritik buku.

Dari berbagai tipe itu, tentu saja wajar untuk mengkritik sebuah buku.

Membaca pun adalah soal menggali makna. Pertanyaannya, seberapa dalam makna yang disajikan penulis? Buku yang ditulis Tere Liye terasa kering makna, menyajikan cerita secara gamblang dengan gaya konvensional sehingga pembaca seperti disuapi tanpa diberi kesempatan berpikir.

Dibandingkan dengan karya Eka Kurniawan yang penuh komedi gelap, satir tajam, serta tokoh-tokoh liar dan tak selalu bermoral—justru di situlah muncul pemahaman penting tentang manusia yang kompleks.

Contohnya, novel Cantik Itu Luka menghadirkan sejarah Indonesia yang kompleks, bercampur mitos, hingga memberi pengalaman makna yang kuat.

Bahkan, novel Lelaki Harimau yang mendapat nominasi Man Booker Prize menggambarkan sisi psikologis manusia: mengapa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi. Kalimat pembukanya begitu menohok, “Bukan aku yang melakukannya… Ada harimau di dalam tubuhku.”

Sastrawan lain seperti Mahfud Ikhwan juga menghadirkan cerita menarik. Meski menulis romansa, ia tidak terjebak pada melankoli semata. Ia menempatkan kisah cinta dua insan dari latar organisasi berbeda—Muhammadiyah dan NU—sehingga menggambarkan kompleksitas hubungan sosial.

Dalam karya Dawuk, ia bahkan menyajikan gaya bertutur seorang pembual di warung kopi, seolah kita sedang mendengar dongeng langsung. Sebuah gaya yang berbeda dari konvensi umum, dan karyanya pun meraih penghargaan Kusala Sastra.

Pada akhirnya, penulis buku tetaplah berhak untuk dikritik.

Penulis dan karyanya adalah dua hal yang berbeda. Saat sebuah karya selesai, penulis seolah “mati”, dan tugas pembacalah yang memaknai, menafsirkan, bahkan mengkritiknya. Dalam dunia sastra, kritik adalah bagian penting—bukan sekadar komentar, tetapi upaya memahami dan menilai karya secara lebih mendalam.

Penulis: Romaria (Dosen IAIN Langsa)
Ilustrasi: The weight of perspective and judgment/dibuat dengan AI
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan