Cinta dalam Diam: Ulasan Buku Ayah, Pemilik Cinta dari Surga
Identitas Buku
|
Judul buku |
: |
Ayah, Pemilik Cinta dari Surga |
|
Penulis |
: |
Nova Indria Yusnita |
|
Penerbit |
: |
Alfasyam Jaya
Mandiri |
|
Tahun terbit |
: |
2025 |
|
Jumlah halaman |
: |
117 halaman |
|
ISBN |
: |
9786238770465 |
Pendahuluan
INTIinspira - Buku Ayah, Pemilik Cinta dari Surga karya Nova Indria Yusnita adalah buku yang membahas sosok ayah dari sisi cintanya yang nyata tapi sering tidak terlihat.Buku ini hadir sebagai pengingat bahwa ayah bukan hanya pelindung, tulang punggung, atau pencari nafkah.
Di balik sikapnya yang pendiam dan terkesan keras, ada ketulusan, didikan, dan kasih sayang yang tidak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.
Resensi ini ditulis dengan tujuan mengulas isi buku, menyampaikan pesan yang ada di dalamnya, serta menilai kelebihan dan kekurangannya agar pembaca bisa mempertimbangkan manfaat membaca buku ini.
Ringkasan Isi Buku
Secara umum, buku ini membahas bagaimana kasih sayang seorang ayah yang tidak selalu terlihat, namun sesungguhnya penuh ketulusan. Ada didikan, nasihat, dan pengorbanan yang sering kita lewatkan begitu saja, padahal semuanya dilakukan demi kebaikan anak-anaknya.Di bagian awal, penulis langsung menggambarkan sosok ayah yang memilih menyimpan rasa sakitnya sendiri. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan anak-anaknya. Hal ini terlihat dalam kutipan:
"Derita dan sakit tak kan ditampakkan ayah kepada anaknya. Ia selalu ingin terlihat gagah, bijaksana, dan tegas dalam mendidik anak-anaknya." (hlm. 4).
Kutipan itu menggambarkan bahwa ketegasan seorang ayah bukan berarti ia tidak punya perasaan—justru di situlah bentuk perlindungannya.
Di bagian tengah, buku ini memuat beberapa judul yang masing-masing menceritakan satu sisi kehebatan ayah yang jarang disadari. Salah satu judul yang menarik adalah tentang keajaiban doa ayah.
Di sini penulis menjelaskan bahwa doa seorang ayah, meski diucapkan tanpa banyak gaya, tetap punya kekuatan yang sama besarnya dengan doa ibu. Hal ini ditegaskan dalam kutipan:
"Kekuatan doa ayah sama dengan kekuatan doa ibu, mereka Tuhan kecil bagi anak-anaknya." (hlm. 45).
Di bagian akhir, penulis menyampaikan pesan yang paling dalam dari keseluruhan buku ini — bahwa kita sering baru menyadari betapa berharganya sosok ayah setelah ia tiada. Kutipan penutup buku ini rasanya cukup mewakili keseluruhan isi:
"Ajaran teladan ayah sering terdengar, terlihat, terasa setelah ia tiada." (hlm. 117).
Dari awal hingga akhir, inti buku ini adalah satu: kasih sayang ayah tidak mengenal batas, diberikan tanpa pamrih, dan selalu hadir meski tidak pernah ditunjukkan secara langsung.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga pembaca tidak perlu bingung mengikuti alurnya. Pilihan kata yang sederhana justru membuat isi buku terasa lebih dekat dan mudah masuk ke hati. Setiap judul yang diangkat juga punya pesan tersendiri yang bisa langsung diambil sebagai pelajaran.
Kekurangan
Namun, buku ini punya kekurangan yang cukup terasa. Isi setiap babnya terlalu singkat. Beberapa cerita yang sebenarnya menarik terasa selesai terlalu cepat, sehingga pembaca tidak sempat benar-benar menghayati ceritanya. Akan lebih baik jika setiap kisah dikembangkan lebih panjang dan lebih detail.
Buku ini cocok dibaca oleh anak muda zaman sekarang yang mungkin sering menganggap ayah sebagai sosok yang kaku atau jauh. Di balik semua itu, ada cinta yang diam-diam selalu ada. Sayangi mereka selagi masih ada, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Penulis: Desi Novita Sari (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. Untuk INTIinspira
"Kekuatan doa ayah sama dengan kekuatan doa ibu, mereka Tuhan kecil bagi anak-anaknya." (hlm. 45).
Di bagian akhir, penulis menyampaikan pesan yang paling dalam dari keseluruhan buku ini — bahwa kita sering baru menyadari betapa berharganya sosok ayah setelah ia tiada. Kutipan penutup buku ini rasanya cukup mewakili keseluruhan isi:
"Ajaran teladan ayah sering terdengar, terlihat, terasa setelah ia tiada." (hlm. 117).
Dari awal hingga akhir, inti buku ini adalah satu: kasih sayang ayah tidak mengenal batas, diberikan tanpa pamrih, dan selalu hadir meski tidak pernah ditunjukkan secara langsung.
Analisis: Kelebihan dan Kekurangan
KelebihanBuku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga pembaca tidak perlu bingung mengikuti alurnya. Pilihan kata yang sederhana justru membuat isi buku terasa lebih dekat dan mudah masuk ke hati. Setiap judul yang diangkat juga punya pesan tersendiri yang bisa langsung diambil sebagai pelajaran.
Kekurangan
Namun, buku ini punya kekurangan yang cukup terasa. Isi setiap babnya terlalu singkat. Beberapa cerita yang sebenarnya menarik terasa selesai terlalu cepat, sehingga pembaca tidak sempat benar-benar menghayati ceritanya. Akan lebih baik jika setiap kisah dikembangkan lebih panjang dan lebih detail.
Penutup
Setelah membaca buku ini, ada satu hal yang saya rasakan yaitu kita sering terlalu fokus pada perhatian ibu sampai lupa bahwa ayah juga punya cara cintanya sendiri. Ayah tidak banyak bicara, tapi setiap langkahnya adalah bukti kasih sayang. Nasihatnya tidak diulang-ulang, tapi sekali ia berbicara, kata-katanya membekas.Buku ini cocok dibaca oleh anak muda zaman sekarang yang mungkin sering menganggap ayah sebagai sosok yang kaku atau jauh. Di balik semua itu, ada cinta yang diam-diam selalu ada. Sayangi mereka selagi masih ada, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Penulis: Desi Novita Sari (Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Darul Hikmah Aceh Barat)
Foto: Dok. Untuk INTIinspira


