Iran, Filsafat Islam, dan Tingkatan Eksistensi: Mengapa Iman Bisa Mengalahkan Ketakutan?

INTIinspira - Perkuliahan hari ini cukup unik, karena kelas dibiarkan menggantung dengan pertanyaan yang memang sengaja tidak dijawab oleh pak Muhsin Labib hingga kelas berakhir. 

Kenapa Iran (pemimpin dan rakyatnya) bertahan dalam pertempuran melawan Amerika-Israel dan sekutunya yang mengorbankan ketentraman, kesejahteraan dan bahkan hidup mereka sendiri? Motivasi macam apa yang membuat mereka bertahan? Apa kaitannya dengan mata kuliah Tuhan dalam Filsafat Islam ini?

Ustadz sebenarnya memberikan beberapa clue sepanjang perkuliahan. Hanya memang cukup samar, entah karena memang beliau sengaja melakukan itu atau barangkali saya yang belum mampu menangkap apa yang coba beliau jelaskan.

Setelah serangkaian diskusi, ustadz akhirnya sampai pada contoh cangkir. 

Beliau lagi-lagi bertanya, apakah sama antara fakta cangkir dalam kenyataan dengan konsep cangkir dalam benak kita?

Beberapa teman memberikan pendapat, namun tampaknya ustadz tidak begitu puas dengan jawabannya. 

Saya sendiri tidak ikut menjawab sebab sibuk mengingat-ingat lagi tentang tingkatan (hierarki) eksistensi yang dulu pernah saya pelajari di S-1.

Kalau tidak salah ada empat tingkatan eksistensi. Dua tingkatan bersifat hakiki sementara dua lainnya bersifat konvensional.

Eksistensi yang bersifat hakiki yaitu: 
Pertama, eksistensi sesuatu di luar pikiran. Kedua, eksistensi sesuatu di dalam pikiran. Eksistensi pada tingkatan ini bersifat tetap, yakni tidak akan berubah lantaran perbedaan person. Contoh "cangkir itu" (yakni cangkir spesifik di sana itu) yang ada di luar pikiran (realitas eksternal), itu tidak akan berubah, dia tetaplah dia, apa pun yang terjadi.

Sementara eksistensi yang bersifat konvensional yaitu: Pertama, eksistensi sesuatu dalam ucapan (verbal). Kedua eksistensi sesuatu dalam tulisan. Eksistensi pada tingkatan ini bersifat kesepakatan, sehingga sangat situasional. Ia dapat berbeda-beda dikarenakan perbedaan kata, bahasa ataupun huruf. Contoh cangkir dalam bahasa Inggris tidak disebut cangkir melainkan cup dan ini sudah menunjukkan perubahan dan perbedaan. Sebab nama "cangkir" hanyalah kata yang disepakati oleh sekelompok orang Melayu untuk menyebut sesuatu.

Lalu apa hubungannya dengan perkuliahan? Jujur saya sendiri juga hanya sekedar menebak-nebak apa yang ingin ustadz jelaskan. 

Hanya saja, setelah saya paksakan untuk berpikir, barangkali masalah tingkatan eksistensi inilah yang menjadi kunci untuk menghubungkan clue yang ustadz sampaikan. Tentu saja, bisa jadi ini keliru atau bahkan keliru banget.

Kita, sebagai manusia, mayoritas mengenali Tuhan dari tingkatan eksistensi yang sifatnya konvensional, yakni mengenal Tuhan dari kata-kata ataupun dari tulisan-tulisan. 

Dan kebanyakan tidak beranjak dari pengenalan pada tingkat itu seumur hidup kita. Sehingga pengetahuan kita tentang Tuhan seringkali tidak mampu membimbing kita dalam tindakan dan perilaku kita sehari-hari.

Berbeda dengan orang yang sudah mengenal Tuhan pada tingkatan yang hakiki, mereka menyaksikan langsung Tuhan sehingga mereka tidak memiliki keraguan lagi.

Ini sekaligus akan menghasilkan output yang berbeda. Nabi Muhammad yang sudah menyaksikan alam gaib, melihat surga, neraka, bahkan pada malam Isra' Mi'raj telah sampai ke 'Arasy utk menjemput Wahyu salat tidak akan ragu lagi untuk beriman dan mematuhi perintah Allah.

Sehingga, seandainya seisi bumi tidak memercayai apa yang ia alami, atau bahkan mencemooh, bahkan memeranginya, beliau tidak akan goyah. Dan beliau sanggup mengorbankan apapun untuk mempertahankan keyakinannya itu.

Ini sama halnya dengan kita yang meyakinkan kepada orang buta sejak lahir bahwa di dunia ini ada begitu banyak warna. Seandainya mereka tidak percaya, ataupun mencemooh bahkan mencaci kita atau menuduh kita pembohong, itu tidak akan pernah menggoyahkan keyakinan kita sebab kita sudah menyaksikan langsung warna-warna itu.

Hubungannya dengan kekuatan orang-orang Iran dalam menghadapi pertempuran melawan Amerika-Israel barangkali ada kaitannya dengan ini. 

Mereka memiliki pemimpin yang punya keyakinan pada tingkatan eksistensi yang hakiki. Sehingga seluruh perlawanan mereka diinspirasi oleh keimanan yang kokoh. Bukan iman yang hanya diajarkan lewat kata-kata ataupun tulisan. 

Penulis: Bil Hamdi
Ilustrasi: The Portal of Mind (dibuat dengan AI)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan