Puisi Tak Kunjung Jadi, Tapi Rak Buku Terlanjur Penuh
INTIinspira - Sejak membaca puisi Jokpin, aku begitu menggebu ingin jadi penyair, menulis puisi setiap ada momen.
Aku juga membeli lagi buku-buku puisi lainnya, aku mulai tahu Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, Wiji Thukul, sampai penyair yang selalu dibicarakan yakni Chairil Anwar.
Aku membaca buku biografi Chairil Anwar dari terbitan Tempo, penasaran bagaimana caranya menjadi penyair, ternyata—dalam menulis—Chairil bukan hanya menangkap momen tapi mengedit puisinya sedemikian rupa.
Chairil bahkan mendobrak perpuisian yang diprakarsai Pujangga Baru yang mendedahkan puisi dengan alam yang mendayu-dayu.
Begitu banyak puisi Chairil yang membekas kala membacanya, dari “Aku ini binatang jalang dari kumpulan terbuang”, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi”, “Ini kali tak ada yang mencari cinta”, “nasib adalah kesunyian masing-masing”.
Keranjingan puisi membawaku pada sebuah buku Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriana, yang juga seorang penyair. Aku belajar menulis puisi lagi dengan segala macam dan modelnya.
Tapi tetap saja aku tak bisa menghasilkan puisi yang bagus. Aku pun kembali membaca puisi-puisi, dan senantian membeli buku puisi, menghadiri diskusi buku puisi, sampai ikut kelas puisi.
Aku mengumpulkan semua buku-buku Jokpin, karena dari sekian banyak puisi, karya Jokpin lah yang begitu memikat, bahkan dari judul bukunya saja sudah menarik, mulai dari Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Telepon Genggam, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, Perjamuan Khong Guan.
Jokpin menghadirkan puisi yang jenaka tapi penuh makna. Ia sering membuat penutup puisi yang membuat terpana.
Puisi berjudul Celana dengan bait: “kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan”.
Dan yang cukup membekas juga puisi tentang agama “apa agamamu? Agamaku adalah air yang menghapuskan pertanyaanmu”.
Serta puisi yang memperlihatkan wawasan bahasa Jokpin dengan judul “Kamus Kecil”.
Aku sampai penasaran apa yang membuat Jokpin begitu produktif dan menarik setiap kali menulis puisi. Dalam proses kreatifnya, Jokpin terpana dengan puisi Sapardi dengan bait “Duka-Mu Abadi”, ia terpukau dan membayangkan bagaimana Tuhan bisa berduka, dan dukanya abadi.
Sebenarnya Jokpin pengagum Sapardi, dia menjadikan Sapardi sebagai guru.
Aku sampai penasaran apa yang membuat Jokpin begitu produktif dan menarik setiap kali menulis puisi. Dalam proses kreatifnya, Jokpin terpana dengan puisi Sapardi dengan bait “Duka-Mu Abadi”, ia terpukau dan membayangkan bagaimana Tuhan bisa berduka, dan dukanya abadi.
Sebenarnya Jokpin pengagum Sapardi, dia menjadikan Sapardi sebagai guru.
Dari situlah aku coba membaca karya Sapardi, banyak puisinya yang menarik, “Aku Ingin” yang begitu populer dianggap sebagai puisi cinta, lalu “Hujan Bulan Juni” yang kemudian sampai menjadi film, lalu ada juga “Tentu Kau Boleh”.
Yang aku suka adalah “Dongeng Marsinah” memotret dengan jelas kekejaman negara terhadap buruh Marsinah. Tapi puisi Sapardi yang lainnya, begitu susah aku pahami.
Alih-alih menulis puisi dan bercita-cita jadi penyair, aku malah sibuk mengulik kisah hidup seorang penyair.
Akupun penasaran siapa saja penyair Indonesia, nama Chairil Anwar adalah yang paling sering disebut, sebelumnya ada Amir Hamzah yang terkenal dalam kelompok Pujangga Baru.
Nama Chairil Anwar semakin terkenal setelah H.B. Jassim menerbitkan puisi-puisi Chairil, lalu memasukan Chairil sebagai pelopor angkatan 45.
Dari Chairil lah model puisi pun berkembang, adalah Sapardi yang mengikut gaya lirik puisi Chairil, dan Goenawan Mohammad yang mengikuti puisi suasana seperti Chairil dengan judul “Di beranda ini angin tak kedengaran lagi” yang seolah mengikuti “Senja di pelabuhan kecil”.
Aku bertanya ,setelah Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono, siapakah penyair lainnya? Aku menemukan W.S. Rendra yang menjadikan puisi sebagai panggung pertunjukan, dengan puisi-puisinya yang bergaya puisi pamflet.
Yang aku suka adalah “Dongeng Marsinah” memotret dengan jelas kekejaman negara terhadap buruh Marsinah. Tapi puisi Sapardi yang lainnya, begitu susah aku pahami.
Alih-alih menulis puisi dan bercita-cita jadi penyair, aku malah sibuk mengulik kisah hidup seorang penyair.
Akupun penasaran siapa saja penyair Indonesia, nama Chairil Anwar adalah yang paling sering disebut, sebelumnya ada Amir Hamzah yang terkenal dalam kelompok Pujangga Baru.
Nama Chairil Anwar semakin terkenal setelah H.B. Jassim menerbitkan puisi-puisi Chairil, lalu memasukan Chairil sebagai pelopor angkatan 45.
Dari Chairil lah model puisi pun berkembang, adalah Sapardi yang mengikut gaya lirik puisi Chairil, dan Goenawan Mohammad yang mengikuti puisi suasana seperti Chairil dengan judul “Di beranda ini angin tak kedengaran lagi” yang seolah mengikuti “Senja di pelabuhan kecil”.
Aku bertanya ,setelah Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono, siapakah penyair lainnya? Aku menemukan W.S. Rendra yang menjadikan puisi sebagai panggung pertunjukan, dengan puisi-puisinya yang bergaya puisi pamflet.
Rendra mengkritik penyair sezamannya yang dia sebut penyair salon karena lebih banyak mempercantik bahasa puisi daripada maknanya.
Aku juga menemukan nama Sutardji Calzoum Bachri yang menjadikan puisi sebagai seperti pembacaan mantra, sebuah bait yang berulang-ulang layaknya seorang dukun yang membacakan sebuah ritual.
Pada sisi yang lain aku mendapatkan penyair Sufi seperti Abdul Hadi W.M. yang mengambil inspirasi dari para penyair Sufi seperti Hamzah Fansuri.
Aku juga menemukan nama Sutardji Calzoum Bachri yang menjadikan puisi sebagai seperti pembacaan mantra, sebuah bait yang berulang-ulang layaknya seorang dukun yang membacakan sebuah ritual.
Pada sisi yang lain aku mendapatkan penyair Sufi seperti Abdul Hadi W.M. yang mengambil inspirasi dari para penyair Sufi seperti Hamzah Fansuri.
Kemudian ada Remy Sylado dengan puisi Mbeling yang isinya adalah puisi yang penuh kelakar dan bahasa yang lugas.
Nama penyair yang membuatku tertarik lainnya adalah Wiji Thukul, ia menulis puisi soal kemiskinan, ketertindasan, serta kehidupan buruh.
Apalagi puisi:
Nama penyair yang membuatku tertarik lainnya adalah Wiji Thukul, ia menulis puisi soal kemiskinan, ketertindasan, serta kehidupan buruh.
Apalagi puisi:
“Apa guna punya ilmu tinggi Kalau hanya untuk mengibuli/ Apa guna banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu/ Di mana-mana moncong senjata berdiri gagah kongkalikong Dengan kaum cukong”.
Lalu juga puisi “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/ Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ Dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!”.
Akibat puisi-puisinya, Wiji Thukul hilang tanpa kabar berita.
Aku kemudian mengenal lagi nama penyair Saut Sitomorang yang tajam mengkritik penyair seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, hingga Joko Pinurbo. Dan model puisi Saut pun begitu sangar, dan penuh tajam mengkritik pemerintah.
Aku membaca puisi “Negeri Terluka” isinya begitu menggugah akan perlawanan.
Aku kemudian mengenal lagi nama penyair Saut Sitomorang yang tajam mengkritik penyair seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, hingga Joko Pinurbo. Dan model puisi Saut pun begitu sangar, dan penuh tajam mengkritik pemerintah.
Aku membaca puisi “Negeri Terluka” isinya begitu menggugah akan perlawanan.
Bahkan dari Saut dalam buku Politik Sastra, aku baru tahu bahwa karya Sastra adalah soal politik, kenapa misalnya penyair dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) diberengus, sedangkan penyair dari Manifesto Kebudayaan seperti Goenawan Mohamma dan Taufiq Ismail dibiarkan begitu saja, karena Manifesto Kebudayaan berideologi bahwa seni untuk seni yang berbeda dengan Lekra yang beranggapan seni untuk rakyat.
Walau pada akhirnya belum jadi penyair, setidaknya aku telah menjadi pembaca setia.
Dari para penyair aku banyak belajar, Jokpin menunjukan bahwa puisi adalah permainan kata-kata yang kadang jenakan dan penuh makna.
Walau pada akhirnya belum jadi penyair, setidaknya aku telah menjadi pembaca setia.
Dari para penyair aku banyak belajar, Jokpin menunjukan bahwa puisi adalah permainan kata-kata yang kadang jenakan dan penuh makna.
Dari Chairil aku paham bahwa puisi begitu berpengaruh terhadap budaya bahasa, dari Sapardi aku mengerti bahwa puisi sederhana bisa menyimpan makna yang begitu dalam.
Dan kadang, puisi seperti peluru yang menembus telinga penguasa layaknya puisi-puisi Wiji Thukul.
Barangkali mimpi menjadi penyair tetap ku pendam, hingga puisi datang saat puisi membutuhkan puisi.[]
Penulis: Romario (Dosen IAIN Langsa)
Dan kadang, puisi seperti peluru yang menembus telinga penguasa layaknya puisi-puisi Wiji Thukul.
Barangkali mimpi menjadi penyair tetap ku pendam, hingga puisi datang saat puisi membutuhkan puisi.[]
Penulis: Romario (Dosen IAIN Langsa)
Ilustrasi: https://pixnio.com/id/media/buku-klasik-puisi-pemandangan-halaman


