Apakah Pengetahuan Hanya dari Indera? Refleksi Filsafat tentang “Mengetahui”
INTIinspira - Malam ini, kelas dimulai dengan satu pertanyaan, "Apa yang dimaksud dengan mengetahui?" Seorang teman menjawab, "Mengetahui itu adalah proses menyerap informasi yang diperoleh melalui pancaindera".
Sebetulnya redaksi jawabannya tidak persis seperti itu. Namun kurang lebih jawabannya mengarah pada kesimpulan bahwa apa yang disebut mengetahui berkaitan erat dengan pancaindera.
Begitu mendengar jawaban demikian, pak Muhsin Labib langsung mempertanyakan, apakah benar bahwa pengetahuan hanya berkaitan dengan pancaindera? Apakah tidak mungkin bagi manusia untuk memiliki pengetahuan (baca: mengetahui) tanpa harus melalui pancaindera?
Lagi-lagi, kalimat yang beliau sampaikan tidak persis seperti itu, sebab saya juga lupa kalimat pastinya. Hanya saja, yang saya tangkap intinya begitu.
Apakah kamu bisa melihat ibumu? Tanya pak Muhsin Labib pada seisi kelas. Pada awalnya, semua menjawab, "Ya, tentu saja".
Saya sendiri menjawab "Dalam penggunaan bahasa keseharian, pertanyaan seperti itu jelas saja dapat dijawab dengan mudah. Sebab, bagi kita yang sempat berjumpa dengan ibu, pasti melihat sosoknya."
Namun, pak Muhsin Labib tidak bermaksud untuk mencari jawaban awam.
Dia mempertanyakan sesuatu yang lebih dalam, apakah benar kita bisa melihat ibu? Kalau bisa, lalu apa yang tampak ketika kita melihat ibu? Maka, dengan sedikit menerka-nerka arah pembicaraannya, saya menjawab "Ya, kita melihat manusia berjenis kelamin perempuan yang melahirkan kita."
'Oh, tidak. Tidak ada orang yang bisa melihat ibu. Satupun tak ada."
Pernyataan ini agak membingungkan bagi saya, mungkin juga bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya. Maka, beliau melanjutkan, di luar (yakni realitas eksternal) tidak ada yang namanya ibu. Bahkan juga tidak ada yang namanya manusia. Yang ada hanya 'sesuatu'. Bahkan sesuatu ini pun tidak boleh kita pahami sebagai konsep. Sesuatu di sini, ya, sesuatu itu saja.
Kalau saya baca dalam buku-buku filsafat, ada juga yang menyebut 'yang di sana'. Lagi-lagi ini membingungkan jika dipahami dalam konteks bahasa, sebab yang dibicarakan di sini adalah makna.
Maka, menurut beliau, kita tidak bisa melihat ibu, sebab ibu bukanlah sesuatu yang bisa diindera dengan mata. Ibu adalah sesuatu yang hanya bisa dipahami akal. Ibu adalah fungsi, sementara mata hanya mampu melihat fakta seorang manusia perempuan yang melahirkan anak. Ini pun jangan dipahami bahasanya, sebab bahasa semuanya adalah konsep. Sementara konsep tidak ada di luar (realitas eksternal).
Lalu, beliau mencontohkan gelas. Apakah mata bisa melihat gelas?
'Oh, tidak. Tidak ada orang yang bisa melihat ibu. Satupun tak ada."
Pernyataan ini agak membingungkan bagi saya, mungkin juga bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya. Maka, beliau melanjutkan, di luar (yakni realitas eksternal) tidak ada yang namanya ibu. Bahkan juga tidak ada yang namanya manusia. Yang ada hanya 'sesuatu'. Bahkan sesuatu ini pun tidak boleh kita pahami sebagai konsep. Sesuatu di sini, ya, sesuatu itu saja.
Kalau saya baca dalam buku-buku filsafat, ada juga yang menyebut 'yang di sana'. Lagi-lagi ini membingungkan jika dipahami dalam konteks bahasa, sebab yang dibicarakan di sini adalah makna.
Maka, menurut beliau, kita tidak bisa melihat ibu, sebab ibu bukanlah sesuatu yang bisa diindera dengan mata. Ibu adalah sesuatu yang hanya bisa dipahami akal. Ibu adalah fungsi, sementara mata hanya mampu melihat fakta seorang manusia perempuan yang melahirkan anak. Ini pun jangan dipahami bahasanya, sebab bahasa semuanya adalah konsep. Sementara konsep tidak ada di luar (realitas eksternal).
Lalu, beliau mencontohkan gelas. Apakah mata bisa melihat gelas?
Di sini, sebetulnya saya sudah bisa menerka pola yang sama dengan pertanyaan sebelumnya. Tapi beliau menambahkan pertanyaan, apakah kucing bisa melihat gelas? Jawabannya tidak. Tapi apakah kucing mampu melihat benda 'yang kita sebut gelas' itu? Jawabannya 'iya'. Bahkan kucing dapat melihat dengan lebih baik dari pada manusia. Lalu, dengan nada satir beliau mengatakan "kalau pengetahuan hanya berkaitan dengan pancaindera, maka kucing lebih saintifik dari manusia." Sebab pancaindera beberapa hewan memang lebih unggul dibandingkan manusia.
"Jika pengetahuan hanya diperoleh melalui pancaindera, maka hewan jauh lebih saintifik dibandingkan manusia."
Tapi, ternyata pengetahuan bukan hanya yang diperoleh melalui indera. Gelas tidak akan bisa dipahami oleh kucing. Sebab kucing tidak mampu menangkap fungsi atau konsep yang lebih tinggi. Ia hanya melihat benda itu. Itu saja.
Maka, pertanyaan "Apa itu mengetahui?" tidak bisa direduksi maknanya hanya sebatas pengetahuan inderawi. Sebab ada banyak pengetahuan manusia, yang jauh melampaui batas-batas indera. Termasuk pengetahuan tentang Tuhan.
Masalahnya, apakah selama ini pengetahuan kita tentang Tuhan sudah benar? Di sini beliau bertanya, apa makna al-imanu billah? Saya menjawab percaya kepada Allah. Seorang teman menjawab, meyakini adanya Tuhan.
Lalu, pak Muhsin Labib bertanya lagi, apakah sama meyakini ada-Nya dengan meyakini bahwa Dia Mahakuasa? Lagi-lagi, pertanyaan yang terkesan patah dan membelok dari pembahasan di awal. Namun, jujur saya menyukai pembelajaran seperti ini. Kelas yang membuka ruang untuk berpikir dan mengungkapkan gagasan.
Tapi, pada akhirnya pembahasan berlanjut ke arah bahwa barangkali karena semasa hidup, manusia diajari melalui pengetahuan inderawi dan konseptual, kesadaran kita seringkali hanya peka terhadap perbedaan dan kategorisasi. Sebab itulah tugas indera dan akal. Mereka memberi tahu kita tentang perbedaan ini dan itu. Sehingga kita luput dengan sesuatu yang lebih mendasar yaitu ada.
Maka, pak Muhsin Labib bertanya "Ada mbak Qonita ditambah ada mas Ramsyah ditambah ada mbak Tina, kalau dijumlah ada berapa?", maka saya menjawab ada tiga. Jawaban saya pun salah.
"Jika pengetahuan hanya diperoleh melalui pancaindera, maka hewan jauh lebih saintifik dibandingkan manusia."
Tapi, ternyata pengetahuan bukan hanya yang diperoleh melalui indera. Gelas tidak akan bisa dipahami oleh kucing. Sebab kucing tidak mampu menangkap fungsi atau konsep yang lebih tinggi. Ia hanya melihat benda itu. Itu saja.
Maka, pertanyaan "Apa itu mengetahui?" tidak bisa direduksi maknanya hanya sebatas pengetahuan inderawi. Sebab ada banyak pengetahuan manusia, yang jauh melampaui batas-batas indera. Termasuk pengetahuan tentang Tuhan.
Masalahnya, apakah selama ini pengetahuan kita tentang Tuhan sudah benar? Di sini beliau bertanya, apa makna al-imanu billah? Saya menjawab percaya kepada Allah. Seorang teman menjawab, meyakini adanya Tuhan.
Lalu, pak Muhsin Labib bertanya lagi, apakah sama meyakini ada-Nya dengan meyakini bahwa Dia Mahakuasa? Lagi-lagi, pertanyaan yang terkesan patah dan membelok dari pembahasan di awal. Namun, jujur saya menyukai pembelajaran seperti ini. Kelas yang membuka ruang untuk berpikir dan mengungkapkan gagasan.
Tapi, pada akhirnya pembahasan berlanjut ke arah bahwa barangkali karena semasa hidup, manusia diajari melalui pengetahuan inderawi dan konseptual, kesadaran kita seringkali hanya peka terhadap perbedaan dan kategorisasi. Sebab itulah tugas indera dan akal. Mereka memberi tahu kita tentang perbedaan ini dan itu. Sehingga kita luput dengan sesuatu yang lebih mendasar yaitu ada.
Maka, pak Muhsin Labib bertanya "Ada mbak Qonita ditambah ada mas Ramsyah ditambah ada mbak Tina, kalau dijumlah ada berapa?", maka saya menjawab ada tiga. Jawaban saya pun salah.
Sebab, dari segi ada, maka segala sesuatu hanya satu. Sebab dalam keberadaan, yang ada hanya satu. Tidak ada bedanya adanya saya dan adanya mas Ramsyah ataupun yang lainnya. Yang berbeda itu mahiyah (keapaannya), ini tambahan saya sendiri.
Sebab pak Muhsin belum mau menggunakan istilah-istilah ini ataupun istilah lain dalam filsafat yang kadang memang bukannya mempermudah, malah mempersulit orang untuk paham.
"Manusia kadang lebih dulu beriman pada gambaran Tuhan, daripada adanya Tuhan. Karena itu, tak jarang manusia hanya menyembah bayangan Tuhan yang mereka buat sendiri dalam pikiran mereka. Karena itu, tidak mengherankan salatnya khusyuk, tapi maksiatnya juga khusyuk. Sebab yang mereka imani bukan adanya Tuhan, tapi gambar Tuhan buatan mereka sendiri."
Kalimat di atas tidak berani saya syarah. Biarlah seperti itu. Menjadi bahan renungan buat diri saya dan siapapun yang membaca tulisan ini.
"Manusia kadang lebih dulu beriman pada gambaran Tuhan, daripada adanya Tuhan. Karena itu, tak jarang manusia hanya menyembah bayangan Tuhan yang mereka buat sendiri dalam pikiran mereka. Karena itu, tidak mengherankan salatnya khusyuk, tapi maksiatnya juga khusyuk. Sebab yang mereka imani bukan adanya Tuhan, tapi gambar Tuhan buatan mereka sendiri."
Kalimat di atas tidak berani saya syarah. Biarlah seperti itu. Menjadi bahan renungan buat diri saya dan siapapun yang membaca tulisan ini.
Penulis: Bil Hamdi
Ilustrasi: The choice between intuition and logic (dibuat dengan AI)


