Mengapa Kita Tidak Tahan Jadi Pemula? (Stoikisme, Proses, dan Obsesi Serba Cepat)
INTIinspira - Beberapa hari terakhir ini saya cukup intens membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.
Dulu saya sebenarnya sudah pernah membacanya, namun belum tuntas. Kali ini, saya ingin menyelesaikannya—membaca ulang sampai khatam buku yang menurut saya begitu menarik ini.
Dalam buku itu, Manampiring memaparkan ajaran-ajaran Stoikisme dengan cukup rinci. Dari sekian banyak gagasan yang ia bahas, ada satu yang terasa paling mengena, yaitu ajaran tentang hidup selaras dengan alam.
Dari situlah tulisan ini berangkat. Pembacaan terhadap gagasan hidup selaras dengan alam itu kemudian saya coba tarik ke realitas hari ini—ke cara kita menjalani hidup, belajar, dan memaknai proses.
Dalam buku itu, Manampiring memaparkan ajaran-ajaran Stoikisme dengan cukup rinci. Dari sekian banyak gagasan yang ia bahas, ada satu yang terasa paling mengena, yaitu ajaran tentang hidup selaras dengan alam.
Dari situlah tulisan ini berangkat. Pembacaan terhadap gagasan hidup selaras dengan alam itu kemudian saya coba tarik ke realitas hari ini—ke cara kita menjalani hidup, belajar, dan memaknai proses.
Hasil perenungan itulah yang menjelma menjadi tulisan ini.
Akses mudah, informasi melimpah, pokoknya hampir semua hal terasa dipercepat. Rupanya, kecenderungan serba cepat ini telah menggeser cara kita memandang hidup.
Yang ingin serba cepat ternyata buka hanya teknologi, manusia juga. Kita ingin cepat pintar, cepat sukses, cepat diakui, bahkan kalau bisa, cepat jadi top global.
Tragisnya, dorongan untuk serba cepat ini tidak berhenti di situ. Ia juga merambat ke dunia pendidikan.
Semua Ingin Dipercepat Termasuk yang Seharusnya Berproses
Kita hidup di zaman yang serba cepat, plus didorong untuk selalu bergerak cepat. Hal-hal yang dulunya butuh waktu lama, kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik alias sat-set.Akses mudah, informasi melimpah, pokoknya hampir semua hal terasa dipercepat. Rupanya, kecenderungan serba cepat ini telah menggeser cara kita memandang hidup.
Yang ingin serba cepat ternyata buka hanya teknologi, manusia juga. Kita ingin cepat pintar, cepat sukses, cepat diakui, bahkan kalau bisa, cepat jadi top global.
Tragisnya, dorongan untuk serba cepat ini tidak berhenti di situ. Ia juga merambat ke dunia pendidikan.
Dalam proses belajar, misalnya, sering muncul keinginan untuk langsung menjadi ahli. Baru sekali membaca kata-kata bijak, sudah merasa ngalah-ngalahin Mahatma Gandhi.
Gambaran seperti itu mungkin terdengar berlebihan, tapi kurang lebih begitulah arahnya. Intinya, dorongan untuk “langsung jadi” ini mulai memojokkan satu kenyataan: bahwa semua hal pada dasarnya membutuhkan proses.
Parahnya lagi, kecenderungan ini perlahan mengubur kesediaan orang untuk memulai dari awal. Menjadi pemula—yang dulu terasa wajar—kini justru mulai dihindari. Ya, menjadi pemula (newbie) seperti kehilangan tempatnya.
Gambaran seperti itu mungkin terdengar berlebihan, tapi kurang lebih begitulah arahnya. Intinya, dorongan untuk “langsung jadi” ini mulai memojokkan satu kenyataan: bahwa semua hal pada dasarnya membutuhkan proses.
Parahnya lagi, kecenderungan ini perlahan mengubur kesediaan orang untuk memulai dari awal. Menjadi pemula—yang dulu terasa wajar—kini justru mulai dihindari. Ya, menjadi pemula (newbie) seperti kehilangan tempatnya.
Ketika Menjadi Pemula Terasa Memalukan
Fenomena hari ini—terutama di media sosial—memperlihatkan kecenderungan orang untuk ingin terlihat ahli, tapi tidak betah belajar.Ingin dihargai karena pengetahuan, tapi tidak mau melalui fase kebingungan. Ingin dianggap paham, tapi tidak nyaman mengakui bahwa dirinya masih di tahap awal.
Padahal, semua orang yang hari ini kita anggap ahli, pernah berada di titik yang sama: pemula, tidak tahu apa-apa. Tidak ada pengecualian dalam hal ini.
Yang berubah sebenarnya bukan fakta itu, melainkan cara kita menilainya. Menjadi pemula, yang dulu terasa wajar, kini sering dianggap sebagai kekurangan yang memalukan. Seolah-olah itu adalah posisi yang harus segera ditinggalkan, bukan fase yang perlu dijalani.
Kita seperti didorong untuk cepat “naik kelas”, bahkan sebelum benar-benar siap. Akibatnya, bukan hanya kepakaran yang gagal terbentuk, tapi juga daya tahan untuk menjalani proses yang perlahan ikut terkikis.
Hidup di zaman yang serba cepat ini, entah bagaimana membuat kita semakin tidak tahan berada di tahap awal. Kita ingin segera sampai, tanpa mau berlama-lama di proses yang terasa lambat.
Ditambah lagi dengan ketidaknyamanan terhadap ketidaktahuan. Kita ingin tahu banyak hal sekaligus, bahkan ingin menguasai berbagai bidang dalam waktu singkat. Padahal, keinginan seperti itu sering kali justru menjauhkan kita dari kedalaman.
Lalu muncul pertanyaan: apakah cara hidup seperti ini masih selaras dengan kodrat kita sebagai manusia? Pertanyaan inilah yang akan coba kita telusuri lebih jauh dalam tulisan ini.
Hidup selaras dengan alam itu jangan dipahami tinggal dalam hutan dan berteman dengan Tarzan. Alam di sini merujuk pada hukum kehidupan—cara dunia bekerja, ritme perubahan, dan prinsip sebab akibat yang tak mungkin kita hindari.
Jika kita perhatikan, alam tidak pernah bekerja secara instan. Segala sesuatu tumbuh melalui tahapan. Benih membutuhkan waktu untuk menjadi pohon. Air mengalir mengikuti jalurnya. Bahkan perubahan musim pun terjadi secara perlahan, tidak pernah melompat begitu saja.
Tidak ada istilah skip dalam cara kerja alam. Yang ada hanyalah proses.
Dan jika kita benar-benar bagian dari alam, maka logikanya: kita pun seharusnya tunduk pada ritme yang sama.
Ia tidak tiba-tiba langsung berdiri dan melangkah dengan sempurna. Ia memulai dari telentang, lalu tengkurap, merangkak, mencoba berdiri, jatuh, mencoba lagi, jatuh lagi, sampai akhirnya bisa berjalan.
Tidak ada satu tahap pun yang di skip sama dia.
Menariknya, kita tidak pernah menganggap proses itu sebagai kegagalan. Kita tidak melihat bayi yang jatuh sebagai sebuah cela yang memalukan. Kita justru memahami bahwa itulah cara belajar yang alami.
Namun anehnya, ketika kita dewasa, cara pandang itu berubah. Kita ingin belajar tanpa jatuh. Kita ingin berhasil tanpa fase canggung. Kita ingin mahir tanpa melewati tahap tidak bisa. Mungkin kita lupa bahwa dulu kita juga belajar dengan cara yang sama.
Setiap keahlian adalah hasil dari akumulasi proses yang panjang—sering kali membosankan, berulang, dan membingungkan. Mengapa bingung? Karena kadang dalam proses itu kita terpikir “apa ada hasilnya ya dari yang kulakukan ini” sambil bengong.
Masalahnya, kita hidup di lingkungan yang semakin mengaburkan keberadaan proses itu. Kita lebih sering silau melihat hasil akhir orang lain—kemampuan, pencapaian, pengakuan—tanpa melihat perjalanan yang melahirkannya.
Akibatnya, kita tergoda untuk menemukan jalan pintas.
Padahal, dalam banyak hal, yang hilang hari ini bukanlah kepakaran, tapi kesabaran untuk berproses menjadi pakar. Kita ingin menyandang hasilnya, tapi enggan menjalani tahapannya.
Kita ingin menjadi “pakar”, tapi tidak mau menjadi pemula.
Padahal, menjadi pakar tidak lain adalah hasil dari bertahan cukup lama sebagai pemula.
Namun persis di situ, paradoks muncul: semakin cepat dunia bergerak,semakin sulit manusia menerima sesuatu yang butuh waktu.
Kita terbiasa dengan hasil instan, sehingga proses terasa seperti hambatan.
Kita terbiasa dengan kemudahan, sehingga kesulitan terasa tidak wajar.
Kita terbiasa dengan kecepatan, sehingga waktu yang lama terasa mengganggu.
Padahal, justru dalam proses yang lambat itulah banyak hal penting terbentuk: ketekunan, kedalaman, dan pemahaman yang utuh. Tanpa proses, kita mungkin bisa sampai lebih cepat, tapi sering kali tanpa fondasi yang kokoh.
Ketika kita menolak atau meremehkan proses, sejatinya kita sedang menolak realitas. Kita ingin dunia berjalan sesuai keinginan kita, bukan sebagaimana adanya. Kita ingin hasil tanpa waktu, kemahiran tanpa latihan, serta pencapaian tanpa perjuangan.
Namun, penting untuk dipahami, gagasan ini bukanlah ajakan untuk menolak kemajuan. Bukan pula seruan untuk kembali hidup lambat secara ekstrem, tapi untuk menyadari bahwa tidak semua hal bisa—dan seharusnya—dipercepat.
Padahal, semua orang yang hari ini kita anggap ahli, pernah berada di titik yang sama: pemula, tidak tahu apa-apa. Tidak ada pengecualian dalam hal ini.
Yang berubah sebenarnya bukan fakta itu, melainkan cara kita menilainya. Menjadi pemula, yang dulu terasa wajar, kini sering dianggap sebagai kekurangan yang memalukan. Seolah-olah itu adalah posisi yang harus segera ditinggalkan, bukan fase yang perlu dijalani.
Kita seperti didorong untuk cepat “naik kelas”, bahkan sebelum benar-benar siap. Akibatnya, bukan hanya kepakaran yang gagal terbentuk, tapi juga daya tahan untuk menjalani proses yang perlahan ikut terkikis.
Hidup di zaman yang serba cepat ini, entah bagaimana membuat kita semakin tidak tahan berada di tahap awal. Kita ingin segera sampai, tanpa mau berlama-lama di proses yang terasa lambat.
Ditambah lagi dengan ketidaknyamanan terhadap ketidaktahuan. Kita ingin tahu banyak hal sekaligus, bahkan ingin menguasai berbagai bidang dalam waktu singkat. Padahal, keinginan seperti itu sering kali justru menjauhkan kita dari kedalaman.
Lalu muncul pertanyaan: apakah cara hidup seperti ini masih selaras dengan kodrat kita sebagai manusia? Pertanyaan inilah yang akan coba kita telusuri lebih jauh dalam tulisan ini.
Stoikisme dan Gagasan Hidup Selaras dengan Alam
Di bagian ini, kita bisa mulai melihat kembali salah satu gagasan penting dalam filsafat Stoik, yaitu hidup selaras dengan alam.Hidup selaras dengan alam itu jangan dipahami tinggal dalam hutan dan berteman dengan Tarzan. Alam di sini merujuk pada hukum kehidupan—cara dunia bekerja, ritme perubahan, dan prinsip sebab akibat yang tak mungkin kita hindari.
Jika kita perhatikan, alam tidak pernah bekerja secara instan. Segala sesuatu tumbuh melalui tahapan. Benih membutuhkan waktu untuk menjadi pohon. Air mengalir mengikuti jalurnya. Bahkan perubahan musim pun terjadi secara perlahan, tidak pernah melompat begitu saja.
Tidak ada istilah skip dalam cara kerja alam. Yang ada hanyalah proses.
Dan jika kita benar-benar bagian dari alam, maka logikanya: kita pun seharusnya tunduk pada ritme yang sama.
Belajar dari Bayi
Untuk memahami ini, kita tidak perlu capek-capek, cukup perhatikan bagaimana bayi belajar berjalan.Ia tidak tiba-tiba langsung berdiri dan melangkah dengan sempurna. Ia memulai dari telentang, lalu tengkurap, merangkak, mencoba berdiri, jatuh, mencoba lagi, jatuh lagi, sampai akhirnya bisa berjalan.
Tidak ada satu tahap pun yang di skip sama dia.
Menariknya, kita tidak pernah menganggap proses itu sebagai kegagalan. Kita tidak melihat bayi yang jatuh sebagai sebuah cela yang memalukan. Kita justru memahami bahwa itulah cara belajar yang alami.
Namun anehnya, ketika kita dewasa, cara pandang itu berubah. Kita ingin belajar tanpa jatuh. Kita ingin berhasil tanpa fase canggung. Kita ingin mahir tanpa melewati tahap tidak bisa. Mungkin kita lupa bahwa dulu kita juga belajar dengan cara yang sama.
Tidak Ada Kepakaran yang Lahir Secara Instan
Dalam konteks belajar, prinsip ini sebenarnya sangat jelas. Tidak ada kecerdasan instan. Tidak ada kepakaran yang muncul tiba-tiba.Setiap keahlian adalah hasil dari akumulasi proses yang panjang—sering kali membosankan, berulang, dan membingungkan. Mengapa bingung? Karena kadang dalam proses itu kita terpikir “apa ada hasilnya ya dari yang kulakukan ini” sambil bengong.
Masalahnya, kita hidup di lingkungan yang semakin mengaburkan keberadaan proses itu. Kita lebih sering silau melihat hasil akhir orang lain—kemampuan, pencapaian, pengakuan—tanpa melihat perjalanan yang melahirkannya.
Akibatnya, kita tergoda untuk menemukan jalan pintas.
Padahal, dalam banyak hal, yang hilang hari ini bukanlah kepakaran, tapi kesabaran untuk berproses menjadi pakar. Kita ingin menyandang hasilnya, tapi enggan menjalani tahapannya.
Kita ingin menjadi “pakar”, tapi tidak mau menjadi pemula.
Padahal, menjadi pakar tidak lain adalah hasil dari bertahan cukup lama sebagai pemula.
Dunia Cepat, Tapi Keropos
Tidak bisa dipungkiri, dunia hari ini membawa banyak kemudahan. Teknologi mempercepat pekerjaan, memperluas akses, dan membuka peluang yang sebelumnya tidak terbayangkan.Namun persis di situ, paradoks muncul: semakin cepat dunia bergerak,semakin sulit manusia menerima sesuatu yang butuh waktu.
Kita terbiasa dengan hasil instan, sehingga proses terasa seperti hambatan.
Kita terbiasa dengan kemudahan, sehingga kesulitan terasa tidak wajar.
Kita terbiasa dengan kecepatan, sehingga waktu yang lama terasa mengganggu.
Padahal, justru dalam proses yang lambat itulah banyak hal penting terbentuk: ketekunan, kedalaman, dan pemahaman yang utuh. Tanpa proses, kita mungkin bisa sampai lebih cepat, tapi sering kali tanpa fondasi yang kokoh.
Kembali Selaras dengan Alam
Di titik ini, gagasan Stoik menjadi relevan kembali. Hidup selaras dengan alam, pada dasarnya, berarti menerima cara kerja kehidupan itu sendiri. Dan salah satu cara kerja paling mendasar ialah segala sesuatu butuh proses.Ketika kita menolak atau meremehkan proses, sejatinya kita sedang menolak realitas. Kita ingin dunia berjalan sesuai keinginan kita, bukan sebagaimana adanya. Kita ingin hasil tanpa waktu, kemahiran tanpa latihan, serta pencapaian tanpa perjuangan.
Namun, penting untuk dipahami, gagasan ini bukanlah ajakan untuk menolak kemajuan. Bukan pula seruan untuk kembali hidup lambat secara ekstrem, tapi untuk menyadari bahwa tidak semua hal bisa—dan seharusnya—dipercepat.
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com).
Ilustrasi: Climbing towards wisdom and time., dibuat dengan AI


