Madilog dan Kritik Atas Logika Mistika

INTIinspira - Sebuah peristiwa imajiner ketika Tuan Tan Malaka duduk di warung kopi di Banda Aceh. Tiba-tiba, ia didatangi oleh pengemis yang masih sehat badannya dan lengkap anggota tubuhnya.

Si pengemis membawa kotak kardus yang ditempeli lakban. Dengan setengah memaksa, mendatangi orang per orang, meja per meja, menyodorkan kotak kardus dan meminta-minta.

Karena Tuan Tan jengah, ia bermaksud mengambil uang dua ribuan. Tapi beliau tersilap karena kebetulan diskusi dengan lawan bicara sedang asyik-serius.

Tanpa sengaja Tuan Tan menarik selembar uang sepuluh ribu dan memasukkannya ke kardus sang peminta.

Melihat jumlah uang yang diterima signifikan, si pengemis berdiri sejenak dan mulai berdo’a. “Semoga Allah memberimu kesehatan, dan balasan harta yang berlimpah.”

Tuan Tan terkejut mendengar do’a dan bertanya pada pengemis. “Mengapa kamu tidak berdoa saja untuk dirimu sendiri, supaya Allah memberimu harta yang cukup dan kamu tidak perlu meminta-minta lagi?”

Tuan Tan melanjutkan pertanyaannya. “Atau jangan-jangan kamu juga tidak percaya dengan doa dan lebih percaya pada pemberian langsung manusia?”

“Bahkan boleh jadi juga, kamu tidak percaya pada kemampuanmu sendiri dan tenagamu untuk bekerja menghasilkan uang? Sekilas tubuhmu terlihat masih sehat, lalu untuk apa sebenarnya kamu berdo’a?”

Dari dialog imajiner tersebut jelas, bahwa “Tuan Tan” ingin menguji pendekatan logika mistika yang diaktualkan oleh pengemis dengan meminta-minta. 

Tuan Tan dalam berbagai kesempatan cenderung kritis pada situasi tidak sehat seperti ini.

Dalam buku Madilog-nya yang terkenal, Tuan Tan bahkan meletakkan logika mistika, sebagai latar belakang mengapa ia menulis Madilog.

Menurutnya, tiga instrumen penting alam modern seperti materialisme, dialektika dan logika masih jauh dari praktik keseharian masyarakat Indonesia.

Saya tidak akan jauh mengupas perbandingan yang dilakukan oleh tuan Tan antara logika madilog dengan logika mistika yang beliau kritik di Madilog.

Saya juga tidak merinci perbandingan logika antara Dewa Rah dengan Law of Evolution, karena sepertinya Tuan Tan adalah pengagum nomor wahid bagi Teori Darwin.

Yang ingin saya highlight adalah kritikan keras bagi mereka yang mencampuradukkan dalil rasional dengan kepercayaan, simbol dan takhayul.

Logika mistika adalah lawan dari tiga alam pikir modern sekaligus. Ia menolak materialisme, menolak dialektika dan tentu saja menolak logika.

Karena jika materialitet meyakini bahwa ada struktur sosial yang memberi pengaruh bagi kondisi material manusia, maka penganut logika mistika menerimanya sebagai takdir semata.

Jika dialektika meyakini perubahan yang terjadi muncul dari konflik dan pertentangan (tesis, sintesis dan antitesis), maka logika mistika cenderung fatalistik, dan melihat semuanya sebagai takdir semata.

Dan jika logika melihat segala sesuatu sebagai hubungan sebab akibat yang jelas, dengan kesediaan untuk diuji; maka logika mistika melihat segala sesuatu dari hubungan-hubungan gaib atau ketokohan.

Pikiran kritis, pertanyaan dan penolakan, bagi penganut logika mistika adalah tabu dan tidak nyaman untuk diperdengarkan.

Menurut Tuan Tan, logika inilah yang membuat masyarakat sulit berkembang, dan mengejar ketertinggalan dari Eropa.

Dalam banyak kasus, sebagian aktor di ranah kepemimpinan, politik, ekonomi, militer, dan keagamaan tampak belum siap menempatkan kebijakan, sikap, dan cara berpikirnya di bawah uji kerangka kritis seperti Madilog (materialisme, dialektika, dan logika).

Tidak siap ditampakkan realitas pahit, tidak siap didebat dan juga tidak siap menerima kebenaran logis yang sifatnya universal.

Dalam keseharian masyarakat yang penuh takhayul, logika madilog tidak dapat bekerja dengan baik. 

Dia tahu, mangga itu bukan miliknya, tapi buahnya tetap diambil juga.

Dia tahu, subsidi bukan diperuntukan bagi orang mapan seperti dia, tapi diambil juga.

Dia tahu, dompet yang jatuh di jalan bukan miliknya tapi diembat juga.

Dia tau truk berguling, minyak goreng dan beras serta telur dalam truk itu bukan miliknya, tapi diambil juga.

Penganut kuat konsep “aji mumpung” dan “rezeki nomplok.” Sangat suka pada benda yang diperoleh dengan cara yang mudah dan tidak wajar.

Itu sebabnya pola pikir seperti ini dapat berkelindan dengan perilaku yang cenderung mengabaikan tanggung jawab etis dan rasional.

Untuk memilih pemimpin, penganut logika mistika tidak akan mampu berpikir jernih. Mereka berharap dapat diurus oleh pemimpin, tapi di bilik suara memilih dengan serampangan.

Biasanya, pengamal ajaran logika mistika akan memilih yang paling artis, atau yang  tampak paling religius.

Memilih mereka yang paling menghibur waktu kampanye, paling banyak janji muluk dan yang paling banyak memberi uang sogok.

Tuan Tan, sangat skeptis dengan situasi masyarakat pada masanya dan mungkin sampai pada masa kita juga.

Bagi Tuan Tan, masyarakat masih percaya pada takhayul, logika mistika, ramalan, keajaiban, adalah masyarakat yang tidak dapat beradaptasi dengan alam modern.

Logika mistika ini, dalam sejumlah praktik, kerap dimanfaatkan oleh sebagian aktor politik, ekonomi, kekuasaan, dan keagamaan untuk memengaruhi, bahkan membatasi, kemandirian berpikir masyarakat.

Istilah seperti “darah biru”, “ratu adil”, dan “keturunan Zulkarnain” kerap digunakan sebagai legitimasi simbolik oleh sebagian elit politik dan kaum ningrat, sekaligus membatasi ruang kritik publik terhadap kekuasaan mereka.

Beberapa frasa mistika yang akrab di telinga—seperti “nrimo ing pandum”, “wong cilik mung iso nrimo”, dan “wis rejekine wong kono”—kerap dimanfaatkan, dalam praktik tertentu, oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa untuk menundukkan mereka yang ditindas dan dirampas hak-haknya.

Begitupun istilah agama seperti tawakal, ridha, sabar dan Ikhlas yang seharusnya memiliki nilai luhur juga sering secara halus disalahgunakan untuk menyingkirkan penolakan buruh atas ketidakadilan upah.

Tuan Tan pernah menantang para pengusung asketisme teologis yang tidak konsisten.

Mereka yang menyeru untuk menjauhi dunia dan memperbanyak amal akhirat justru memperlihatkan prilaku yang berseberangan.

Kita dapat menjumpai sebagian figur publik keagamaan di media yang menampilkan gaya hidup mewah, bahkan berlebihan, sembari membingkainya sebagai manifestasi keberkahan—“min fadhli rabbihi”.

“Oknum,” meminjam frasa paling tidak bertanggung jawab, dalam beberapa kasus, figur-figur ini tampil mencolok, menunjukkan kedekatan dengan kekuasaan dan akses ekonomi, serta aktif dalam berbagai komunitas eksklusif.

Dan oknum yang sama, terkadang tidak malu menerima sedekah dari nenek tua penjual sirih, yang tinggal di gubuk reot.

Serta oknum yang sama pula, berlomba-lomba membangun jejaring dengan orang-orang kaya, memuji-muji mereka, berharap dapat remah-remahnya.

Oknum tidak akan pernah bertanya pada para penderma, “Ini uang darimana dan diperoleh dengan cara apa?” Selagi bergepok, akan ternuansa halal dengan sendirinya.

Bagi Tuan Tan, masyarakat yang gandrung dengan logika mistika itu umumnya religius.

Namun religiusitas yang dimaksud bukan kemurnian penghambaan pada Tuhan, tapi lebih kepada topeng dan kamuflase, untuk menutupi kemalasan dan sikap tidak mau bertanggungjawab.

Agama dipakai untuk jalan bersantai-santai, menutup diri dari sains dan berkhayal akan ada “ratu adil,” yang membereskan semua kekacauan yang mereka buat sendiri.

Oknum pengumbar logika mistika, sangat menikmati kapital agama dan relasi kuasa.

Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang membuka ruang terjadinya pelanggaran etik—pelecehan seksual, misalnya—di lingkungannya. 

Pertanyaannya, apakah dia tidak tahu ajaran agama hingga terjerumus pada perbuatan tercela? Jawabannya, dia tahu dan bahkan sangat tahu.

Tapi pengetahuan hanya sampai ke perut saja. Agama, bagi oknum, adalah kapital sosial meraih keuntungan sekaligus benteng yang menutupi segala bobrok-bobroknya. Dan ketika melakukan kesalahan, ia tidak berani bertanggungjawab.[]

Penulis: Ramli Cibro (Dosen STAIN Dirundeng Meulaboh dan Direktur Fanshur Institute)

Ilustrasi: A moment of reflection in mist, dibuat dengan AI



Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan