Dari Warkop ke Timur Tengah: Bagaimana Algoritma Membentuk Pemahaman Kita?

INTIinspira - Pagi itu saya berniat membeli beberapa bahan masakan di toko terdekat.

Tiba-tiba, di sudut warung kopi yang berdampingan dengan toko, saya melihat seorang teman lama duduk sendirian. 

Secangkir kopi—minuman wajib hariannya berada di hadapan. Begitu melihat saya lewat, segera dia melambaikan tangan “mampir dulu!” katanya.

Sudah hampir dua minggu kami tidak bertemu. Ia sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan sawit, dengan jam kerja padat yang hampir ngalah-ngalahin anggota dewan. 

Sementara saya sendiri—tak usah ditanya—disibukkan dengan pekerjaan rumahan yang tak berpenghasilan.

Saya pun mengalah pada ajakan itu. Belanja bisa ditunda, pikir saya. Kopi dan percakapan, seperti haba itu, terasa lebih mendesak.

Obrolan kami mengalir ringan, dari mulai basa-basi template (apa kabar? Sehat? Bla bla bla), cerita kejadian lucu, sampai mahalnya harga emas. 

Namun, percakapan itu tiba-tiba berubah arah ketika ia melempar pertanyaan, “Pas kali aku ingin diskusi tentang perang Iran dan Israel. Kamu dukung siapa?”

Saya menjawab singkat, “Saya mendukung Iran, karena saya tidak menemukan alasan untuk mendukung Israel.”

Dengan tatapan serius ia menjawab. “Loh, Iran kan Syiah,” katanya.

Saya pun balik bertanya, “Memangnya kenapa kalau Syiah?”

Dengan nada bicara yang kini lebih serius, ia mengatakan bahwa Syiah—yang ia asosiasikan dengan Iran—pernah membantai umat Sunni.

Ketika saya meminta penjelasan lebih spesifik—kapan dan di mana peristiwa itu terjadi—jawabannya buram. “Pokoknya dulu di Arab, orang Syiah Iran pernah membunuh orang kita,” ujarnya tanpa rincian yang jelas.

Percakapan ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih panjang. 

Saya mencoba menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai pertentangan mazhab semata.

Banyak faktor politik global yang ikut bermain, termasuk kepentingan negara-negara besar. 

Saya menyinggung bagaimana konflik seperti perang Iran-Irak tidak bisa dilepaskan dari pengaruh geopolitik, termasuk intervensi kekuatan asing dan propaganda yang membentuk opini publik.

Namun, yang menarik bagi saya bukan semata isi perdebatannya, melainkan bagaimana keyakinan semacam itu terbentuk.

Teman saya bukan akademisi, bukan pula pengamat politik. Ia adalah pekerja biasa seperti kebanyakan kita yang memperoleh informasi dari potongan-potangan di media sosial, terutama TikTok dan hal itu diakui olehnya.

Di sinilah saya mulai sedikit merenung—bukan bengong.

Hari ini, banyak di antara kita memahami isu-isu global bukan dari buku, hasil penelitian, atau diskusi mendalam dengan ahlinya, melainkan dari potongan-potongan video berdurasi singkat. TikTok, dengan algoritmanya, menyajikan konten yang instan, emosional, dan sering kali tidak utuh.

Informasi yang kompleks disederhanakan menjadi narasi hitam-putih: siapa benar, siapa salah; siapa yang harus didukung, siapa yang harus ditolak.

Akibatnya, ruang diskusi publik kita makin berubah. Percakapan yang seharusnya terbuka dan berbasis data kini bergeser menjadi pertukaran opini yang kaku, bahkan emosional.

Orang lebih mudah mempercayai narasi yang sering muncul di beranda mereka, tanpa sempat memverifikasi atau memahami konteks yang lebih luas. Dalam banyak kasus, sentimen pribadi ikut menguatkan apa yang sejak awal ingin kita percayai.

Pengalaman di warkop pagi itu bagi saya mengungkapkan bagaimana komunikasi digital membentuk cara kita berpikir, bersikap, bahkan menentukan posisi dalam isu global. 

Kita tidak lagi hanya berkomunikasi, tetapi juga telah dibentuk oleh arus informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi tentang kita berpihak ke siapa, tetapi bagaimana kita sampai pada pilihan itu.

Apakah ia lahir dari pemahaman yang utuh, atau sekadar hasil dari potongan-potongan informasi yang terus diulang hingga terasa benar?

Di tengah derasnya arus informasi seperti sekarang, keberanian untuk berpendapat saja tidak cukup lagi. Kita juga butuh jarak—untuk memeriksa, meragukan, dan jika perlu, mengoreksi apa yang sudah kita yakini.

Dengan kondisi dunia saat ini yang digempur media yang bising, kebenaran sering kali kalah oleh apa yang paling sering muncul di layar kita.

Kita merasa tahu banyak, padahal bisa jadi kita hanya tahu sedikit namun diulang berkali-kali.

Maka, sebelum menunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar, barangkali kita perlu bertanya dulu pada diri sendiri: apakah pikiran kita masih milik kita, atau perlahan sudah dibentuk oleh algoritma?

Mari kita renungkan bersama, di sudut kamar masing-masing.[]

Penulis: Wahyu Khairul Ichsan (Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, suka membaca jarang menulis, penulis dapat dihubungi melalui: wahyukhairulichsan@gmail.com).
Ilustrasi: Global conflict and digital transformation, dibuat dengan AI

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan