Membela Tuhan, Melupakan Cinta: Kritik John D. Caputo dalam Buku On Religion
INTIinspira - Bagaimana ketika berbicara mengenai agama, kita tidak sedang benar-benar membicarakan agama? Pertanyaan ini dimunculkan oleh John D. Caputo, ketika ia menulis buku yang berjudul On Religion tahun 2001.
Pertanyaan Caputo ini menjadi penting, mengingat sebagian besar agama hari ini telah berumur lebih dari 1000 tahun, dan tidak menutup kemungkinan telah terjadi bias dan tafsir yang melempar kita jauh dari tujuan dasar agama itu sendiri.
Agama yang kita bicarakan saat ini pun sering keluar (luput) dari spirit yang melatarbelakangi kemunculan agama, yaitu cinta.
Agama yang kita bicarakan saat ini pun sering keluar (luput) dari spirit yang melatarbelakangi kemunculan agama, yaitu cinta.
Seperti sebuah kutipan suci, “Barang siapa tidak mengasihi, berarti dia tidak mengenal Tuhannya,” maka sejatinya kehadiran dan diskursus agama harus terus menerus mempertahankan sang cinta.
Agama yang tidak menghadirkan cinta sebagai visi utamanya perlu ditinjau lagi secara kritis. Jika bukan karena cinta, karena apa lagi suatu agama dibangun dan dipertahankan?
Hari ini, kebanyakan agama hadir secara lebih formil, ia membatasi diri pada kredo, sangat teologis sekaligus institusional.
Hari ini, kebanyakan agama hadir secara lebih formil, ia membatasi diri pada kredo, sangat teologis sekaligus institusional.
Bahkan ada agama yang hadir dalam wujud negara, lengkap dengan modal kapital dan institusi militer yang luar biasa.
Kita tentu tidak bisa menyalahkan begitu saja ketika institusi agama beraktualisasi dalam aneka bentuk, termasuk negara.
Tapi kita juga perlu memikirkan secara lebih kritis, sejauh mana agama masih mempertahankan visi cinta di dalam dirinya.
Agama yang hari ini hadir justru lebih menonjolkan iman-teologis, dan iman-teologis biasanya memiliki prasyarat untuk menegasikan yang berbeda.
Agama yang hari ini hadir justru lebih menonjolkan iman-teologis, dan iman-teologis biasanya memiliki prasyarat untuk menegasikan yang berbeda.
Aktualitas iman kadang diukur dari seberapa besar keyakinan atas kebenaran yang diyakini dan seberapa yakin seseorang atas ketidakbenaran keyakinan orang lain yang berbeda dengannya.
Kebenaran agama terkadang didasarkan pada keyakinan kebenaran imani-teologis semata. Ia tidak boleh bias, tidak boleh ambigu, dan tidak boleh mengakui kemungkinan kebenaran di luar dirinya.
Kebenaran agama terkadang didasarkan pada keyakinan kebenaran imani-teologis semata. Ia tidak boleh bias, tidak boleh ambigu, dan tidak boleh mengakui kemungkinan kebenaran di luar dirinya.
Ambiguitas sering dilabeli dengan syirik atau zindiq. Agama tanpa ambiguitas harus tegas dan menegasi, yaitu menafikan segala yang berbeda dan menapaki satu lorong sempit yang disebut dengan Sang Maha Benar.
Seorang tidak mungkin beriman pada dua hal yang berseberangan, tapi apakah orang-orang beriman itu telah benar-benar membuktikan kebenaran imannya?
Agama dalam beberapa kesempatan justru hadir sebagai entitas yang diperbincangkan, diperdebatkan, diperankan sekaligus diperangkan.
Agama dalam beberapa kesempatan justru hadir sebagai entitas yang diperbincangkan, diperdebatkan, diperankan sekaligus diperangkan.
Agama hadir untuk mempercakapkan yang benar dan yang salah; yang selamat di akhirat dan yang akan celaka; yang terpetunjuki dan yang sesat.
Sementara komunitas-komunitas yang hidup dengan agama, semakin tersingkir dan terpuruk kehidupannya.
Survei Pew Research Center, The Global God Divide (2020), tidak secara langsung membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara religiusitas dan kualitas etika publik.
Survei Pew Research Center, The Global God Divide (2020), tidak secara langsung membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara religiusitas dan kualitas etika publik.
Namun, data tersebut cukup untuk menggugah asumsi bahwa tingginya religiusitas seharusnya sejalan dengan kualitas moral dan tata kelola sosial yang baik.
Kenyataan lapangan menyebutkan bahwa sebagian komunitas yang menjadikan agama sebagai kausa utama, hidup dengan perang tak berkesudahan; sebagian lagi digerogoti oleh korupsi yang menggila.
Kenyataan lapangan menyebutkan bahwa sebagian komunitas yang menjadikan agama sebagai kausa utama, hidup dengan perang tak berkesudahan; sebagian lagi digerogoti oleh korupsi yang menggila.
Sebagian komunitas yang memuja kesalehan pribadi, hidup dalam tembok eksklusivisme dan menjadi salah satu kerajaan bisnis kapitalistik dan sebagian lagi begitu mesra berbagi sumber daya dengan negara yang katanya jelas-jelas memusuhi agama.
Dalam banyak kasus, agama yang dipraktikkan manusia telah berlari menjauhi motivasi dasarnya yaitu cinta dan jalan keselamatan.
Dalam banyak kasus, agama yang dipraktikkan manusia telah berlari menjauhi motivasi dasarnya yaitu cinta dan jalan keselamatan.
Jika pada mulanya agama membawa spirit cinta, hari ini orang-orang berperang atas nama agama dengan perang yang tidak ternalar oleh kepala.
Sejarah juga mencatat bahwa banyak yang menjadikan agama sebatas kedok saja, untuk tujuan politik dan penguasaan atas materi, serta melegalkan penindasan atas nama perang suci.
Agama sebagai kredo personal mungkin tidak mengalami masalah apa-apa, tapi ketika ia berelasi dengan alam plural, atau ketika ia harus berdialog dengan agama yang berbeda maka kredo ketuhanan, kesamaan, kesetaraan dan kemanusiaan, akan menjadi sangat berbeda.
Agama sebagai kredo personal mungkin tidak mengalami masalah apa-apa, tapi ketika ia berelasi dengan alam plural, atau ketika ia harus berdialog dengan agama yang berbeda maka kredo ketuhanan, kesamaan, kesetaraan dan kemanusiaan, akan menjadi sangat berbeda.
Dalam interaksi keragaman, jika percaya pada hipotesis bahwa agama adalah jalan keselamatan, apakah kita dapat meyakini bahwa jalan kita akan membawa keselamatan bagi diri sendiri, dan jalan orang lain pun akan memberi keselamatan bagi dirinya. Atau bagaimana?
Di sinilah letak kebingungan saya sebagai seorang yang menginginkan kesalehan sekaligus melihat kebenaran faktual dengan mata telanjang.
Di sinilah letak kebingungan saya sebagai seorang yang menginginkan kesalehan sekaligus melihat kebenaran faktual dengan mata telanjang.
Klaim keselamatan eskatologis, telah menenggelamkan umat beragama dalam jurang pertikaian dan pertumpahan darah yang menyejarah.
Mungkin bukan berbicara mengenai agama lain, tapi saya menyadari bahwa praktik sebagian umat Islam hari ini masih jauh dari apa yang dibawa oleh Nabi selama seribu lima ratus tahun sebelumnya.
Mungkin bukan berbicara mengenai agama lain, tapi saya menyadari bahwa praktik sebagian umat Islam hari ini masih jauh dari apa yang dibawa oleh Nabi selama seribu lima ratus tahun sebelumnya.
Hari ini perbedaan tafsir begitu mudah jadi ancaman. Jangankan bersikap rahmah dengan yang berbeda, dengan yang seagama saja bisa saling bertikai dengan keras.
Lalu apakah ada solusi untuk Agama Cinta?
Di sinilah Caputo menawarkan solusinya. Walau bagi sebagian kita solusi Caputo terkesan sekuler dan tidak mengindahkan etika agama, tapi di sini coba dikemukakan beberapa solusi tersebut.
Pertama, sedikit menggeser agama sebagai dominasi gagasan ketuhanan menjadi pengalaman spiritual (dalam bahasa sufi disebut agama sebagai kehadiran).
Lalu apakah ada solusi untuk Agama Cinta?
Di sinilah Caputo menawarkan solusinya. Walau bagi sebagian kita solusi Caputo terkesan sekuler dan tidak mengindahkan etika agama, tapi di sini coba dikemukakan beberapa solusi tersebut.
Pertama, sedikit menggeser agama sebagai dominasi gagasan ketuhanan menjadi pengalaman spiritual (dalam bahasa sufi disebut agama sebagai kehadiran).
Beberapa fakta lapangan menunjukkan bahwa agama tidak selesai dengan hafalan teologi dan adu argumentasi semata. Ia justru hadir ketika hamba merasakan keberadaan, kehadiran-Nya, dalam setiap ruang, waktu dan dalam nafas cinta.
Kedua, menunda klaim atas keselamatan eskatologis.
Kedua, menunda klaim atas keselamatan eskatologis.
Caputo meminta untuk memindahkan fokus dari klaim keselamatan eskatologis ke aksi penyelamatan hari ini dan untuk saat ini.
Bagi Caputo, biar Tuhan yang menentukan siapa yang akan selamat di kemudian hari, tapi yang terpenting di hari ini, manusia harus berlomba-lomba menebar jalan selamat dan mendorong manusia lain untuk melakukan hal yang sama.
Sesama manusia harus saling membantu dan menguatkan walaupun mereka berbeda agama dan keyakinan.
Ketiga, meletakkan agama dalam logika harapan bukan kepastian.
Ketiga, meletakkan agama dalam logika harapan bukan kepastian.
Banyak orang memutlakkan pemahaman agama (dalam rangka menjaga iman) sehingga menutup ruang penerimaan bagi perbedaan.
Banyak doktrin dibakukan sehingga yang berbeda justru dianggap sebagai ancaman.
Klaim kebenaran dan ketakutan akan kekeliruan mudah memicu kekerasan dan pemaksaan, tapi agama yang dibangun dengan harapan, dapat menumbuhkan rasa cinta dan kemanusiaan.
Keempat, memindahkan tanggung jawab dari identitas ke personal.
Keempat, memindahkan tanggung jawab dari identitas ke personal.
Bahwa menjadi umat beragama bukan berarti melimpahkan tanggung jawab personal kepada institusi. Beragama tidak semata-mata berlindung di balik agama atau mazhab tertentu.
Beragama juga berarti tanggung jawab personal, manusia harus mempertanggungjawabkan tindakannya sebagai dirinya sendiri.
Menutupi hasrat pribadi (biasa bersifat materi dan politis) dengan jubah agama, artinya menyelewengkan agama dan menyalahgunakannya.
Kelima, agama tidak boleh menjadi alat dominasi, dipakai untuk menguasai orang atau entitas lain.
Kelima, agama tidak boleh menjadi alat dominasi, dipakai untuk menguasai orang atau entitas lain.
Agama bukan alat meminta, tapi alat untuk memberi. Ia harus menstimulus cinta, dan mengkampanyekan jalan keselamatan. Agama tidak boleh lagi berdiri di atas menara altar, tapi harus turun, menyapa kelompok tertindas.
Memapah kaum lemah, dan menjadi cahaya penyelamat bagi umat manusia yang terkatung-katung di antara kemiskinan sistemik dan ancaman eskatologis nan mencekik.[]
Penulis: Ramli Cibro (Dosen STAIN Dirundeng Meulaboh dan Direktur Fanshur Institute)
Foto: Ramli M.Ag _ Direktur Fanshur Institute


