Benarkah Manusia Itu Baik? Membaca Ulang Tesis Rutger Bregman dalam Humankind


INTIinspira - Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa pada dasarnya manusia itu baik.

Setidaknya karena dua petunjuk teologis, yaitu pertanyaan malaikat ketika Tuhan berencana hendak menciptakan manusia.

Malaikat dengan hati-hati memperingatkan, “Apakah Engkau (Wahai Tuhan) akan menciptakan manusia yang potensial membuat kekacauan di muka bumi dan saling menumpahkan darah?”

Petunjuk selanjutnya adalah informasi, “Telah nyata kerusakan di langit dan di bumi disebabkan oleh ulah tangan manusia.”

Dan ada banyak informasi lain yang secara teologis mencitrakan dasar alamiah dan kecenderungan manusia itu, ya merusak. Tidak baik. Pandangan demikian juga terkonfirmasi dengan pengalaman pribadi saya.

Sangat sulit menjadi baik, sama seperti sangat sulit meyakinkan diri bahwa kita akan selamat dari neraka. Coba bayangkan? Ketika kita melakukan dosa, maka dosanya pasti akan tercatat tanpa ragu (noted, clear).

Sedangkan ketika kita melakukan kebaikan? Belum tentu kebaikan yang dilakukan, secara mantap dicatat oleh malaikat semantap mereka mencatat perbuatan dosa.

Sebagian besar berbuatan baik tertolak karena banyak sebab. Ada kalanya tidak jadi dicatat karena dianggap niatnya salah atau dibumbui—walaupun sedikit—kepentingan duniawi.

Khusus untuk ibadah, juga terkadang tidak tercatat (rejected) karena tanpa sengaja kita kurang hati-hati dalam melakukannya sehingga—tanpa kita juga tahu—ibadah tersebut dinyatakan batal atau tidak sah. Agama menyebutnya ibadah yang sia-sia.

Rumus yang dapat disimpulkan dan sering membuat orang berputus asa dalam kebaikan agama adalah dosa itu pasti, pahala belum tentu.

Dalam pergaulan, saya juga punya pengalaman sering ditipu, dimanipulasi, diintimidasi, disewenang-wenangi oleh orang-orang yang terkadang secara kasat mata nampak religius, layak ditiru perbuatannya dan digugu kata-katanya.

Dan dalam kehidupan pribadi, sikap dan tindakan saya sendiri juga belum bisa dikategorikan sebagai sikap dan tindakan manusia yang baik, padahal saya sudah berusaha untuk mencapainya.

Kita kembali ke pertanyaan di judul, “Benarkah, manusia itu - pada dasarnya - baik?” Jika melihat ke televisi (sekarang sosial media) akan nampak di sana informasi mengenai masyarakat bermental maling.

Pendidik dan agamawan yang terlibat skandal kejahatan, artis yang hanya menjadikan agama sebagai make up tapi praktik sehari-hari seperti tidak pernah dibasuh agama.

Aparat penegak hukum yang memperalat hukum, atau pemerintah yang hanya mengurusi kekuasaan, dan politisi yang hanya berpesta. Hampir semua orang, dalam berita-berita tersebut, diberitakan berperilaku korup, tidak baik.

Pada pengalaman beberapa waktu lalu di akhir tahun 2025, ketika bencana banjir, mati lampu dan akses internet putus di beberapa wilayah di Aceh, saya menemukan pengalaman yang semakin mendukung gagasan bahwa memang manusia itu dasarnya tidak baik.

Gas dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi langka dengan harga yang tidak masuk akal, dan orang-orang memilih untuk menimbun dan menjual mahal.

Di beberapa tempat, supermarket dan gudang bahan makanan dijarah, relawan dipalak, pencurian dan berebut bantuan serta banyak insting naluriah manusia sebagai makhluk agresif muncul.

Saya agak lupa, bahwa di situasi demikian, rumah saya aman-aman saja. Warung-warung kopi rela mengeluarkan genset supaya orang-orang dapat mengisi daya lampu, laptop, hape dan alat elektronik lainnya.

Saya juga lupa bahwa sumur-sumur tetangga dibuka, dan siapa pun boleh ambil air sebanyak apa pun yang dia mau.

Saya agak lupa bahwa kami tetap bisa membeli beras, gas pada akhirnya juga tetap ada walaupun harganya sedikit mahal.

Dan orang-orang lebih suka antri di SPBU daripada membeli di tempat lain membuat harga BBM dengan cepat menjadi stabil.

Pemerintah juga mengirim minyak dan gas lebih banyak dari biasanya guna memastikan penimbun kehabisan cara dan harga di tingkat eceran juga ikut stabil.

Tapi saya masih pada kesimpulan, bahwa dasar manusia itu tetaplah tidak baik.

Hingga saya membaca buku yang berjudul, ”Human Kind; A Hopeful History” karya Rutger Bregman. Artinya kira-kira, “Kebaikan Manusia; Sebuah Kisah Penuh Harapan.”

Saya membaca versi terjemahan buku ini yang diterbitkan oleh Gramedia. Dan saya menuntaskan tulisan ini dari hasil bacaan sampai bab ketiga saja.

Bregman ingin mengatakan, “Bahwa pada dasarnya, sebagian besar manusia, itu baik.” Sebuah kepercayaan yang berseberangan dengan pendapat teologi maupun politik dan pendapat saya pribadi.

Filsafat pada kenyataannya juga memperluas pandangan ini. Hobbes dan Rousseau sama-sama menunjukkan insting buas dari manusia sehingga mereka memerlukan rekayasa untuk dapat hidup bersama-sama tanpa bersinggungan, walau jelas mereka tetap akan berbenturan.

Darwin yang hadir dengan teori evolusi juga memamerkan sifat manusia yang agresif, ingin menang sendiri dan ingin menguasai lainnya. Darwin menyebutnya insting untuk bertahan hidup (survival of the fittest).

Bregman tidak serta merta menolak, bahwa sebagian besar dari kita sudah terlanjur percaya pada pandangan tentang manusia yang secara instingtif cenderung tidak baik.

Namun, ia juga mencoba untuk membuat argumen bahwa kesimpulan ini lebih diakibatkan oleh berita atau informasi yang lebih banyak menyoroti peristiwa kejahatan daripada peristiwa kebaikan.

Bregman rupanya sampai pada hipotesis bahwa yang membuat manusia itu terlihat buruk adalah berita dan sistem. Oke, ga apa-apa.

Baginya, bahkan dalam situasi perang, kebaikan mudah ditemukan. Misalnya, orang mungkin akan menangisi kematian atau mengalami kehilangan hebat. Tapi setelah itu, mereka akan kembali menjalankan kehidupan yang normal.

Ia menggambarkan humor perang dunia ke II ketika Inggris diserang oleh Jerman, ketika anak-anak bermain dan orang-orang di pasar tetap melakukan tawar menawar sesaat setelah alarm peringatan bom dibunyikan.

Atau kedai kopi yang kembali buka setelah sebagian dindingnya berlubang dihantam rudal lalu memberi iklan, “Hari ini kami lebih terbuka dari sebelumnya.” Atau iklan humor “Jendela kami memang rusak, tapi kue disini sangat enak.” Dan iklan humor lainnya, “Mentega perang, dijual disini!”

Anehnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekonomi meningkat ketika perang dan kesehatan mental juga stabil dimasa perang, di mana hampir tidak ada kasus orang bunuh diri.

Pernyataan ini tentu bukan dimaksudkan bahwa situasi perang lebih baik daripada situasi damai, tapi lebih kepada fakta bahwa manusia dapat menstabilkan diri dan mempertahankan kebaikan bahkan disituasi perang sekalipun. Kira-kira begitulah kesimpulan Bregman.

Bregman memperkuat teorinya tentang kebaikan manusia (humankind) dengan mengajukan kisah sekelompok anak muda yang terjebak di sebuah pulau.

Secara teori, mungkin anak-anak muda itu tidak akan dapat bekerja sama, tidak saling peduli satu sama lain, lalu mereka saling menyerang dan akhirnya sedikit yang bisa selamat. Tapi fakta menunjukkan cerita sebaliknya.

Anak-anak itu bertumbuh dalam satu komunitas yang saling bahu membahu, bertanggungjawab atas keberlangsungan hidup anggota tim, membagi tugas serta serta membuat aturan bersama yang memastikan ketahanan bersama-sama sampai ada yang menemukan dan membawa mereka kembali pulang

Dasar dari manusia adalah bekerjasama…

Bregman meyakini bahwa akar dari kebaikan adalah tabiat manusia untuk selalu bersama-sama dan bekerja sama.

Ia mengatakan bahwa leluhur kita dulunya adalah orang-orang yang bekerja sama, dan tidak berpikir bahwa satu lebih unggul dari yang lain (Apa iya?).

Pada masa itu, tidak ada kekayaan individu kecuali kekayaan kelompok. Tidak ada kompetisi yang ada hanya orang-orang yang memainkan peran masing-masing sesuai pembagian tugas dari kepala suku.

Dorongan kehidupan pada masa sekarang juga telah menyerukan bahwa kolaborasi lebih penting daripada kompetisi (Apa iya?).

Para pengumpul dari dataran terdingin hingga gurun pasir terpanas, memposisikan diri sebagai bagian dari suatu yang besar, entah itu suku, hubungan dengan hewan dan tumbuhan serta cara mereka melihat alam sekitar serta pandangan agama kuno yang memposisikan bumi sebagai ibu.

Manusia, sejak lahir hanya akan bertahan jika berada dalam satu komunitas, bersama dengan yang lain. “Kesendirian bagi manusia dapat memicu frustasi, hingga orang-orang memelihara hewan peliharaan untuk mengobati depresi. Manusia menginginkan kebersamaan dan jiwa menghendaki hubungan seperti tubuh menghendaki makanan dan dengan cara itu, manusia dapat sampai ke bulan.“ Itu Kata Bregman.

Dan saya harus menuntaskan lagi beberapa bab setelahnya, untuk mungkin dapat setuju dengan pendapat Bregman. Atau saya tetap pada kesimpulan awal bahwa manusia pada dasarnya memang tidak baik. []

Penulis: Ramli Cibro (Dosen STAIN Dirundeng Meulaboh dan Direktur Fanshur Institute)
Foto: Ramli M.Ag _ Direktur Fanshur Institute
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan