Bagaimana Kita Mengapresiasi Pikiran Manusia?

INTIinspira - Kita sepertinya apes ya. Hidup di satu negeri yang tidak lagi mengapresiasi pikiran-pikiran kritis nan kreatif, melainkan condong ke nuansa teologis yang sudah tentu mistis, diperkuat oleh pola pikir komunal yang seragam dan bergerombol, serta kental kepentingan politis.

Tidak punya pikiran bebas atau tidak menerima pikiran berbeda menjadikan kita kehilangan tameng kedaulatan. 

Kedaulatan yang dibangun dari pendidikan dan kajian, telah disindir sebagai program boros yang satu-satunya alasan masih dipertahankan karena keperluan etis.

Di negeri ini, narasi dikontrol secara ketat. Suara-suara berbeda menjadi sangat tabu, bukan saja dalam hubungan antara pemerintah dengan rakyat, tapi juga dalam hubungan komunitas.

Di mana suara individu sering terdengar sumbang jika berbeda dengan pandangan mayoritas. 

Dalam kasus lain, suara anak, akan terdengar membangkang ketika berbeda dengan orang tua; suara orang miskin akan terdengar memberontak ketika berbeda dari orang kaya; dan suara rakyat jelata akan terdengar zindiq-fasiq ketika berbeda dari garis-garis yang difatwakan oleh ulama.

“Tidak tau bersyukur! Tidak berterima kasih! Pembangkang! Nakal! Bawel! Sok Tau!” adalah sedikit dari stigma yang dilontarkan ketika tidak siap menghadapi kritikan.

Adalah peristiwa harian ketika suara dibungkam, buku disita, pikiran dibakar, rekomendasi akademisi diabaikan, karena dianggap sebagai penghalang jalan yang wajib disingkirkan.

Kita nyaris hidup di negeri di mana anak-anak tidak dididik untuk bertanya, lebih banyak orang yang dipenjara karena penyuarakan pikiran yang berbeda. 

Kita hidup di Gua Plato, yang telah memakan korban jiwa. Bukan satu, tapi tiga korban.

Korban pertama adalah mereka yang masih terikat di dalam gua dan berusaha melepas tali lalu dia dibunuh. Menurut teman-temannya, gerakannya terlalu mencolok, kontras dan berisik sehingga menganggu kenyamanan tidur.

Korban kedua adalah orang yang berhasil lepas dan mencapai mulut gua. Tapi sebelum ia sempat keluar, dengan sangat tiba-tiba sebuah batu dilempar dari dalam dan mengenai kepalanya. Korban kedua tewas seketika.

Korban ketiga, adalah mereka yang berhasil pergi keluar, lalu menemukan bahwa dunia luar sangat berbeda dengan apa yang diyakini oleh orang-orang di dalam gua. Ia kembali ke gua untuk mengabarkan kebenaran yang diketahui sebari mengajak orang-orang gua untuk keluar dan menikmati kebenaran.

Bukannya gembira, penduduk gua malah membunuhnya. Ilmuan dituduh mengarang-ngarang cerita, dan tidak diberi kesempatan cukup untuk menjelaskann hasil temuannya. Takut mengganggu struktur kekuasaan yang mungkin sudah terbentuk di antara orang-orang yang terikat di gua.

Jika bercermin pada situasi terakhir ini, korban pertama dari gua Plato, adalah anak muda yang berdemo menyuarakan aspirasi lalu dihadapi dengan represi. Pasca ratusan orang ditangkap dan menjalani proses peradilan yang panjang dan menguras sumber daya, satu persatu orang-orang mundur, mulai tidak berani bersuara.

Korban kedua di gua Plato adalah mereka yang menyadari tanda bahaya lalu mengajak lari ke luar negeri melalui tagar #kaburajadulu dan ditanggapi dengan respon sinis menyakiti hati dari para juru bicara istana.

Dan korban ketiga adalah mereka yang sudah sempat ke luar negeri, lalu mengupayakan pindah kewarganegaraan atau mengupayakan anaknya berwarganegara selain Indonesia, dilacak jejak digitalnya dan digugat ramai-ramai.

Memang kita ya. Di hadapan yang bukan siapa-siapa, caci maki mendengung lebah. Tapi dihadapan korupsi dan kebijakan mega-mubazir, kita tidak berani bersuara. Di hadapan pendosa kecil kita galak ga ketulungan bahkan main bakar-bakaran, tapi di depan bandar dan koruptor, kita manut menutup mata.

Di ruang pendidikan, anak-anak lebih dilatih untuk nurut daripada berfikir bebas dan kritis. Mereka yang berbeda dianggap membangkang, abnormal, patologis, menganggu dan aneh-aneh.

Dalam narasi Gua Plato, korban pertama yang ribut gelisah karena ingin keluar, dapat nilai C; Korban yang mencoba keluar dari pintu dapat nilai D; dan orang yang kemudian kembali ke kelas dan memprovokasi temannya supaya berfikir bebas akan mendapat nilai E.

Yang dapat nilai C disebut tidak nurut, yang dapat nilai D adalah pembangkang bangsat dan yang dapat nilai D adalah pemberontak berbahaya.

Dan sebenarnya, represi atas yang berbeda dan keengganan pada kebebasan berpikir bukan saja terjadi di Indonesia. Banyak pemikir di negeri-negeri Asia, mungkin juga Afrika, yang diusir dari tanah air atau dibunuh, karena menyuarakan pemikiran yang kritis dan berbeda.

Dan bagi kekuasaan, suara berbeda adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Mengganggu, dan tidak nyaman. Pikiran kritis dan berbeda, juga bisa meruntuhkan legitimasi kekuasaan, menjadi ancaman.

Dan dari sana, pertanyaan kembali dimunculkan. "Bagaimana kita mengapresiasi pikiran manusia?"

Sebuah Video Podcast berjudul Prof. Al Makin: Kerangka Adam Dan Hawa Tidak Mungkin Ditemukan Secara Biologis, menampilkan wawancara dengan Profesor Al Makin, Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Acara yang dipandu Direktur Mojok, Puthut EA itu menjadi semacam bedah dari isi buku terbarunya yang terbit 2025 berjudul, “Dari Athena Sampai Nusantara; Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama dan Kekuasaaan.”

Menurut Al Makin, bangsa Nusantara di masa lalu memiliki pikiran-pikiran cemerlang, hanya saja kita kurang mengapresiasi dan membacanya.

Bahkan para pendiri bangsa juga merupakan pembaca aktif, di mana pikiran-pikiran yang mereka produksi juga sangat bagus namun kurang mendapat apresiasi dari masyarakat.

Untuk menghasilkan pemikiran tersebut, mereka membaca, berdiskusi, berdebat dan saling adu gagasan. 

Dan gagasan yang ditinggalkan benar-benar tinggal di atas kertas, karena pembangunan Indonesia hanya didasari oleh syahwat kekuasaan semata.

Al Makin menyebut dua kendala mengapa kita tidak mampu mengapresiasi pikiran dengan baik.

Pertama, karena aspek teologi. Kita terlalu disandera oleh keberagamaan sehingga takut untuk mempertanyakan hal-hal keseharian yang sebenarnya layak dipertanyakan. 

Ketakutan teologis membuat kita takut mempertanyakan hal-hal mendasar. Bahkan untuk bertanya halal dan haram saja kita tidak berani.

Kedua, kekuasaan dengan ragam jenisnya. Kekuasaan yang kita pahami bukan semata kekuasaan politik atau militer. Kekuasaan yang mencengkram bisa tumbuh dari relasi mana saja.

Kekuasaan seorang suami membuat istri enggan berbeda. Kekuasaan orang tua membuat anak takut mengemukakan pendapatnya.

Kekuasaan pemimpin membuat bawahan takut memberi kritik dan masukan. Kekuasaan ulama membuat umatnya hanya menerima tanpa mempertanyakan ulang pikiran dan praktik ulamanya.

Kekuasaan seorang kekasih, membuat kekasihnya bertekuk lutut, tanpa protes-tanpa tanya. Kekuasaan seorang tuan, membuat pembantu hanya diam tak berkata. 

Karakter pemimpin Indonesia dan umumnya bangsa-bangsa Timur (Asia dan Afrika) tidak siap dengan perbedaan pendapat, sehingga para pemimpin justru merasa terancam dengan kehadiran pikiran-pikiran kritis.

Padahal kata Al Makin, di Eropa, sangat biasa seorang pemimpin dikritik dengan keras. Mereka akan dengan leluasa mengundurkan diri ketika ia menganggap kinerjanya tidak sesuai.

Bahkan di Swiss, orang kesulitan menyebut siapa presidennya karena hampir tiap tahun berganti. Hal ini sangat berbeda dengan sikap mental para pemimpin negeri Timur yang sangat berhasrat pada kekuasaan.

Dan pertanyaan "Bagaimana kita mengapresiasi pikiran manusia?” membawa kepada dua ambiguitas.

Pertama, bagaimana kita telah mengapresiasi pikiran manusia? Jawabannya, sebagai bangsa Timur kita memang kurang mengapresiasi pikiran manusia.

Lebih miris lagi, manusia Timur (pasca kolonialisme akut) kurang memberi kesempatan untuk berpikir bebas sehingga pikiran-pikiran produktif sulit untuk berkembang.

Kedua, Bagaimana kita seharusnya mengapresiasi pikiran manusia? Adalah memberi ruang luas kepada perbedaan pendapat dan pikiran. Kita juga memberi ruang kepada kritik karena dengan kritik suatu pikiran dapat berkembang dan pengetahuan juga ikut berkembang.

Ada masanya, pikiran-pikiran bebas, terbuka dan diperdebatkan. Dengannya, Republik Indonesia diimajinasikan, dirancang dan dirumuskan.

Pikiran yang mengalami proses kritik, akan lebih mampu bertahan dari perubahan zaman. 

Bagaimana ideologi Pancasila tetap aktual dalam rentang waktu yang cukup lama, karena ia lahir dari iklim kebebasan berpikir, dan ruang kritik yang terbuka.

Sikap mengapresiasi pikiran, harus ditumbuhkan dari sejak bangku kelas menengah. Dimulai dari pembelajaran filsafat, logika, politik dan seni. 

Takaran keberhasilan mengajar seorang sangat ditentukan oleh keberanian murid untuk mengajukan pertanyaan.

Dan bertanya mengenai hal keseharian adalah kunci untuk mencapai gerbang pengetahuan.

Penulis: Ramli Cibro (Dosen STAIN Dirundeng Meulaboh dan Direktur Fanshur Institute)
Foto: Ramli M.Ag _ Direktur Fanshur Institute

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan