Tak Pernah Kupinjam Mata untuk Menatap Dunia: Belajar dari Iqbal
INTIinspira - Iqbal begitu perhatian pada individu. Bisa dikatakan, jantung filsafatnya berdenyut pada gagasannya tentang khudi—yang ia pahami sebagai ego atau kedirian.
Namun ego dalam pengertian Iqbal bukanlah ego dalam arti psikoanalisis Freud, dan jelas pula bukan egoisme atau individualisme ala Barat.
Khudi adalah kesadaran diri yang aktif, kreatif, dan bertanggung jawab; pusat spiritual yang membuat manusia mampu menegaskan eksistensinya, memilih sikapnya, dan membentuk dunianya.
Bingungkan? Saya juga. Gini aja—bayangkan dua siswa yang sama-sama pintar.
Yang pertama pintar, tapi hanya ikut-ikutan. Ia belajar karena takut nilai jelek, memilih jurusan karena tekanan orang tua, dan diam ketika melihat ketidakadilan.
Ia punya kemampuan, tapi tidak benar-benar “hadir” sebagai diri.
Yang kedua juga pintar. Tapi ia belajar karena sadar itu penting bagi masa depannya. Ia berani berbeda pendapat dengan sopan.
Ia memilih jalan hidup dengan pertimbangan matang, bukan sekadar ikut-ikutan. Ia tahu risikonya, dan tetap bertanggung jawab.
Nah, yang kedua itu lebih mendekati khudi.
Jadi, khudi itu dapat dimengerti sebagai kesadaran untuk menjadi diri yang utuh—yang berpikir, memilih, dan bertindak dengan sadar.
Nah, sekarang coba kita cari tahu mengapa Iqbal begitu peduli pada kedirian atau khudi? Pertanyaan ini jelas lebih bermakna ketimbang pertanyaan: mengapa anda begitu peduli pada lingkungan?
Kita tidak perlu memperpanjang persoalan dari pertanyaan kedua itu, karena jelas tanpa peduli lingkungan kita akan jadi korban banjir, rumah dibawa arus, dan juga tidak cukup waktu untuk membuat kapal Nabi Nuh.
Sekarang mari kita fokus ke jawaban dari pertanyaan pertama itu.
Bagi Iqbal, khudi merupakan inti eksistensi manusia. Di sanalah terletak kemampuan untuk memilih, bertanggung jawab, dan membentuk arah hidupnya.
Nah, yang kedua itu lebih mendekati khudi.
Jadi, khudi itu dapat dimengerti sebagai kesadaran untuk menjadi diri yang utuh—yang berpikir, memilih, dan bertindak dengan sadar.
Nah, sekarang coba kita cari tahu mengapa Iqbal begitu peduli pada kedirian atau khudi? Pertanyaan ini jelas lebih bermakna ketimbang pertanyaan: mengapa anda begitu peduli pada lingkungan?
Kita tidak perlu memperpanjang persoalan dari pertanyaan kedua itu, karena jelas tanpa peduli lingkungan kita akan jadi korban banjir, rumah dibawa arus, dan juga tidak cukup waktu untuk membuat kapal Nabi Nuh.
Sekarang mari kita fokus ke jawaban dari pertanyaan pertama itu.
Bagi Iqbal, khudi merupakan inti eksistensi manusia. Di sanalah terletak kemampuan untuk memilih, bertanggung jawab, dan membentuk arah hidupnya.
Semakin kuat khudi seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk mengaktualisasikan seluruh potensi yang ia miliki.
Sebagai pusat kesadaran, khudi mampu membuat manusia berkata: “Inilah pilihanku, dan aku bertanggung jawab atasnya.” Dari sini kita bisa melihat perbedaan yang cukup jelas antara khudi yang kuat dan yang lemah.
Khudi yang lemah tampak pada diri yang mudah hanyut. Ia hidup lebih banyak digerakkan oleh tekanan luar daripada kesadaran batin. Keputusan diambil karena takut dinilai buruk, karena ingin diterima, atau sekadar karena semua orang melakukannya.
Orang dengan khudi yang lemah bisa saja cerdas dan berbakat, tetapi ia tidak sungguh-sungguh berdiri sebagai tuan atas hidupnya sendiri.
Sebaliknya, khudi yang kuat menghadirkan pribadi yang sadar arah. Ia tahu bahwa hidup adalah rangkaian pilihan, dan setiap pilihan mengandung risiko. Karena itu ia berani berpikir sendiri, sekaligus siap menanggung konsekuensinya.
Ia tidak mudah goyah oleh pujian, dan tidak runtuh oleh kritik. Ia bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan hormat pada orang lain.
Sebagai pusat kesadaran, khudi mampu membuat manusia berkata: “Inilah pilihanku, dan aku bertanggung jawab atasnya.” Dari sini kita bisa melihat perbedaan yang cukup jelas antara khudi yang kuat dan yang lemah.
Khudi yang lemah tampak pada diri yang mudah hanyut. Ia hidup lebih banyak digerakkan oleh tekanan luar daripada kesadaran batin. Keputusan diambil karena takut dinilai buruk, karena ingin diterima, atau sekadar karena semua orang melakukannya.
Orang dengan khudi yang lemah bisa saja cerdas dan berbakat, tetapi ia tidak sungguh-sungguh berdiri sebagai tuan atas hidupnya sendiri.
Sebaliknya, khudi yang kuat menghadirkan pribadi yang sadar arah. Ia tahu bahwa hidup adalah rangkaian pilihan, dan setiap pilihan mengandung risiko. Karena itu ia berani berpikir sendiri, sekaligus siap menanggung konsekuensinya.
Ia tidak mudah goyah oleh pujian, dan tidak runtuh oleh kritik. Ia bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan hormat pada orang lain.
Keberaniannya bukan produk kesombongan, melainkan kesadaran bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral atas hidupnya.
Dalam kerangka Iqbal, kekuatan khudi menentukan kualitas keberadaan manusia.
Dalam kerangka Iqbal, kekuatan khudi menentukan kualitas keberadaan manusia.
Semakin kuat khudi, semakin besar kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi, mengatasi ketakutan, dan membentuk dunianya secara aktif.
Manusia tidak lagi sekadar produk lingkungan, melainkan pelaku yang turut menentukan arah hidupnya.
Jika ditarik ke konteks sosial zamannya, perhatian Iqbal terhadap khudi tidak lahir di ruang hampa. Ia hidup dalam situasi India yang berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris.
Dalam suasana seperti itu, bukan hanya wilayah yang dijajah, tetapi juga mentalitas masyarakatnya.
Banyak orang terjebak dalam rasa rendah diri. Segala sesuatu yang datang dari Barat dianggap lebih maju, lebih modern, lebih layak ditiru.
Jika ditarik ke konteks sosial zamannya, perhatian Iqbal terhadap khudi tidak lahir di ruang hampa. Ia hidup dalam situasi India yang berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris.
Dalam suasana seperti itu, bukan hanya wilayah yang dijajah, tetapi juga mentalitas masyarakatnya.
Banyak orang terjebak dalam rasa rendah diri. Segala sesuatu yang datang dari Barat dianggap lebih maju, lebih modern, lebih layak ditiru.
Sementara yang berasal dari diri sendiri, dari tradisi sendiri, dipandang kolot dan kurang berharga.
Dari kenyataan itu Iqbal sadar bahwa penjajahan yang paling berbahaya adalah penjajahan mental.
Dari kenyataan itu Iqbal sadar bahwa penjajahan yang paling berbahaya adalah penjajahan mental.
Ketika suatu bangsa kehilangan kepercayaan diri, ia akan terus bergantung pada orang lain—bukan hanya dalam teknologi atau ekonomi, tetapi juga dalam cara berpikir dan menilai dirinya sendiri.
Karena itu, seruan Iqbal tentang khudi dapat dibaca sebagai upaya membangunkan harga diri kolektif. Ia menolak sikap mental yang selalu meminjam ukuran dari luar. Salah satu madah paling terkenal tentang ini ditulis Iqbal:
Tak pernah aku membajak pandangan orang. Tak pernah kupinjam mata tuk menatap dunia!
Dalam bait lain ia menegaskan:
Karena itu, seruan Iqbal tentang khudi dapat dibaca sebagai upaya membangunkan harga diri kolektif. Ia menolak sikap mental yang selalu meminjam ukuran dari luar. Salah satu madah paling terkenal tentang ini ditulis Iqbal:
Tak pernah aku membajak pandangan orang. Tak pernah kupinjam mata tuk menatap dunia!
Dalam bait lain ia menegaskan:
Jangan kau gadaikan dirimu,
Ke berbagai pabrik gelas di belahan Barat!
Buatlah sendiri cawan dan kendimu
Walau hanya dari tanah liat!
Ungkapan-ungkapan itu bukan ajakan untuk menutup diri dari dunia atau menolak kemajuan.
Ke berbagai pabrik gelas di belahan Barat!
Buatlah sendiri cawan dan kendimu
Walau hanya dari tanah liat!
Ungkapan-ungkapan itu bukan ajakan untuk menutup diri dari dunia atau menolak kemajuan.
Yang ia tolak adalah ketergantungan mental dan sikap inferior yang membuat seseorang kehilangan pusat dirinya.
Bagi Iqbal, manusia—dan juga sebuah bangsa—harus memiliki sumber kekuatan dari dalam, agar mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri.
Sampai di sini, kiranya kita sudah mulai melihat mengapa Iqbal begitu peduli pada khudi.
Bagi Iqbal, manusia—dan juga sebuah bangsa—harus memiliki sumber kekuatan dari dalam, agar mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri.
Sampai di sini, kiranya kita sudah mulai melihat mengapa Iqbal begitu peduli pada khudi.
Lalu pertanyaannya: apakah seruan itu masih relevan bagi kita hari ini? Jawabannya justru semakin relevan.
Kita memang tidak lagi hidup dalam penjajahan kolonial seperti yang dialami kakek nenek kita dulu. Namun bentuk ketergantungan mental tidak serta-merta hilang.
Hari ini, ukuran “keren”, “maju”, dan “berhasil” sering kali tetap ditentukan oleh standar luar—oleh tren global, algoritma medsos, standar TikTok atau validasi publik.
Kita memang tidak lagi hidup dalam penjajahan kolonial seperti yang dialami kakek nenek kita dulu. Namun bentuk ketergantungan mental tidak serta-merta hilang.
Hari ini, ukuran “keren”, “maju”, dan “berhasil” sering kali tetap ditentukan oleh standar luar—oleh tren global, algoritma medsos, standar TikTok atau validasi publik.
Kita mudah merasa tertinggal hanya karena tidak mengikuti arus yang sedang populer.
Dalam situasi semacam ini, khudi menemukan konteks barunya. Khudi menjadi spirit untuk menggungah orang supaya tidak kehilangan pusat diri di tengah derasnya arus informasi dan budaya.
Tanpa khudi yang kuat, seseorang mudah terombang-ambing oleh opini publik, mudah cemas oleh pencapaian orang lain, dan mudah mengukur harga dirinya dari jumlah “like” dan pengakuan.
Sebaliknya, dengan khudi yang kokoh, seseorang tetap terbuka pada dunia, tetapi tidak larut di dalamnya.
Ia belajar dari mana saja, termasuk dari Barat, tetapi tidak merasa perlu menjadi bayangan orang lain. Ia bisa modern tanpa tercerabut dari akar. Ia bisa bersaing tanpa kehilangan jati diri.[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com).
Dalam situasi semacam ini, khudi menemukan konteks barunya. Khudi menjadi spirit untuk menggungah orang supaya tidak kehilangan pusat diri di tengah derasnya arus informasi dan budaya.
Tanpa khudi yang kuat, seseorang mudah terombang-ambing oleh opini publik, mudah cemas oleh pencapaian orang lain, dan mudah mengukur harga dirinya dari jumlah “like” dan pengakuan.
Sebaliknya, dengan khudi yang kokoh, seseorang tetap terbuka pada dunia, tetapi tidak larut di dalamnya.
Ia belajar dari mana saja, termasuk dari Barat, tetapi tidak merasa perlu menjadi bayangan orang lain. Ia bisa modern tanpa tercerabut dari akar. Ia bisa bersaing tanpa kehilangan jati diri.[]
Penulis: Arizul Suwar (Dosen STAI Darul Hikmah Aceh Barat, pegiat literasi, serta aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, dan kemanusiaan, penulis dapat dihubungi melalui arizulmbo@gmail.com).
Foto: Dokumen untuk INTIinspira


