Sehari Bersama Anak-Anak Hebat di SLB-B YPAC: Melihat Dunia dari Sudut yang Berbeda
INTIinspira - Pada hari Sabtu, 22 November 2025, saya bersama teman-teman kampus melaksanakan kunjungan edukatif ke salah satu Sekolah Luar Biasa, yaitu SLB-B YPAC.
Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran di luar kelas yang bertujuan untuk memberikan pemahaman secara langsung mengenai dunia pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan hambatan pendengaran.
Bagi saya pribadi, kunjungan ini bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan meninggalkan jejak emosional yang mendalam.
Sejak awal keberangkatan, saya sudah merasa antusias sekaligus penasaran tentang bagaimana proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari anak-anak di sekolah luar biasa.
Jujur saja, sebelumnya saya memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai pendidikan anak dengan hambatan pendengaran.
Oleh karena itu, kunjungan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk membuka wawasan dan memperluas cara pandang saya terhadap makna pendidikan, empati, dan kemanusiaan.
Setibanya di SLB-B YPAC, kami disambut dengan suasana sekolah yang sederhana namun penuh kehangatan. Tidak ada kesan kaku atau jarak antara kami sebagai tamu dengan warga sekolah.
Senyuman para guru dan siswa langsung menciptakan rasa nyaman. Meskipun komunikasi verbal bukan menjadi sarana utama, interaksi yang terjalin tetap terasa akrab melalui bahasa isyarat, ekspresi wajah, serta gerak tubuh para siswa.
Pada momen ini, saya mulai menyadari bahwa komunikasi tidak selalu harus melalui suara; kehangatan dan ketulusan justru dapat tersampaikan dengan cara yang lebih sederhana namun bermakna.
Selama berada di lingkungan sekolah, saya memperhatikan bagaimana anak-anak beraktivitas dengan penuh semangat.
Saya sempat berinteraksi secara langsung dengan beberapa siswa, meskipun hanya melalui isyarat sederhana dan bantuan dari guru.
Ada perasaan haru ketika melihat antusiasme mereka saat menyambut kehadiran kami. Senyuman tulus, tatapan mata yang ceria, serta gerakan tangan yang penuh ekspresi membuat saya merasa diterima dengan sangat baik.
Interaksi singkat tersebut memberikan kesan mendalam bahwa mereka adalah anak-anak yang ramah, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu.
Dalam kegiatan pembelajaran, saya mengamati secara langsung bagaimana para guru menyampaikan materi kepada siswa.
Metode pengajaran yang digunakan terlihat sangat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, seperti penggunaan bahasa isyarat, media visual yang menarik, serta pendekatan individual.
Para guru menunjukkan kesabaran, ketelatenan, dan kepedulian yang tinggi dalam mendampingi setiap siswa. Saya melihat bagaimana seorang guru dengan sabar mengulang penjelasan hingga siswa benar-benar memahami, tanpa menunjukkan rasa lelah atau jenuh.
Dari sini, saya belajar bahwa menjadi pendidik di sekolah luar biasa bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga tentang memahami kondisi emosional, keterbatasan, serta potensi unik yang dimiliki setiap anak.
Pengalaman yang paling membekas bagi saya adalah ketika melihat semangat belajar para siswa. Meskipun memiliki hambatan pendengaran, mereka tetap menunjukkan motivasi yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran.
Hal ini menyadarkan saya bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang utama untuk berkembang. Justru, dukungan lingkungan, peran guru, serta penerimaan sosial menjadi faktor penting dalam membantu anak-anak berkebutuhan khusus mencapai potensi terbaik mereka.
Kunjungan ini juga membuat saya merefleksikan kembali sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.
Masih banyak stigma dan pandangan kurang tepat yang menganggap mereka sebagai individu yang lemah atau tidak mampu.
Setibanya di SLB-B YPAC, kami disambut dengan suasana sekolah yang sederhana namun penuh kehangatan. Tidak ada kesan kaku atau jarak antara kami sebagai tamu dengan warga sekolah.
Senyuman para guru dan siswa langsung menciptakan rasa nyaman. Meskipun komunikasi verbal bukan menjadi sarana utama, interaksi yang terjalin tetap terasa akrab melalui bahasa isyarat, ekspresi wajah, serta gerak tubuh para siswa.
Pada momen ini, saya mulai menyadari bahwa komunikasi tidak selalu harus melalui suara; kehangatan dan ketulusan justru dapat tersampaikan dengan cara yang lebih sederhana namun bermakna.
Selama berada di lingkungan sekolah, saya memperhatikan bagaimana anak-anak beraktivitas dengan penuh semangat.
Saya sempat berinteraksi secara langsung dengan beberapa siswa, meskipun hanya melalui isyarat sederhana dan bantuan dari guru.
Ada perasaan haru ketika melihat antusiasme mereka saat menyambut kehadiran kami. Senyuman tulus, tatapan mata yang ceria, serta gerakan tangan yang penuh ekspresi membuat saya merasa diterima dengan sangat baik.
Interaksi singkat tersebut memberikan kesan mendalam bahwa mereka adalah anak-anak yang ramah, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu.
Dalam kegiatan pembelajaran, saya mengamati secara langsung bagaimana para guru menyampaikan materi kepada siswa.
Metode pengajaran yang digunakan terlihat sangat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, seperti penggunaan bahasa isyarat, media visual yang menarik, serta pendekatan individual.
Para guru menunjukkan kesabaran, ketelatenan, dan kepedulian yang tinggi dalam mendampingi setiap siswa. Saya melihat bagaimana seorang guru dengan sabar mengulang penjelasan hingga siswa benar-benar memahami, tanpa menunjukkan rasa lelah atau jenuh.
Dari sini, saya belajar bahwa menjadi pendidik di sekolah luar biasa bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga tentang memahami kondisi emosional, keterbatasan, serta potensi unik yang dimiliki setiap anak.
Pengalaman yang paling membekas bagi saya adalah ketika melihat semangat belajar para siswa. Meskipun memiliki hambatan pendengaran, mereka tetap menunjukkan motivasi yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran.
Hal ini menyadarkan saya bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang utama untuk berkembang. Justru, dukungan lingkungan, peran guru, serta penerimaan sosial menjadi faktor penting dalam membantu anak-anak berkebutuhan khusus mencapai potensi terbaik mereka.
Kunjungan ini juga membuat saya merefleksikan kembali sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.
Masih banyak stigma dan pandangan kurang tepat yang menganggap mereka sebagai individu yang lemah atau tidak mampu.
Padahal, anak-anak di SLB-B YPAC membuktikan sebaliknya. Mereka mampu belajar, berinteraksi secara positif, serta menunjukkan berbagai potensi yang luar biasa.
Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai perbedaan dan tidak mudah memberikan penilaian berdasarkan keterbatasan yang tampak.
Secara keseluruhan, kunjungan edukatif ke SLB-B YPAC memberikan pelajaran berharga tentang empati, kesabaran, dan penerimaan.
Saya belajar bahwa melihat dunia tidak selalu harus dari sudut pandang pribadi, melainkan juga dari sudut pandang orang lain yang memiliki kondisi dan pengalaman hidup yang berbeda.
Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai perbedaan dan tidak mudah memberikan penilaian berdasarkan keterbatasan yang tampak.
Secara keseluruhan, kunjungan edukatif ke SLB-B YPAC memberikan pelajaran berharga tentang empati, kesabaran, dan penerimaan.
Saya belajar bahwa melihat dunia tidak selalu harus dari sudut pandang pribadi, melainkan juga dari sudut pandang orang lain yang memiliki kondisi dan pengalaman hidup yang berbeda.
Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai pengingat bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki nilai, martabat, dan potensi yang patut dihargai.
Penulis: Munifa Amalia (Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Foto: Foto bersama setelah pelaksanaan kegiatan senam dan interaksi pembelajaran/Dok untuk INTIinspira
Penulis: Munifa Amalia (Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Foto: Foto bersama setelah pelaksanaan kegiatan senam dan interaksi pembelajaran/Dok untuk INTIinspira


