Clock

Bagaimana Nietzsche Membaca Sejarah?

Oleh: Arizul Suwar*

Ketika membaca ulang buku Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche karya F. Budi Hardiman, saya kembali dibuat terpukau pada beberapa kalimat, di bagian Mengatasi Sejarah (Bab 10 "Ke Perbatasan Modernitas. Filsafat Nietzsche", halaman 258-259). 

Sebenarnya bagian ini telah beberapa kali saya baca, namun baru kali ini, saya menyadari betul kalimat-kalimat tersebut. Hal semacam ini saya kira wajar, karena memang kesadaran itu terus bergerak, sehingga dalam konteks ini--buku yang sama, ketika dibaca disaat yang berbeda, akan memunculkan kesadaran yang berbeda. 

Dalam tulisan ini, akan saya kutipkan kalimat-kalimat yang saya maksud itu, lalu dilanjutkan dengan sedikit analisa reflektif, kemudian diakhiri dengan penutup singkat.

Dalam bukunya, F Budi Hardiman menulis;
"...Studi sejarah yang dilakukan dalam zaman modern mengandaikan bahwa peristiwa-peristiwa masa silam tak mungkin terulang. Karena sudah lewat dan menjadi "fakta sejarah". Demikianlah yang dilakukan oleh aliran sejarah atau historisisme. Penelitian sejarah macam ini memiliki asumsi bahwa ilmu pengetahuan lebih penting daripada kehidupan. Nietzsche membalikkan asumsi itu, kehidupan bukan hanya lebih penting daripada ilmu sejarah, tapi juga memiliki kekuatan yang lebih menentukan daripada pengetahuan kita. ..."

Setelah membaca kalimat-kalimat itu, saya teringat, bahwa memang, selama ini berbagai data sejarah, seringkali saya posisikan tak lebih dari fakta yang telah terjadi dulu. Sesuatu yang telah terjadi di sana, yang tidak ada hubungan yang jelas dengan kedisinian saya. 

Data-data sejarah itu paling banter, kalau istilah umumnya, ambil hikmahnya saja. Apa yang dulu terjadi, jika baik maka ambil. Jika keliru, maka jangan diulangi. Atau data-data sejarah itu diposisikan sebagai pengetahuan belaka, yang hanya sebatas hafalan semata, hafalan yang tidak ada pelajaran hidupnya. Seperti kalimat senior saya; satu-satunya yang kita pelajari dari sejarah adalah kita tidak belajar apa-apa.

Jika mau jujur-jujuran, data sejarah memang hanya sebatas pengetahuan belaka. Banyak koruptor yang sudah ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, tapi masih ada saja koruptor-koruptor baru yang ditangkap. Betapa banyak kisah-kisah "azab" pelaku kejahatan yang telah kita dengar, tapi tak juga menurunkan angka tindak kejahatan.

Itu menunjukkan bahwa tidak ada pelajaran yang diambil di sana. Atau mungkin juga, pelajaran diambil--tapi yang dimaksud adalah cara atau akal-akalan untuk tidak mudah ditangkap oleh penegak hukum.

Hanya ada sedikit orang yang benar-benar mampu, menjadikan data dan fakta sejarah sebagai pelajaran hidupnya. Sejarah menjadi spion baginya dalam mengarungi dinamika kehidupan.

Kita kembali ke kutipan di atas, pengandaian bahwa berbagai peristiwa masa lalu tak mungkin terulang, ia hanya menjadi fakta sejarah. Pengandaian ini memiliki asumsi bahwa ilmu pengetahuan lebih penting daripada kehidupan.

Berbagai peristiwa dalam kehidupan yang telah terjadi, hanya menjadi objek "mati" yang diabdikan untuk pengetahuan. Pada titik ini, Nietzsche tidak setuju, dan dia membalikkan asumsi tersebut.

Bagi Nietzsche, kehidupan bukan hanya lebih penting daripada ilmu sejarah, tapi juga memiliki kekuatan yang lebih menentukan daripada pengetahuan. Bagi Nietzsche, bukannya kehidupan untuk ilmu sejarah, melainkan ilmu sejarahlah untuk kehidupan.

Kita bisa bertanya, apa yang sebenarnya dibidik oleh Nietzsche ketika melihat atau mempelajari sejarah? Saya menemukan bahwa, melalui data sejarah, Nietzsche berhasil melihat denyut nadi kehidupan manusia. 

Ini menarik, alih-alih menjadi objek mati, data sejarah bagi Nietzsche mengungkapkan semangat atau mentalitas hidup yang dihayati oleh manusia. 

Dari data sejarah, Nietzsche mengungkap semangat atau mentalitas hidup yang dihayati pada waktu itu, mentalitas inilah yang kemudian dibedah oleh Nietzsche, dibuka lalu ditemukan, apakah ia kreatif, penuh gairah dah vitalitas terhadap apa pun yang diberikan oleh kehidupan, atau malah loyo bermental kerumunan, cenderung terhadap keragaman, dan sibuk dengan dunia seberang. Bagian ini menjadi lebih jelas jika kita mempelajari filsafat budaya perspektif Nietzsche, namun pembahasan tersebut tidak akan dipaparkan dalam tulisan singkat ini.

Membaca yang tersirat dari yang tersurat. Begitulah kira-kira penutup tulisan ini. Nietzsche berhasil melakukan itu dalam pembacaannya terhadap sejarah. Data sejarah yang terkait dengan pelaku, tempat, sebab, dampak dan lain sebagainya, merupakan penampakan permukaan yang tersurat dan mudah dibaca.

Namun, jika kita mencukupkan pembacaan hanya pada permukaan saja, yang tersurat saja, maka kedalaman yang seringkali di dalamnya terdapat berbagai vitalitas kehidupan, malah tidak terengkuh dan terungkap. Pada titik ini, perlulah kita ingat bahwa; sejarahlah yang harusnya diabdikan untuk kehidupan, bukan sebaliknya. []

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan