Clock

Dunia Pencuri (Bagian 2)

Oleh: Bil Hamdi*

"Hei! Siapa kamu? Kenapa orang-orang mengejarmu?" Tanyanya sembari menggoyang bahu laki-laki itu. 

Diam. 

Ia memukul-mukul pipi laki-laki itu, terasa keras dan tajam, seperti memukul sudut meja. Wajahnya pucat, dan sedikit panas. Namun tak lama laki-laki itu membuka matanya. 

Matanya merah, jauh lebih merah dari orang-orang yang mengejarnya tadi. Ia seperti kucing liar kelaparan. Dengan tersentak lantas ia duduk. Dan mengambil tangan pemuda itu dengan bergetar. 

"Ampuuunnn, ampuuunnn, aku terpaksa mencuri, bang!" 

"Kamu mencuri apa?" 

"Aku mencuri kalung emas, bang. Aku terpaksa, aku terpaksa..." Katanya dengan suara gemetaran.

Pemuda itu lantas memukul laki-laki itu tepat di wajahnya. Tersungkur. Kemudian ditendangnya lagi sekuat tenaga. Ditariknya tangan pencuri itu kemudian memukuli wajahnya. Berkali-kali hingga ia merasa puas. Sampai tangannya sendiri kesakitan karena memukul. 

"Ampuuunnn... Ampuuunnn..!" Pintanya sembari meringis kesakitan. 

"Aku terpaksa, aku terpaksa..." Ucapnya lirih. 

"Maksudmu apa? Hah? Dasar pencuri! Kau pikir aku tidak melarat? Aku baru saja diusir dari kos, hidupku susah, kuliahku berantakan, dan di negeri yang busuk ini, mencari kerja itu sangat sulit, yang bisa kulakukan hanya menjadi budak! Babu! Hidup dan matiku diperas sampai kering, tapi gajiku kecil. Walau begitu, belum pernah aku mencuri!" 

Ia memukuli laki-laki itu lagi. Laki-laki itu tak melawan. Tubuhnya sangat lemah. 

"Bukan! Bukan begitu! Aku kelaparan. Hidup melarat dan tak punya kerja, setiap hari aku hanya merenung, tak melakukan apa-apa. Dan setiap kepalaku sakit, aku mencuri untuk bertahan hidup. Kau sangat naif jika tidak memahamiku." 

Pemuda itupun memukulinya sekali lagi. 

"Lagi pula, aku mencuri dari seorang pencuri." Laki-laki itu berkata sambil meringis.

"Apa maksudmu?"

"Perempuan itu, yang kalungnya aku curi, adalah penjual bakso. Dia mengaku menjual bakso sapi. Tapi, aku tau persis yang dijualnya adalah bakso dari daging tikus. Dia menjualnya dengan murah, makanya banyak orang yang membeli baksonya. Terutama orang-orang miskin yang tidak punya uang. 

Karena itu dia adalah pencuri. Dia mencuri hak orang untuk tahu kebenaran bahwa yang dijualnya adalah bakso tikus!" Jelasnya panjang lebar.

"Walau begitu, tetap saja perbuatanmu tidak bisa dibenarkan!" Bentak si pemuda.

"Tapi, aku tidak menyalahkannya. Dia begitu juga karena terpaksa. Hanya itu caranya bertahan hidup, dia tidak punya uang untuk membuka usaha yang lebih baik. Andai bisa, pasti dia menjual bakso sapi. Tapi lihat, meski baksonya laku, dia hidup melarat. Hanya cukup untuk bertahan hidup saja, sembari memutar modal usaha. Dan yang memasok tikus padanya, aku kenal. 

Dia temanku, dulunya dia cukup pintar di sekolah. Tapi karena tidak ada biaya, ia harus putus sekolah. Sekarang, tak ada yang bisa bisa dia lakukan. Berkali-kali, ia mengajukan proposal beasiswa pada pemerintah, agar bisa melanjutkan sekolahnya. Tapi selalu ditolak. 

Ada banyak keluarga pejabat yang mengantri untuk menerima beasiswa itu. Akhirnya, dia frustasi. Dialah yang memasok tikus pada penjual bakso tadi. Dia sakit hati pada dunia yang korup ini."

Pemuda itu menjadi terdiam. 

"Kejahatan yang kita lakukan, tidak seberapa. Dan kita melakukannya bukan karena sukarela, kita terpaksa. Para koruptor itu, persis seperti tikus. Di depan umum, bergaya seperti Juru Selamat. Tapi sesungguhnya mereka tikus, mungkin lebih hina dari itu, suka mencuri dan rakus. 

Aku pencuri, dan jika tertangkap aku pasti dipukuli. Mereka pencuri uang rakyat, yang jumlahnya milyaran kali lipat, tapi jika tertangkap, hidupnya tetap baik-baik saja, bahkan masih sempat tersenyum seolah tak bersalah. 

Mereka memang tikus, pembawa penyakit, dan penyakit itu bernama keputusasaan, lantaran mereka, rakyat hidup melarat dan kelaparan. Tapi mereka licik, seperti tikus, suka berkelit dan sangat lincah, sehingga walaupun pencuri, mereka tetap dihormati. Merekalah yang menyebabkan aku menjadi pencuri. 

Temanku yang memasok tikus dan penjual bakso tikus itupun sama. Kita hidup dalam lingkaran penderitaan ini. Kalau tidak mencuri, aku akan mati, begitu pula penjual bakso tikus dan temanku itu. Kau memang takkan paham. Pukuli saja aku!" 

Pemuda itu terdiam, sejenak kemudian dia menarik nafas panjang.

"Aku paham, aku paham sekarang." Katanya. 

"Iya, kan? Sukurlah kau mengerti" sahut laki-laki itu. Matanya berbinar-binar. 

"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tidak melakukannya. Aku juga harus melanjutkan sekolahku. Untuk itu, maafkan aku jika aku merampokmu. Aku terpaksa, kawan. Ya, akupun terpaksa!" 

Sekali lagi, anak muda itu memukulinya dan merampas paksa kalung yang sedari tadi digenggam laki-laki itu. 

"Maafkan aku!" Katanya.

Segera dia berlari sekencang-kencangnya. Sekarang, dia adalah pencuri. Seperti mendapat pencerahan, dia merasakan suatu pengalaman yang mendalam. Pikirannya terang benderang. Dalam dunia pencuri, tak ada yang bisa dilakukan kecuali menjadi pencuri. 

Dia adalah pencuri yang rela juga kalau dicuri, karena memang ini dunia curi-mencuri. Beberapa saat kemudian, dia sudah menghilang di persimpangan. 

Laki-laki pencuri itu hanya bisa menerima keadaan, babak belur sudah jiwa raganya, begitulah kehidupan berjalan, curi-mencuri tak sudah-sudah, ia pun segera berdiri dan berniat mencari mangsa lainnya. []

* Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra, Jakarta 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan