Clock

Dunia Pencuri (Bagian 1)

 
Oleh: Bil Hamdi*

Anak muda itu sedang duduk di depan kosannya, atau sekarang bisa disebut mantan kosannya. Beberapa waktu sebelumnya, ia diusir oleh pemilik kos lantaran sudah dua bulan tidak membayar kos.

Barang-barangnya sudah ia keluarkan semuanya. Di tangannya, sebatang rokok sedang menyala dan hampir habis dimakan angin, sebab setelah dua hisapan, ia tak lagi menikmati rokok itu. Pikirannya melayang. 

"Apa yang harus kulakukan?"
"Kemana aku harus pergi?" 

Dua jam hampir berlalu, ia masih mengawang di alam pikirannya. Sebenarnya, bukan tak tahu dan tak punya tujuan, lebih tepatnya ia tak punya uang. Seribu perak pun tak punya. Pikirannya hampir meledak. 

Suara di kepalanya mulai bising. Ia seperti mendengar suara teriakan kencang, lalu ia pun memejamkan mata. Namun, ia mulai merasa teriakan itu bukan berasal dari pikirannya. Setelah dicermati lagi, suara itu berasal dari arah jalan raya. Sejurus kemudian, seorang laki-laki tampak dengan tergesa-gesa berlari melewati kos.  

Tak lama berselang, segerombolan orang datang dengan penuh amarah. Diperhatikannya mata gerombolan itu seperti serigala hendak menerkam mangsanya. Mata yang sama seperti pemilik kos yang beberapa waktu lalu mengusirnya. Suaranya juga, persis sekeras bentakan pemilik kos yang dengan kata-kata kasar mencaci-maki dirinya. 

Padahal, ia sudah bersusah payah bersikap ramah dan menjaga sopan santunnya. Di sepanjang kosan, sepertinya hanya dirinya yang setiap hari membaca Al-Qur'an. Ia tak pernah ketinggalan salat lima waktu. 

Sebagai mahasiswa, ia juga sangat semangat dalam belajar. Setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, ia sempatkan untuk menyapa tetangga dan pemilik kos. Tak lupa ia selalu tersenyum. Namun, itu semua bukan penukar uang. Yang berkaitan dengan uang, tetap saja dibayar uang. Tak bisa dibayar sopan santun. 

"MAS!"

Dulu, pernah juga kejadian ia menunggak bayar kosan. Akhirnya, ia memutuskan untuk bekerja. Namun, mencari pekerjaan di negeri ini bukan main susahnya. Apalagi buat orang sepertinya yang hanya bermodal ijazah SMA dan KTP, orangtuanya juga bukan siapa-siapa. 

Relasinya paling hanya dengan pak Suparno, mas Soleh dan mbah Wati, juga bukan siapa-siapa. Mereka hanya tetangga yang kebetulan memiliki profesi yang sama dengan orangtuanya, petani. 

"MAS!"

Satu-satunya peluang yang terbuka baginya adalah menjadi buruh. Dan menjadi buruh artinya bekerja dengan waktu yang ditetapkan, dan pekerjaan yang tidak ringan. Oleh karena itu, untuk gaji yang tak seberapa, ia harus mengorbankan 8-10 jam waktunya. Serta harus menyetok koyo cabe dan berbagai jenis minyak angin demi meringankan sakit-sakit di sekujur tubuhnya sehabis kerja. 

Tentu saja, pekerjaan seperti ini tak bisa dilakukan sambil kuliah. Ia pun ambil cuti, dan tak kuliah selama dua tahun. Awalnya ia pikir bisa menabung, agar nanti setelah berhenti bekerja, tabungannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya membayar kosan dan makan, semacam kebebasan finansial yang terbatas, ya, terbatas untuk hidup seadanya di kosan 3x6 tanpa kamar dan satu toilet berkarat yang airnya bau comberan itu. Yang penting, pikirnya waktu itu, ia bisa kuliah tanpa perlu memikirkan uang kos dan makan. 

"MAS!"

Tetapi, setelah setahun berlalu, ia merasa yang ia dapat hanya lelah dan tubuh yang makin lemah. Mukanya pun tampak lebih tua dari umurnya. Ia tak lantas patah semangat, dilanjutkannya bekerja hingga genap dua tahun. 

Selama itu, Ia terus mengumpulkan tabungan demi cita-cita mulia yang diharapkannya. Setelah ia periksa tabungannya selama masa itu, ternyata tak sesuai yang ia harapkan. 

Ia pun mengutuki dirinya, betapa bodohnya, berharap pada gaji rendah yang ia dapatkan dari pabrik gila yang mengeksploitasi manusia-manusia bodoh lainnya. 

Namun, bodohkah ia? Atau keadaanlah yang menyebabkan itu semua? Di negeri antah berantah ini, ia makin tak mengerti, bagaimana sebenarnya kehidupan itu berjalan. 

"MAS!"

Setelah berhenti bekerja, ia mencoba kembali fokus pada kuliah. Namun uang tabungannya, habis setelah tiga bulan, dan setelah dua bulan menunggak, beginilah nasibnya sekarang. 

Ia terusir. Dan tak mengerti lagi, apa yang harus dilakukannya. Apakah harus membuang jauh-jauh niatnya menjadi sarjana, tapi hatinya sangat berat melakukan itu. 

Apakah ia harus bekerja lagi, namun kuliahnya tetap saja takkan bisa selesai. Apa yang harus dilakukannya? Pulang ke kampung alangkah malunya setelah dulu sebelum berangkat di rumahnya diadakan acara syukuran demi mendoakan kesuksesannya. Tapi, kenyataannya terlalu pahit. Sepertinya, Tuhan tak mengabulkan doa-doa tetangga-tetangganya itu. 

Apakah karena mereka orang miskin? Sebab, dilihatnya orang-orang kaya seperti lebih dekat dengan Tuhan, meski sebagian mereka sangat pelit dan suka bermaksiat, bahkan mereka tidak berdoa. Tapi, mereka mendapatkan apa yang didoakan dan diharapkan orang miskin sambil bertangis-tangisan. 

"MAS!"

Segera ia merasa sakit hati pada hidup. Benci pada dunia dan mulai mengutuki semua hal yang menimpa hidupnya yang malang. Kepalanya sakit. Suara-suara mulai muncul di kepalanya. Pikiran dan hatinya sangat sakit. Ia mulai berpikir untuk hidup dengan cara yang berbeda. 

Ia bertekad menghancurkan hidupnya sendiri, tak ingin lagi menaati apapun. Ia akan jadi manusia bebas. Tentu saja, bebas sebisanya. Ia akan melanjutkan kuliah, ia akan membiayai kuliahnya dengan mencuri. Ya, ia akan menghalalkan segala cara. Toh hidup ini tak punya arti apa-apa selain derita baginya. 

"MAS!" 

Ia terkejut setelah merasakan tepukan di bahunya. Seseorang memanggilnya. Dan ia tersadar dari lamunannya. Lalu ia menoleh ke sekitar, rupanya sudah banyak orang mengelilinginya. Mereka orang bermata merah mirip serigala tadi. Nafas mereka memburu. Tampaknya mereka geram sekali. 

"MAS! Tadi ada ngeliat orang lari lewat sini, nngak?" Tanya salah-seorang di antara serigala itu. 

"Enggak. Saya enggak lihat, pak." Katanya reflek. Ia tak mengerti kenapa ia berkata begitu, padahal tadi jelas sekali ia melihat seseorang berlari lewat di depan kosnya. Tapi, segera setelah itu ia ingat bahwa itu tak penting. 

Toh ia ingin hidup sesukanya. Tak masalah baginya jika ia berbohong. Apa pedulinya menjawab pertanyaan orang-orang itu. Mata mereka masih menyala merah saat mereka bubar. Dan hatinya lega. 

Ia segera menyusul laki-laki yang tadi berlari di depan kosnya. Ia tahu persis orang itu bersembunyi di balik semak-semak gelap di seberang jalan. Sinar lampu memendari daun-daun dan ilalang. Dan anak muda mencari-cari laki-laki itu dalam remang. 

Ia kaget bukan main menyaksikan sepotong manusia tergeletak hampir tak berdaya. Badannya kurus kering. Dan badannya keriput, seperti disedot saripati hidupnya. Bajunya hitam, rambutnya berantakan, tubuhnya kurus kering dan berkerut. 

Bersambung...

* Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra, Jakarta.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan