Clock

Semangkuk Harapan Dari Negeri Pada Santri

Oleh: Sarah Ulfah*

"Balai" mereka menyematkan namanya. Untuk sebuah bangunan sederhana yang hanya bersusunan kayu demi kayu. Sesuai estimasi kebanyakan orang, tempat itu bisa dikatakan sebagai suaka para santri, dari kejahatan dunia luar yang sangat mengancam kefitrahan moral remaja sekarang. 

Betapa beruntungnya mereka karena telah dipilih Tuhan sebagai yang mendapat hidayah, peluang dan kesempatan sehingga dapat menapakkan kaki di tempat yang semulia itu. Yang katanya, tempat ternaungnya sayap para malaikat.

Jika seantero penghuni dunia luar memilih memulai pagi mereka dengan menghadapi hiruk pikuk jalan raya, para santri disana lebih memilih bersua dengan lembaran-lembaran kuning turast yang berisi bait bait ilmu. Menyelami lautan ilmu yang luasnya bak samudera tiada bertepi. Dan mencicipi lezatnya petuah-petuah yang diberikan sang gurunda untuk energi bagi hati. 

Petuah yang terangkai dari untaian kata yang begitu mendidik dan menguatkan. Petuah yang bukan hanya sekedar basa-basi sang gurunda untuk menghabiskan waktu sembari menunggu dentingan lonceng harisah, tetapi  petuah yang tulus adanya, yang berasal dari kefitrahan lidah dan hati sang gurunda.

Di sana, di ma’had itu para santri tidak hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka juga berjuang untuk orang tua, agama, dan juga negaranya. Tekad mereka hanya ingin menciptakan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentang apa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Di sana mereka tidak hanya diajarkan gurunda mengenai kemajemukan hukum syariah, melainkan ada hal yang jauh lebih penting yang diajarkan gurunda kepada mereka. Yaitu tentang bagaimana membingkai dan mencetak kepribadian masing-masing individu dengan pigura akhlaqul karimah. 

Di sana mereka juga diajarkan mengenai  esensi hamba yang sebenarnya, dan bagaimana memaknai sejatinya kehidupan. Terkadang mereka dipukul oleh ratapan-ratapan dan nostalgia masa lalu yang begitu membobrokkan diri. Dan terkadang,  juga timbul sebercak keinginan untuk membenah diri, umat dan negeri.

Tidak jarang mereka merasakan kepahitan perjuangan yang begitu getir. Di setiap kali butiran peluh menari-nari di sekujur tubuh mereka, dan disetiap kali teriknya hawa arizona menyengat kulit mereka, mereka yakin semuanya akan berhujung manis. Kata sang guru, nirwana menanti mereka. Mereka percaya itu.

Sesekali mereka menyibak helaian tirai usang dari balik sebuah jendela asrama, dan mengangkat wajah demi memandang luasnya langit biru. Berharap langit menceritakan kabar negeri yang sudah lama tak mereka sapa. Warna langit yang sedikit mengusam, seakan ikut merasakan apa yang dirasakan negeri saat ini. 

Ya, negeri yang saat ini nasib nya begitu menyedihkan. Bagaimana tidak, saat ini medan politik telah dijadikan panggung sandiwara para politikus. Antar sesama ummat sering terjadi sawala yang tak sejalan sehingga berimbas pada terpecah belahnya kesatuan umat. Dan hal yang lebih menyedihkan lagi yaitu negeri ini tidak lagi dipimpin oleh orang-orang yang punya cahaya iman.

Di penghujung abad ini juga banyak ditemukan pemimpin pemimpin yang hanya memanfaatkan tahta untuk meraup keuntungan pribadi nya saja. Mereka dibutakan harta dan tahta. Mereka tertipu dengan keindahan dunia yang hanya ilusi semata. 

Mereka haus akan nirwana dunia sehingga mereka lupa akan nirwana yang sebenarnya ada di negeri akhirat. Tapi apa? Sadarkah mereka? mereka itu satria paningit negeri yang seharusnya mengayomi umat, bukan membebani umat. Mereka telah kalah dalam mengimperialisme hawa nafsu mereka sendiri. Mereka terjebak dan terbawa arus. Mereka tersesat pada jenggala rimba tanpa tahu jalan keluar. 

Setelah itu apa? Mereka hanya memasabodohkan nasib umat jelata ini. Penyebabnya apa? itu semua karena kepemimpinan mereka tidak didasari iman dan ilmu agama. Sekarang tindakan tindakan penistaan agama sudah merajalela, sebagaimana berita-berita yang viral di media informasi dewasa ini. Al-Qur’an di rendahkan, syariat di permainkan, ulama-ulama islam di lecehkan, bahkan sejarah-sejarah islam pun telah dijadikan bahan humor para komedian. Kian tidak jelas saja perilaku umat masa kini.

Para remaja pun demikian hal nya. Mereka yang seharusnya menjadi penghalau para bedebah di negeri ini, tetapi mereka sendiri yang berperan sebagai bedebah negeri. Bagaimana tidak, perzinaan bukan lagi dosa besar bagi mereka. 

Pacaran dan berkhulwah dengan perempuan sudah menjadi hal yang wajib bagi mereka. Gaya hidup sekularisme juga sudah lumrah di kalangan mereka.  Seperti inikah moral para remaja yang diharapkan negeri untuk melanjutkan tonggak kepemimpinan di episode selanjutnya?. Lalu, siapa yang bisa mengubah nasib malangnya negeri, jika bukan ummat negeri itu sendiri yang berusaha mengubahnya.

Akankah kisah negeri selalu seperti ini sampai habis usia? Wahai negeri, kepada siapa lagi engkau bisa berharap? para penerusmu tidak sedikitpun memikirkan nasibmu. Mereka malah mengacuhkan diri atas bobroknya moralitas dan agama. 

Mereka seharusnya hadir dan ikut berjuang demi memperbaiki citra bangsa yang sudah tidak karuan ini. Tapi, dengan terserangnya kehancuran moral pada diri mereka, mereka tidak layak menjadi pejuang di kemudian hari.

Tapi wahai negeri, disana masih ada semangkuk harapan pada para pemuda dan pemudi yang masih berjuang meniti jembatan ilmu di setiap sudut bumi. Masih ada semangkuk harapan lagi pada jiwa-jiwa yang tengah sibuk mendidik hati. 

Masih ada semangkuk harapan lagi pada mereka yang mempunyai tekad untuk menyucikan tirani kekuasaan yang telah dipenuhi oleh nepotisme dengan siraman cairan kejujuran. Masih ada semangkuk harapan lagi pada para penjihad yang berniat membersihkan noda-noda pada baju pemerintahan dengan celupan syariat yang sesuai dengan konteks Islam.

Bukan pada mereka yang senang menjadikan tawuran sebagai sarana untuk mengekspos kejantanan diri pada khalayak ramai.  Bukan pada mereka yang menjadikan pacaran sebagai adat yang tak bisa ditinggalkan. 

Bukan pada mereka yang gaya hidupnya hanya untuk berfoya-foya sembari menikmati harta dan perempuan. Bukan pada mereka yang mulutnya mengaku islam, padahal hatinya penuh dengan kemunafikan.

Melihat nasib negeri yang begitu menyedihkan, mereka para santri tak menjadikan hal ini sebagai sandungan untuk berhenti meniti jembatan ilmu. Tapi, mereka menjadikannya sebagai batu loncatan untuk tetap berjuang demi membenah ummat dan negeri. Semakin hari giat belajar mereka semakin terpupuk. 

Benih-benih untuk membela agama sudah mulai tersemai di hati mereka. Hanya pada mereka negeri dapat berharap agar terus berjuang meniti jembatan ilmu demi menjadi pemimpin negeri di episode selanjutnya. 

Menuntun dan meluruskan umat-umat negeri yang sudah terlanjur salah memilih jalan untuk hidup dengan berbekal ilmu agama, mewariskan serangkaian paradigma islami yang masih sesuai dengan tuntunan zaman dalam mengatur negeri, berkiprah di segala biang dan menciptakan inspirasi serta inovasi untuk membangun kualitas bangsa dibawah naungan syariat-syariat islam. Ya, tetap dengan naungan syariat islam sebagai sisi sandarannya. Karena sebuah negeri akan makmur dan damai jika tetap pada salah satu sisi agamanya.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan