Clock

Membicarakan Politik itu Mengasyikkan, Katanya


Oleh: Arizul Suwar*

Membicarakan Politik itu Mengasyikkan, Katanya.

Membicarakan tokoh-tokoh politik itu menarik, demikian makna kalimat yang aku pahami dari beberapa teman ngobrol. Apalagi ini musim politik, tak lama lagi, Pemilu, yang disebut-sebut sebagai aktualisasi demokrasi akan diselenggarakan. 

Khususnya kandidat presiden, menjadi pembahasan hangat, mulai dari topik utama di berita-berita televisi sampai ke warkop-warkop kecil di persimpangan desa. Sungguh menarik membicarakannya, demikian gelagat yang terkesan ketika mereka bercerita. 

Waktu berlalu tiga jam, terasa hanya sebentar jika dunia perpolitikan menjadi tema pembicaraan. Kandidat ini begini, sedangkan yang satunya lagi begitu. Jika yang ini menang maka akan begini, jika yang itu menang maka akan seperti itu. 

Analisis--kalaupun bisa disebut demikian--cukup kompleks, lebih cakap daripada komentator bola dalam bahasa asing, yang tidak dimengerti oleh penonton. Meracau dan merayau ke sana ke mari, bahkan ada yang meninggikan suaranya agar para jamaah warkop mendengarkan analisanya yang tajam, setajam SILET, sebuah acara gosip tahun dua ribuan dulu. 

Entahlah aku tidak mengerti. Ya, biarkan saja, toh itu menyenangkan bagi mereka, selama tidak merusak rumah tetangga atau membangunkan bayi yang baru beranjak tidur dengan tembang do da idi, do da idang, seulayang blang kaputoh taloe. 

Selama tidak menimbulkan kerugian yang nyata maka kesenangan setiap orang mestilah ditolerir, toh setiap kita punya kesenangan masing-masing yang seringkali berbeda.

Dunia Politik dan Upin & Ipin

Aku jarang menonton berita tentang dunia perpolitikan, Upin & Ipin dan kawan-kawan lebih menyenangkan, walau hampir setiap hari, episode yang sama ditampilkan. Aku tidak tau, apakah tidak ada episode lain atau bagaimana, nampaknya perlu penelitian lebih jauh. 

Sudah tua kok masih nonton kartun? Ledek seorang tetangga. Aku tidak menjawabnya, mungkin memang tidak perlu jawaban. Aku tahu Upin & Ipin itu hanyalah serial animasi, siapa pula yang bilang riil? Namun demikian, walaupun animasi, tidak ada topeng di sana, yang ada adalah kepolosan dan kegembiraan. Bukan berarti sama sekali tidak ada kesedihan, tapi yang mendominasi ialah kegembiraan dan keceriaan. 

Beda halnya dengan dunia perpolitikan, topeng dan post-truth banyak di sana. Tidak semua memang, tapi aromanya sangat menyengat. Memang, sebagaimana pernah disampaikan oleh Mahfud MD dalam sebuah kuliahnya, tidak ada kawan abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan. 

Makin jelaslah, Upin & Ipin selamanya. Banyak drama dalam perpolitikan, mungkin ini tidak kasat mata terlihat, sehingga wajar saja kalau ada jamaah warkop yang rela adu mulut menyumbangkan komentarnya. 

Namun, melampaui itu semua, tulisan ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk golput, sama sekali tidak. Malahan, aku berharap agar kita semua ikut berpartisipasi memberikan hak pilih pada saat pemilu nanti. 

Tulisan ini juga tidak bertendensi untuk menuduh dunia perpolitikan semuanya buruk, tidak senaif itu. Motif awal tulisan ini ialah mengajak pembaca untuk sedikit banyak mempertanyakan kembali berbagai pemahaman tentang dunia politik yang seakan-akan sudah baku dalam konsep-konsep yang bersarang di pikiran kita. 

Kesenangan adalah hak setiap orang, demikian juga dengan mode ekspresi yang ditunjukkannya, dengan batas-batas etis baik tersurat melalui moral maupun tersirat dalam suara hati kemanusiaan. 

Akan tetapi, pertanyaan yang penting ialah, seberapa jauh manfaat praktis dari kesenangan tersebut bagi kehidupan yang dijalani sehari-hari? Serial Upin & Ipin--sebagaimana perbandingan dengan berita-berita tentang dunia perpolitikan--menunjukkan bahwa, banyak sumber daya di sekitar kita yang dapat dimanfaatkan dan berdayaguna. 

Dari mulai barang-barang yang sudah tidak terpakai, sampai lidi dan daun kelapa dapat dirubah menjadi sesuatu yang bernilai jika kita memiliki kreativitas. 

Hal serupa tentu tidak ada dalam berita perpolitikan, alih-alih mengajak meningkatkan kreativitas, kita diseretnya untuk sibuk dengan sesuatu yang jauh dari keseharian dan kedisinian kita. 

Penutup 

Kembali lagi, kesenangan itu berbeda-beda, tapi adalah sebuah kebutuhan untuk mempertanyakan nilai dari kesenangan tersebut. Apakah ia membawa manfaat bagi hidup keseharian dan kedisinian kita, ataupun tak lebih hanya sekadar--seperti emak-emak yang beranggapan bahwa sinetron di TV adalah kejadian sesungguhnya--sehingga mereka berlagak seolah-olah sutradara, yang memerintahkan istri si pemeran utama agar segera menampar calon pelakor, yang menurut cuplikan episode selanjutnya akan merebut suami sahnya. []

* Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Agama Islam 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan