Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Disabilitas di Indonesia



Oleh: Dahri*

Mungkin pendidikan disabilitas agak asing rasanya bagi kita khususnya di Aceh, ini dikarenakan perguruan tinggi yang memiliki program studi terkait pendidikan disabilitas baru di satu universitas saja, Universitas Mahakarya Bireuen. 

Itupun masih banyak yang belum mengetahui keberadaan kampus ini, karena yang selama ini yang bersosialisasi ke sekolah-sekolah ialah universitas-universitas yang ternama seperti Unsyiah, UIN Ar-Raniry, STAIN Meulaboh, UTU, dan universitas lainnya yang terkenal di Aceh. 

Sementara universitas ini masih dalam pertanyaan, kenapa masih banyak orang yang belum mengetahui hal ini atau karena kurangnya sosialisasi ke sekolah-sekolah atau bagaimana? Atau karena tidak adanya minat para pelajar untuk menggali ilmu di sini? atau kenapa? 

Menurut hemat saya. Pertama, kurangnya sosialisasi dari pihak kampus. Kedua, kurangnya minat dari pelajar SMA atau MA, sehingga menutup kemungkinan, ketika tidak mengenal, maka—akan sulit untuk bisa menerimanya, padahal prospek pendidikan luar biasa ini sangat menjanjikan bagi peminatnya. 

Pertama, tenaga pendidik yang masih kurang sehingga sangat mudah untuk melamar menjadi guru ke sekolah luar biasa. Kedua, tingginya kebutuhan calon PPPK di setiap tahunnya untuk guru pendidikan luar biasa (PLB).

Menurut data di lapangan, sekolah disablitas hampir setiap kota atau kabupaten bahkan kecamatan sudah banyak sekolah-sekolah ini beredar, mengingat banyak sekali anak-anak disablitas yang membutuhkan pendidikan dan tempat bermain. 

Sehingga untuk menutupi kebutuhan guru pendidikan luar biasa, maka harus direkrut guru umum, yang tidak linear keilmuannya. Maka apa yang terjadi, guru harus belajar kembali, dan beradaptasi dengan susuatu yang selama ini tidak pernah terpikir dan terbayangkan untuk bisa berbagi ilmu kepada para murid luar biasa itu.

Pendidikan disabilitas atau pendidikan inklusi, adalah pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dan individu dengan disabilitas. Disabilitas dapat mencakup berbagai kondisi, seperti disabilitas fisik, intelektual, sensorik, perkembangan, emosional, atau kesehatan mental. 

Tujuan dari pendidikan disabilitas adalah memberikan kesempatan pendidikan yang setara untuk semua individu, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Keasingan nama pendidikan disablitas bagi kita mungkin sudah tercatat dalam Kemendikbud, karena kurangnya universitas lokal untuk menampung para pelajar untuk bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi. 

Mungkin saya yang kurang mendalami hal ini, tapi menurut saya, pemerintah juga harus jeli melihat kebutuhan pasar dalam menilik sesuatu yang di butuhkan, mengingat perkembangan sekolah-sekolah inklusi semakin pesat dan peserta didik yang semakin banyak. Pastinya ketika peserta didik semakin banyak, otomatis kebutuhan tenaga pendidik juga harus semakin banyak. 

Caranya bagaimana ya, kita harus menyiapkan, sumber daya manusia kita. Inilah perlunya bagi kita perguruan tinggi, karena selama ini, guru-guru yang ada di sekolah disablitas mereka harus merekrut guru umum, untuk menutupi kekosongan tenaga pengajar. 

Karena perguruan tinggi pendidikan luar biasa yang ada di indonesia yang sering kita dengar ialah di padang, di Bandung dan ada beberapa lagi perguruan tinggi lainnya.

Demi menutupi kekosongan tersebut, maka akan di hadirkan guru umum, artinya guru yang tiada keahlian ilmu di bidang tersebut, sehingga guru tersebut harus beradaptasi kembali untuk memahami anak ini, baik dari cara menangani, cara mengajar bahkan sampai cara kita berdaptasi dengan mereka. 

Mungkin dari beberapa cara ini, belum pernah kita dapatkan cara belajar seperti ini, baik kalau dia guru kelas, yang sudah lumayan memehami anak kecil, atau guru psikologi, yang paham dengan karakter anak. Tapi ketika selain guru ini, saya rasa memang jauh dari memahami anak-anak. 

Kenapa saya mengatakan anak, karena cara mengajar mereka kebanyakan sperti anak TK, yang lebih banyak mainnya dari pada belajarnya. Bukan hanya itu, sampai untuk membersihkan pup nya juga harus kita ajari, karena dengan kabutuhan masing-masing yang mereka miliki.

Sehingga kejadian di lapangan, banyak guru umum yang tidak sanggup menangani anak-anak ini, karena karekteristik anak yang beragam bervariasi, yang berbeda dengan anak umum, anak umum ketika kita arahkan mungkin satu dua kali sudah bisa memahami, sementara anak disabilitas—cara belajar yang harus kita ulang-ulang berkali-kali, bahkan itupun masih belum paham juga, bayangkan—anak yang sudah dewasa masih belum bisa mengenal huruf, bahkan ada yang masih belum bisa menggerakan pensil yang sering di sebut dengan motorik kasar dan halus. 

Di sinilah kita akan di tuntut untuk belajar dengan kesabaran, dengan gaya mengajar seperti anak TK. Memang tidak semua peserta didik seperti ini, seperti anak tunagrahita ringan, anak tunarungu bahkan juga termasuk anak tunanetra. 

Kebanyakan dari mereka ini, mudah kita memberikan pemahaman. Yang selain ini, seperti anak downsyndrom yang biasa disebut dengan muka seribu, anak tunagrahita berat, autis, tunadaksa, hyperaktif. Kebanyak dari mereka seorang pendidik memang harus memberikan perhatian penuh kepada mereka.

Maka dari itu, perlunya keahlian kusus untuk menghadapi anak disablitas atau kelenieran keilmuan untuk mereka, karena kelinieran keilmuan itu sangat mempengaruhi tehadap mutu pendidikan tentunya. 

Saya merekomendasi ketika ada yang mau jadi guru pegawai negeri, saya rasa pendidikan ini lebih cocok untuk pelajar kita, mengingat penerimaan pegawai negeri di setiap tahunnya sangat banyak untuk di terima, mengingat jurusan keguruan yang masih sangat banyak dilema, ada sebagian yang masih pengangguran ada yang sudah sampai tua belum jadi pegawai negeri dan banyak hal lain. 

Berbeda dengan jurusan PLB yang masih banyak membuka peluang menjadi PPPK, dan yang paling kecil mudah di terima sekolah luar biasa yang akan kita tuju untuk melamar mengajar.[]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan