Clock

Identitas Tidak Mencerminkan Kualitas

 


Oleh: Maysarah*

 Banyak manusia yang kerap kali membanggakan identitas diri pada orang lain. Baik identitasnya sebagai orang paling baik, paling pintar atau paling lebih dalam segala hal dari orang lain. Misalnya dalam beberapa contoh, sebagian orang-orang merasa bangga jika dia lulusan pondok pesantren yang terkenal dan sudah lama mondok. Gaya bahasanya ketika berbicara seolah-olah dialah yang paling paham ilmu agama dan paling tinggi level mengajinya. Bahkan yang lebih parahnya mengganggap orang selain dirinyanya itu dengan pandangan rendah, tidak pandai, dan tidak sehebat dirinya. Selain itu perasaan dan sikap tidak bisa menerima orang lain sekaligus tidak mau mengakui kelebihan yang orang lain miliki termasuk dari sifat mazmumah hati. Di karena ia sudah merasa bangga dengan kasta kesholehan yang tinggi. Hal tersebut tanpa disadari sangat menunjukkan kualtitasnya berada di tinggkat rendah. Karena masih ada sifat meremehkan orang lain bahkan merendahkan orang lain secara membatin atau secara interaksi sosial. Sifat merasa diri hebat tidaklah menujukkan bahwa dia hebat secara sosial meskipun secara spiritual ia mengaku paling taat. Memang kualitas manusia itu tidak dapat dinilai dan dilihat secara kasat mata, namun bisa dirasakan dengan hati nurani. Dalam sebuah ungkapan tasawuf yang pernah penulis baca terdapat sebuah ungkapan "tanda lemahnya akal seseorang yaitu ketika ia merasa lebih haik dari orang lain". Hal itu jarang di sadari karena orang-orang tersebut merasa memiliki lebel lulusan pesantren ternama, lulusan pesantren terbaik di suatu daerah atau kota tertentu. Yang lebih mengerikan lagi, orang yang merasa dirinya berilmu lebih dari orang lain kerap kali berprasangka buruk pada orang lain, yang tidak sama aliran dengan nya maka salah dan lebih baik tidak perlu berteman dan kalau bisa diperangi saja walau itu belum jelas dimana letak kesalahannya. Bahkan hanya karna masalah ibadah qunut dan qunut saja sudah berpandangan orang lain salah besar. Begitu parahnya kualitas yang di tunjukkan ketika memiliki dan memelihara sifat yang seperti itu. Bukankah Rasulullah sudah mencontohkan arti sebuah toleransi, dengan Yahudi dn Nasrani saja Rasulullah sangat menghargai dan melindungi apalagi jiwa jiwa muslim yang mengakui Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jikalah ada perbedaan-perbedaaan tidak perlu disikapi dengan ekstrim. Hal itu karena hanya akan memunculkan perselisihan, prasangka buruk dan kebencian. Padahal perbedaan tersebut belum ditelusuri dalil dalilnya namun langsung dikomentari dengan sangat mengerikan. Oleh karena itu perlu adanya sikap pengendalian diri yang kuat agar tidak menyakiti hati sesama manusia. Apalagi orang tersebut tidak seberentung ia dapat mengenyam banyak pendidikan. Sikap dmmengontrol diri dari berprasangka buruk pada orang lain harus ditanamkan oleh setiap jiwa. Dan tidak bosan untuk terus memperbaiki hati yang masih membanggakan identitas namun lemah secara kualitas.

Selain hal di atas, masih banyak persoalan lain terjadi ditengah tengah masyarakat yaitu identitas. Sebagian orang-orang yang memiliki gelar tinggi pada akademik merasa lebih baik,lebih terhormat dan harus disegani oleh orang lain. Sebagian mereka terkadang merasa yang tidak berpendidikan formal itu rendah levelnya. Belajar dan mengenyam pendidikan tinggi itu adalah sebuah anugrah. Namun bukan berarti mereka itu lebih baik dari orang yang tidak merasakan pendidikan tinggi. Bukan berarti semua akademisi lebih baik dari semua sisi dari pada tukang sapu jalanan, tukang bangunan, tukang masak, petani, penjual ikan dan lain sebagainya. Secara akademisi dan teori mungkin sangat beruntung bagi orang-orang yang mengenyam pendidikan baik s1 hingga s3, namun identitas itu tidak menentukan kualitas akhlak dan sosialnya juga bagus. Menyedihkan ketika melihat sebagian orang orang akademisi tidak peka terhadap lingkungan, tidak peduli terhadap kemiskinan dan acuh tak acuh pada sosial dan hanya memikirkan diri sendiri. Perasan - perasaan seperti itulah membuat negara dan bangsa tidak maju secara kualitas. Penulis tidak mempermasalahkan identitas orang orang alim atau akademisi, namun sedikit merefleksi terhadap akhlak dan perilaku yang seharusnya dan sepetutnya kita sadari. Bahwa kualitas seseorang itu bukan karena ia lulusan mana atau berasal dari keluarga yang seperti apa, namun kualitas seseorang itu dapat tercermin dari sifat rendah hatinya, tidak membanggakan diri, saling tolong menolong, saling mengasihi, saling toleransi, sehingga hal hal kecil seperti itu menunjukkan kualitas seseorang itu tinggi. 

Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah. Dan tidak ada penilaian yang lebih baik selain penilaian Allah yaitu orang yang beriman dan bertakwa dan beramal shaleh dan senantiasa menyucikan hatinya. []

* Mahasiswa Prodi Bahasa Arab (PBA) Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh 


Baca artikel menarik lainnya di Buletin  INTIinspira

Download secara gratis melalui link berikut





Link 1





Link 2



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Artikel Relevan